MY-ers Articles : Noise pada DSLR, By : Frans Gunterus

Teman saya (sebut saja namanya Abdi / bukan nama sebenarnya) belum lama membeli Camera Canon EOS 600 D yang tergolong ‘DSLR entry level’. Abdi belajar fotografi DSLR melalui berbagai sumber termasuk membaca tulisan-tulisan tip dan trik yang saya kirim kepadanya. Abdi tinggal di kota Medan dan ketika jatuh hari perayaan Cap Go Meh 2013, kami berdua pergi untuk ‘foto hunting’ ke beberapa Vihara di kota Medan.

Abdi banyak bertanya kepada saya dan memberikan seluruh hasil fotonya dan meminta saya untuk memberikan komentar. Salah satu pertanyaannya adalah hakekat perbedaan DSLR entry level dengan DSLR yang lebih canggih (mahal). Di bawah ini adalah penjelasan saya atas pertanyaannya yang sekaligus saya ‘sharingkan’ bagi pembaca tip dan trik yang lain.

Rekan Abdi, kamera sederhana tidak harus membatasi kreasi Anda karena bagus tidaknya suatu foto tidak melulu ditentukan oleh kecanggihan kamera. Kata Arbain Rambey foto yang baik tergantung pada teknikposisi,komposisimomen, dan rasa. 

Ketiga foto yang Anda ambil di Kelenteng Tao Gunung Timur di Jalan Hang Tuah 16, Medan itu layak menjadi contoh untuk menjelaskan hal tersebut. Ketiga foto itu menjadi enak dilihat bukan karena gadisnya cantik, (bagi saya) karena Anda cukup memenuhi kelima unsur tadi. Secara teknis, Anda sengaja mematikan flash agar penyinaran natural, dan Anda juga cukup memenuhi keempat unsur yang lain yaitu posisi, kompisisi, momen dan rasa.

image007Canon EOS 600D. Auto – Flash off pada Tv 1/100, f/ 5.6, ISO 3200 (Auto), lensa 18-135 mm f/ 3.5 – 5.6 pada FL 64 mm

image008

Kamera dan lensa sama pada Tv 1/20, f/ 5.6, ISO 3200 pada PL 135.

image009

Kamera dan lensa sama pada Tv 1/125, f/ 5.6, ISO 3200 pada FL 126.

Lalu apa yang menjadi kelemahan dari ketiga foto itu? Kamera EOS 600D Anda ‘terpaksa’ memilih ISO 3200 (mendekati maksimum) untuk memperkenankan Anda memotret tanpa flash. Akibatnya mulai timbul noise di beberapa bagian dari foto-foto itu.

Apakah ‘noise’ itu? Noise adalah butiran kasar ada pada foto. Bentuknya bintik-bintik seperti kumpulan semut. Untuk foto 1 noise nampak di bayang-bayang di bagian leher gadis dan di foto 3 noise kian nyata hampir di seluruh bagian foto karena kondisi penyinaran rendah (low light). Saya tidak ingin menulis ulang masalah noise karena dengan mudahnya Anda dapat mempelajarinya dari berbagai aritikel di internet baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Misalnya:

http://www.fotogu.com/tutorial-gu/apakah-itu-iso-dan-noise/

http://belfot.com/noise-foto-kamera-digital/

http://www.fotografer.net/forum/forum.view.php?id=3193799398

Kesimpulan:

  1. Noise dalam fotografi digital (khususnya DSLR) selain dari unsur penyinaran obyek juga sangat ditentukan oleh kwalitas sensor kamera. Semakin bagus sensornya semakin mahal harga kameranya.
  2. Perlukah kita membeli kamera mahal untuk memperoleh hasil foto dengan noise yang paling rendah? Semuanya terpulang pada kebutuhan, kepuasan dan keuangan kita masing-masing. Hanya Anda sendiri yang dapat menjawabnya karena jawab atas pertanyaan itu sangat subjektif.

Silahkan bagi Anda yang ingin berbagi pengalaman seputar noise pada fotografi digital.



Leave a Reply MY-ers ...