MY-ers Articles : Memanfaatkan lensa jadul? – By : Frans Gunterus

Kali ini Pak Frans share dengan kita soal lensa manual kuno yang digunakan di kamera moderen. Saya sendiri juga suka lensa manual, walau setelah mencoba menyerah di bawah FL 50mm … di atas itu mata saya gak kuat untuk focusing wkwk. Silahkan dinikmati uraian beliau …

—————

Di dalam perkenalan ke sebuah milis para pecinta fotografi teman saya menyebut agama saya Canon. Saya sempat mengartikan teman itu menganggap saya fanatik Canon. Rupanya, istilah ‘agama’ lazim dipakai di kalangan para penggemar fotografi (di Indonesia) untuk menyebut merk kamera yang kita pakai. Jadi selain agama Islam, Katolik, Kristen, Budha dan Hindu di kalangan pecinta fotografi di Indonesia ada agama Nikon, Canon, Sony, Fuji … dan sebagainya.

Belakangan, saya merasakan bahwa sebutan ‘agama’ untuk pilihan kamera memang cukup relevan. Khususnya untuk penggemar DSLR, orang cenderung memilih merek yang sama karena lensa serta perlengkapannya satu merek tidak cocok (compatible) untuk merek lain. Selain itu, memang ada beberapa orang yang ‘fanatik’ dengan merk tertentu. Saya pernah ‘kena damprat’ gara-gara di dalam tulisan semacam ini menyebut kelemahan (model tertentu) dari merk kamera favoritnya.

Pada jaman kamera SLR film saya pakai Canon. Ketika ingin membeli DSLR saya sempat kebingungan apakah harus murtad dari ‘agama’ Canon atau tetap berada di jalur itu? Ada teman yang memberitahu bahwa lensa-lensa SLR Canon film jadul (jaman dulu) bisa dipakai lagi di DSLR Canon. Padahal, saya punya dua lensa SLR jadul kesayangan yaitu Tamron 35-80 mm dan Vivitar Series 1 70-200 mm.

Untuk tulisan kali ini saya ingin mengulas bagaimana memanfaatkan lensa jadul pada kamera DSLR dan memberi contoh hasilnya. Ternyata lensa jadul itu harus dimodifikasi agar bisa dipakai untuk kamera DSLR. ‘Lens mountingnya’ harus diganti. Saya curiga, dengan cara ini jangan-jangan lensa Canon juga bisa dipakai di DSLR Nikon dan sebaliknya. Namun, saya tidak mencari tahu lebih jauh tentang hal itu.

Ada dua macam ‘lens adaptor yang pernah saya pasang (mungkin ada bentuk lain yang tidak saya ketahui). Gambar kiri adalah Electronic Lens Mount Adapter (ELMA) dan gambar kanan adalah Lens Mount Adapter (LMA) yang dilengkapi optical glass. Harga unit ELMA (termasuk ongkos pasang) adalah tiga ratus ribu, sedang LMA dua ratus ribu. Kalau Anda tinggal di Jakarta, ELMA dan LMA untuk merek populer semacam Canon dan Nikon mudah didapat di pusat kamera Pasar Baru. (Tidak ada pesan sponsor)

Satu hal yang perlu Anda catat, teknisi di Pasar Baru memberitahu bahwa lensa-lensa jadul yang sudah dimodifikasi untuk DSLR tidak bisa dikembalikan agar dapat berfungsi lagi untuk kamera SLR film. Jadi pertimbangkan masak-masak sebelum Anda pasang ELMA atau LMA bahwa Anda memang tidak lagi ingin menggunakan lensa-lensa itu pada kamera SLR film lama.

Bukaan diaphragm maupun focusing harus dilakukan secara manual. ELMA mempunyai kelebihan dibanding dengan LMA. ELMA dilengkapi dengan rangkaian elektronik yang akan membuat DSLR mengeluarkan suara ‘beep’ dan titik merah di view finder bila objek yang dituju mencapai titik fokus. Sedang LMA sekedar mekanisme mounting biasa sehingga ketajaman fokus tergantung pada kejelian mata kita.

Kelemahan lain ELMA maupun LMA adalah pencahayaan menjadi sangat redup pada bukaan diaphragm kecil sehingga view finder menjadi gelap dan sulit melakukan focusing. Trik yang saya lakukan adalah dengan setting diaphragm dibuka selebar mungkin, lakukan focusing dengan mengintip view finder, atau kalau menggunakan ELMA tunggu sampai terdengar suara beep dan titik merah berkedip di view finder. Alihkan setting diaphragm sesuai yang kita kehendaki kemudian bidik objek yang diinginkan. Setting kamera saya pilih Av (Aperture Priority).

Bagaimana hasilnya? Saya tercengang melihat hasilnya! Foto-foto di bawah mungkin tidak terasa istimewa kalau saja orang tidak diberitahu bahwa semua foto ini diambil dengan lensa film jadul yang oleh sebagian orang dianggap sudah tidak punya nilai.

Lensa Tamron 35-80 mm f2.8/4, Focal Length 80, Manual Focusing, Av (Aperture Priority), 1/60, f terbuka lebar maximum, ISO 100. Hand held – incadescent light.

Lensa Tamron 35-80 mm, f2.8/4, Focal Length 70, Manual Focusing, Av (Aperture Priority), 1/60, f terbuka lebar maximum, ISO 640. Hand held – Available Light.

Lensa Vivitar Series 1 70-200 mm, f 2.8/4, Focal Length 150, Manual Focusing, Av (Aperture Priority), 1/80, f terbuka lebar, ISO 320. Tripod – Available light.

Vivitar Series 1 70-200 mm, f 2.8/4, Focal length 200, Manual Focusing, Av (Aperture Priority), 1/60, f:1.4, ISO 1000. Tripod – Available Light.

Kesimpulan : foto yang bagus tidak harus dihasilkan oleh gadget yang mahal. Hari-hari kosong dan week-end menjadi lebih mengasyikan ketika kita bisa melakukan berbagai eksperimen dengan gadget jadul. Lensa jadul ternyata masih cukup memadai untuk memotret objek-objek statis – misalnya food photography.

Saya menunggu komentar Anda sekalian. Selamat mencoba.

————————–

Sedikit tambahan : Ada 2 kelompok adapter, yaitu yang tanpa optic correction (disebut ELMA oleh pak Frans) dan dengan optic correction (disebut LMA oleh Pak Frans). Untuk yang tanpa optic correction ada 2 jenis lagi :

  • Dengan focus chip confirm – ada plat kuning2 elektronik di bagian pantatnya. Akan bunyi beep dan menyala merah di viewfinder kalau diputar pas kena focus, seperti pak frans sampaikan
  • Tanpa focus chip confirm – sehingga tidak ada konfirmasi kalau sudah fokus. Alhasil hanya mengandalkan ke live view dan mata.

Penggunaan adapter tergantung pada lensa dan body. Apabila secara optik memungkinkan maka tidak perlu melakukan “oprek” sehingga cukup menggunakan adapter. Tetapi ada yang secara optik tidak memungkinkan (misalnya menggunakan lensa Canon FD di kamera EOS) sehingga membutuhkan optik tambahan (yang menurunkan kualitas hasil) – atau oprek dengan memangkas bagian pantat lensa (jika dimungkinkan).

Jadi sebelum menggunakan lensa manual, selalu pastikan lensa tersebut bisa digunakan pada body kamera yang kamu miliki. Kalau my-ers menggunakan mirrorless enaknya adalah sudah bisa dipastikan lensa bisa digunakan, tinggal cari adapter saja.





One thought on “MY-ers Articles : Memanfaatkan lensa jadul? – By : Frans Gunterus”

  1. Sekedar tambahan saja. Di body DSLR Nikon, focusing lensa manual dibantu oleh satu titik kecil yang akan menyala ketika fokus sudah tercapai. Sayangnya desain mounting Nikon yg agak unik membuat kebanyakan lensa manual tidak bisa mencapai infinity kecuali optik bagian belakangnya dioprek.

Leave a Reply MY-ers ...