My-ers Articles : Liputan hunting bersama MY to Ujung Genteng, By : Rini Daihati & Dedi Wahyudi

Ujung Genteng adalah sebuah pantai yang terletak di sebelah selatan pulau Jawa, tepatnya di kabupaten Sukabumi Jawa Barat, tak jauh dari daerah tersebut terdapat Konservasi Penyu Pangumbahan. Konon katanya, di tempat konservasi tersebut kita dapat melihat secara langsung bagaimana proses penyu bertelur. Sebuah hal yang cukup memancing rasa penasaran kami untuk ikut menjadi saksi bagaimana alam berproses dan berevolusi.

Bukan hanya itu, hasil googling saya mengenai  pantai Ujung Genteng, menyajikan kehadapan saya gambar-gambar nan eksotis sebuah pantai landai dimana hamparan perahu kadang berlatar senja, kadang pula berlatar intipan matahari pagi dengan langit yang luar biasa bernuansa. Berbekal dari pengetahuan seadanya itulah, saya memutuskan untuk mengikuti kegiatan Hunting Bareng Motoyuk di Ujung Genteng pada 12 – 14 Oktober 2013 lalu.

DSC08873-EditSony A77, Samyang 8mm FishEye, f8, 1/30s, ISO 100
Kiri ke kanan: Dedi, Rini, Kris, Bayoe, Dekry

Diawali dari obrolan singkat mengenai tempat selanjutnya yang akan kami kunjungi setelah Pantai Sawarna Banten, akhirnya ide untuk Hunbar ke Ujung Genteng pun muncul. Adalah Yohanes Indro Kristanto yang berperan sebagai penggagas ide, dengan dukungan dari Bayoe Wanda dan dekry Hartana sehingga sukses memprovokasi tujuh MYers lainnya untuk berpartisipasi dalam acara ini. Rencana pun tersusun sejak sebulan sebelum rencana keberangkatan. Namun sayang, dari sepuluh peserta yang seharusnya bergabung hanya tersisa lima orang yang memberikan konfirmasi seminggu menjelang keberangkatan. Halangan tak dapat ditolak, namun rencana pantang diundur, kegiatan hunbar pun tetap akan dilangsungkan, dan Itinerary pun disusun.  Yaitu kami Y.I.Kristanto, Bayoe Wanda, Dekry Hartana, Dedi Wahyudi dan Rini Daihati yang akhirnya berangkat.

Hari Pertama (12 Oktober 2013)

Perjalanan berawal dari BSD melewati beberapa meeting point di Slipi – Bogor – Sukabumi, sebelum akhirnya saya dan kawan-kawan memulai perjalanan dengan tujuan akhir Pantai Ujung Genteng pada Sabtu, 12 Oktober 2013 pukul 09.15 WIB. Perjalanan panjang melewati jalan Kabupaten Sukabumi di pegunungan yang berkelok-kelok, terasa akan melelahkan dan menjadikan kami sedikit penat, jika saja pemandangan dikiri dan kanan bukanlah hamparan sawah, kebun teh, dan hutan karet yang indah dengan bunganya yang kuning terang. Pukul 13.30 WIB, mobil kami pun tiba, bukan di Pantai Ujung Genteng, tetapi singgah di kawasan wisata Curug Cikaso.

 

Persinggahan (Curug Cikaso)

Curug Cikaso merupakan objek wisata yang terletak di kecamatan Surade, kabupaten Sukabumi. Letaknya yang tersembunyi di balik lembah tidak serta merta membuat keindahan air terjun ini ikut tersembunyi. Dikalangan pecinta fotography, keindahan Curug Cikaso merupakan salah satu objek yang sangat menarik. Bentuknya yang melebar berupa tebing yang dapat dikategorikan cukup tinggi ini, memiliki tiga aliran air yang turun ke kolam penampungan berbatu dibawahnya dengan warna air yang biru kehijauan. Dengan membayangkan keindahan itu, membuat kami bersemangat saat menjejakkan kaki di tanah gunung yang sedikit berbatu.

Sapaan dari penduduk lokal dengan logat sunda yang kental terasa asing dalam pendengaran saya, untunglah dua orang dari rombongan kami pernah tinggal di tanah Sunda, dan dapat diandalkan dalam melakukan komunikasi yang akrab di tempat ini. Dari obrolan selanjutnya, kami mengetahui bahwa, saat ini air terjun sedang kering, yang mana artinya perjalanan ini adalah “tidak tepat waktu”. Kecewa memang, tetapi tidak membuat kami lantas balik badan dan berlalu meninggalkan tempat ini. Sepasang kaki kami tetap terayun ke depan menuju sebuah loket dimana dibelakangnya terdapat sungai dengan jejeran beberapa perahu yang biasa digunakan pengunjung yang malas berjalan kaki untuk mencapai lokasi curug. Tawar menawar pun terjadi, dengan hasil transaksi Rp 80.000 untuk sebuah perahu yang akan berpenumpang lima orang dalam perjalanan pergi pulang ke lokasi curug.

Curug bukan hanya terlihat kering, tetapi Kerontang, saat saya dan empat teman lainnya berdiri di bebatuan memandangi kolam air berwarna kebiruan berdinding tebing yang seharusnya dialiri air itu. Senyum getir mungkin terlihat mengambang dibeberapa wajah, tetapi tidak menghalangi kami untuk tetap mengambil gambar, mengabadikan setiap sudut yang seharusnya indah. Setelah puluhan jepretan, kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan terlebih dahulu mengambil foto bersama dengan bantuan tripod. Kembali ke area parkir, duduk bersama melepas dahaga di warung-warung penjaja makanan, dan setelah membeli beberapa telur penyu rebus, bersama debu yang tertinggal di belakang mobil, tekad saya pun ingin kembali ke tempat ini suatu hari kala air tak lagi kering.

 

Ujung Genteng 

Matahari masih terasa terik pada pukul 16.30 WIB saat saya berdiri disisi perahu yang sedang ditambatkan pada pantai Landai. Inilah Pantai Ujung Genteng, perahu-perahu inilah yang sering saya lihat pada hasil karya pecinta fotography yang pernah menjejakkan kaki disini sebelum saya. Sesi sunsetpun akan kami lewatkan disini, diantara perahu-perahu nelayan berlatar pantai yang berombak tenang serta langit senja yang bersemburat magenta, dengan tas ransel yang tersandang di bahu beserta tripod yang tegak di depan kami. Mengabadikan setiap inchi keindahan yang terhampar di hadapan kami.

DSC09097-Edit

Sony A77, Tokina 11-16mm, f13, 0.8s, F11, ISO 50

Sunset berakhir, seiring langkah kami kembali berkumpul untuk mencari penginapan.

Tak sulit untuk mendapatkan penginapan di Ujung Genteng, disepanjang bibir pantai banyak terdapat penginapan dengan berbagai macam bentuk dan ukuran. Pilihan kami jatuh pada penginapan Frida, yang letaknya tepat dipinggir pantai. Gerimis tipis menyambut kami saat tiba di penginapan. Sempat khawatir hujan akan menggagalkan rencana kami untuk melihat penyu bertelur malam itu, kami tetap pada rencana mencari guide untuk menunjukkan jalan ke Konservasi Penyu Pangumbahan.

 

Konservasi Penyu Pangumbahan

Pukul 22.00 WIB saatnya mobil meninggalkan penginapan untuk menuju Konservasi Penyu Pangumbahan. Jalanan pinggir pantai berupa pasir berbatu-batu cukup sulit untuk dilewati, ditambah ukuran jalan yang hanya lebih lebar sedikit dari sebuah mobil membuat kami berdoa agar tidak banyak berpapasan dengan mobil lain sepanjang perjalanan. Jarak tempuh sekitar setengah jam, mengantarkan kami tiba di lokasi tujuan sebelum malam terlanjur larut. Bulan terlihat penuh dan bersinar, membuat kami tidak kesulitan untuk menuju pantai tempat penyu-penyu menitipkan telurnya sebelum kembali pulang ke samudera. Di depan, terlihat bangunan menyerupai rumah, dimana setiap pengunjung harus mendaftar sebelumnya. Setelah itu pengunjung akan melewati sebuah gerbang yang dibelakangnya terdapat jalan menuju pinggir pantai. Dikiri kanan jalan tersebut terdapat beberapa gundukan menyerupai kuburan. Di tempat itulah telur-telur penyu dikubur sebelum menetaskan para tukik (baca: anak penyu) yang akan menggeliat keluar, bangkit dari kuburnya untuk memulai kehidupan baru.

Sesi menonton penyu bertelur usai tidak terlalu lama, tanpa berhasil merekam dan mengabadikan secara sempurna moment tersebut. Didasarkan pada himbauan dari pihak pengelola untuk tidak mengganggu penyu dengan penerangan yang terlalu, maka kami pun hanya memotret dengan penerangan yang seadanya tanpa bantuan flash.

DSC09039-Edit

 

Hari kedua (13 Oktober 2013)

Angin bertiup kencang, dan matahari masih berada dibawah garis cakrawala, Pukul 05.00 WIB pagi. Hari ini diawali dengan sesi sunrise di pantai yang sama dengan sesi sunset kemarin, tetapi disisi yang berbeda. Dalam beberapa menit yang ada, kami berusaha mengabadikan sisa-sisa malam sebelum matahari hari ini terbit. Sunrise muncul dengan warna emasnya yang dramatis, hanya sekian menit lalu meninggi. Sisa pagi itu akhirnya saya habiskan dengan mengeksplore sebuah dataran bebatuan dengan lumut yang menutupi beberapa permukaan batu dan kubangan air berisi geliat kehidupan binatang laut yang terbawa oleh ombak pasang dan terdampar kala ombak surut. Sementara beberapa teman memilih untuk mengabadikan keindahan sejumlah binatang laut dimata lensa makro.

DSC09197-Edit

Sony A77, Tokina 11-16mm – f11, 1/25s, F11, ISO 100

Sesi sunrise diakhiri dengan ber-HI ria di pelelangan ikan kala berbelanja ikan laut sebagai menu santap siang hari. Setelah berhasil menukar beberapa rupiah untuk seekor ikan tuna besar, kami pulang ke penginapan untuk beristirahat dan makan siang, mengembalikan tenaga untuk menghabiskan waktu menghantarkan tukik (baca: anak penyu) yang akan dilepas pulang ke samudera sore nanti.

 

Pelepasan Tukik

Pantai yang sama, waktu yang berbeda. Malam kemarin kami berdiri disini menyaksikan penyu-penyu besar berjuang untuk melahirkan generasi penerusnya dengan susah payah. Ditempat yang sama, saat ini, pemandangan itu sudah tak sama lagi. Pantai tampak ramai dengan pengunjung, menghabiskan waktu dengan berbagai kegiatan pengusir kebosanan kala menanti saatnya menyaksikan pelepasan Tukik. Hingga tibalah saat pengelola taman konservasi mengintruksikan kepada kami untuk membuat barisan di sepanjang garis pantai dengan batas yang telah ditentukan. Beberapa ember besar yang dibawa oleh petugas seolah memberikan tanda kepada kami bahwa waktunya telah tiba. Kami berbaris, beberapa pecinta fotography tampak bersiap dengan kameranya, beberapa anak kecil terlihat antusias dan ribut mengajukan pertanyaan-pertanyaan dengan tangan tergenggam oleh orang tuanya, sejumlah turis asing juga ikut terlihat.

Petugas pembawa ember berdiri di depan barisan manusia, menunjukkan isi ember itu kepada pengunjung. Tampak para tukik tumpang tindih saling berebutan untuk menjulurkan kepala. Tepat pukul 17.30 WIB, ratusan tukik dilepaskan. Kaki-kaki yang terlihat berupa sirip mengais-ngais pasir dibawah tubuh mereka. Seolah mendengar panggilan ibu mereka di kedalaman samudera, rayapan mereka pun hanya mengarah ke satu tujuan yaitu laut lepas.

DSC09533-Edit

Sony A77, Tamron 70-200mm, f9, 1/250s, F200, ISO 1600

 

Sesi Steel Wool

Malam belum terlalu larut, malam terakhir di Ujung Genteng sesuai rencana akan kami tutup dengan sesi steel wool. Perlengkapan sudah terbeli sejak dari Jakarta, dan kini saatnya eksekusi. Dengan bantuan anak penjaga penginapan, kami pun menuju pantai di belakang penginapan. Bayoe Wanda selaku tutor untuk teknik pemotretan steel wool berhasil memberikan kami pengalaman memotret steel wool diatas permukaan laut yang tenang, sehingga mendapatkan efek refleksi yang menarik.

DSC09600

Sony A77, Tokina 11-16mm – f9, 9s, F11, ISO 200

 

Hari ketiga (14 Oktober 2013)

Hari terakhir di Ujung Genteng, diawali dengan pagi yang dingin di pantai. Kembali berada di pantai yang sama dengan hari sebelumnya membuat kami hanya mencari sudut-sudut yang terluput oleh kami pada kunjungan pertama. Hari itu juga kami tidak memiliki banyak waktu, karena harus kembali ke jakarta sebelum matahari meninggi.

Pukul 11.00 WIB, setelah makan dan berkemas, kami meninggalkan Pantai Ujung Genteng dengan membawa begitu banyak cerita yang terekam dan terabadikan dalam penggalan-penggalan gambar yang akan selalu dapat bercerita tentang keindahan pantai di sisi selatan pulau Jawa itu, yang akan selalu mengingatkan kami untuk kembali lagi suatu hari nanti.


3 thoughts on “My-ers Articles : Liputan hunting bersama MY to Ujung Genteng, By : Rini Daihati & Dedi Wahyudi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *