MotoYuk!!! Ujung Genteng Trip – May 2011

DAY 1 – Diawali dengan niat hanya beberapa orang ternyata pada akhirnya ada 11 fotografer + 7 orang non fotografer yang berangkat ke Ujung Genteng pada 14-17 May 2011 lalu. 2 mobil yang dikendarai Edo & Anto membelah subuh Jakarta sejak jam 03.30 WIB (yang herannya tetap ramai) beserta total 8 orang motoyuk-ers dari Jakarta. Edo, Felixs, Cynthia, Agnes, Anto, Pak Wisnu & istri, Gisca. Melaju melintasi tol jagorawi mengarah ke Sukabumi dimana akan bertemu dengan motoyuk-ers dari Bandung.

Motoyuk family (dari atas-bawah, kiri-kanan) : Edo, Anto, Felixs, Pak Wisnu, Cynthia, Gisca, Agnes, Ibu Wisnu

Sesampainya di Sukabumi sudah pagi hari, sekitar jam 06.00 WIB. Kita ketemuan di rumah mertua salah satu member motoyuk dengan peserta dari Bandung & Cianjur yang diangkut menggunakan kendaraan Elf. Untuk mengisi perut kita makan pagi dulu dengan menu bubur & nasi kuning di dekat klenteng. Mantap bener dah, lebih mantap adalah semangat persaudaraannya yang terasa sejak pertama ketemuan.

Ketiga kendaraan beriringan menuju ke Pelabuhan Ratu setelahnya. Jalanan agak rusak sehingga beberapa kali tidak bisa jalan beriringan. Tapi untungnya sinyal blackberry masih berjalan cukup lancar sehingga bisa koordinasi menggunakan blackberry messenger (kebayang kalo dulu harus telpon / sms – berapa biaya tagihan setelah pulang dari sana). Kita sempat berhenti sejenak sekitar 4 km sebelum pelabuhan ratu, di sebuah pom bensin + jembatan tua. Pom bensin & jembatan berwarna kuning ini menandai belokan ke kiri menuju Surade / Jampang Kulon / Ujung Genteng. Namanya fotografer, liat jembatan kuno ya di foto dah.

PS : Foto-foto liputan ini sebagian besar masih langsung dari JPEG kamera, di resize saja, jadi mohon maaf kalau kualitas warna dll nya belum prima

Melanjutkan perjalanan setelahnya kita dihadang dengan jalanan yang mulai bergelombang dan berlubang-lubang. Toyota Rush & Avanza dengan cukup mudah masih bisa bermanuver, akan tetapi Suzuki Elf yang ukurannya besar relatif lebih pelan dalam menghadapi jalanan ini. Sekitar 1.5 jam setelah jembatan kuning kita menemukan spot pemotretan lain, curug gentong. Sayangnya waktunya tidak memadahi buat kita turun dan menikmati curug ini. Jadi kebanyakan motoyuk-ers mengandalkan lensa tele + tripod untuk melakukan pemotretan.

Melanjutkan perjalanan jalanan makin parah, sehingga kami harus perlahan-lahan. Rush & Avanza sempat jalan duluan dan memotret sana sini sih, perkebunan teh salah satunya. Akhirnya kami makan siang di satu restoran padang di Jampang Kulon, kota terdekat dengan peradaban dalam perjalanan kami. Karena laparnya maka nasi padang pun terasa nikmat.

Setelah kembali di kocok perut nya dalam perjalanan kami akhirnya mencapai Ujung Genteng, Pondok Hexa tempat kami menginap lebih tepatnya. Penginapannya sendiri terletak strategis di tepi pantai ujung genteng, akan tetapi karena ini Ujung Genteng maka kita tidak bisa expect fasilitas bintang 5 tentunya. Tapi penginapannya cukup bersih, ada restoran dan kolam renang dengan lapangan parkir yang luas, dan yang terpenting AC di kamar hahaha.

Hanya sempat bernafas sebentar hampir seluruh motoyuk-ers diberangkatkan naik ojek ke Muara Cipanarikan & Cibuaya untuk melihat muara & melepas tukik (anak penyu) di konservasi. Perjalanannya cukup bikin pantat rata + tangan kekar, karena area nya yang memang super off-road. Tapi terbayar dengan keindahan sunset di cipanarikan & lucunya anak penyu yang dilepas. Sayang saat itu sedang liburan panjang, jadi wisatawan yang datang banyak sekali. Pelepasan tukik menjadi kurang terkontrol karenanya. Salah satu bentuk ketidaksiapan pariwisata negeri ini.

Setelah makan malam dengan menu seafood sederhana di penginapan sebagian besar peserta kembali naik ojek untuk melihat penyu bertelur. Saya, Tedy & Anto memilih untuk bersantai di penginapan, sembari ngobrol soal fotografi. Pilihan kami tepat rupanya, malam itu karena saking ramainya maka penyu tidak mau naik ke pantai untuk bertelur.

DAY 2 – kami memulai hari dengan bangun sangat pagi, jam 04.30 demi sunrise. Perjalanan off-road menuju Pantai Tempat Pelelangan Ikan (TPA) terasa sunyi. Tapi semua motoyuk-ers langsung bergegas menyerbu pantai setibanya disana. Sayang sekali karena kurang beruntung Agnes sempat kehilangan ballhead nya di area ini akibat terjatuh. Sunrise pagi itu sangat indah, sayang karena sedang full moon maka air pasang agak tinggi. Membuat perahu-perahu yang dijadikan foreground menjadi bergoyang. Tantangan tersendiri buat mencari foreground yang baik.

Sebagian motoyuk-ers yang awalnya masih ragu nyemplung ke air laut akhirnya nekat juga. Pak Wisnu berhasil mengabadikan sunrise di Ujung Genteng dengan sangat indah :

Selanjutnya kita menuju pantai dermaga tua untuk menikmati sebentar langit biru disana. Tidak lama karena kami harus bergegas makan pagi & menuju curug cikaso. Lagipula karena pasang maka air di pantai ini menjadi tinggi dan menghilangkan ciri khas pantai dangkal ujung genteng. Lesson learned : jangan pergi saat full moon.

Setelah makan pagi dengan nasi goreng sederhana di hotel kami melaju ke arah surade. Off road tentunya. Kami memiliki rencana ke curug cikaso siang itu. Kurang ideal untuk pemotretan memang, tapi apa daya karena memang tidak banyak waktu tersedia. Curug cikaso dicapai sekitar 1.5 jam perjalanan dari pantai ujung genteng. Kalau ke arah surade kita perlu berbelok ke arah Tegal Beuleud untuk mencapainya.

Sesampainya disana kami naik perahu. Sebenarnya tidak diperlukan naik perahu untuk mencapai cikaso, karena lewat jalan darat pun bisa & tidak jauh (pulangnya kami berjalan kaki). Akan tetapi saya rasa perlu untuk naik perahu untuk membantu membangun pariwisata di sana, hitung-hitung sumbangsih warga perkotaan – walau kalau kesana lagi kayaknya saya akan pilih jalan kaki saja.

Curug cikaso adalah curug yang luar biasa indah. Airnya bening & bersih, berwarna kehijauan karena mungkin pengaruh ganggang. Sangat klasik dan indah. Karena lokasinya cukup sulit maka motoyuk-ers dengan sangat berhati-hati berusaha menyeberang mencari lokasi pemotretan yang lebih baik. Agnes bahkan “menyewa” porter untuk membantu menyebrang. Maklum area nya licin dengan arus yang cukup kuat.

Pemotretan di curug cikaso ini cukup tricky karena : ada percikan air + matahari sedang terik. Berbagai cara di gunakan agar memperoleh hasil yang baik, salah satunya adalah menunggu langit mendung sambil duduk santai dengan tripod + kamera siap di depannya. Pemandangan yang sangat menarik melihat banyak sekali fotografer berjajar menunggu cuaca yang lebih baik. Tidak hanya satu lokasi motoyuk-ers juga berkeliaran mencari banyak posisi unik lainnya.

Saat pulang ada tragedi kehilangan kunci mobil Anto. Untunglah setelah berlarian kesana kemari mencari akhirnya kunci ditemukan & dikembalikan oleh warga sekitar, terjatuh sepanjang perjalanan pulang dari curug – tempat parkir. Kami merasa sangat bersyukur berhasil menemukannya, kalo tidak bingung deh harus bagaimana.

Setelah makan siang kami meluncur ke area pembuatan gula kelapa & villa amanda ratu. Lokasi pembuatan kelapa yang dikunjungi sama dengan lokasi yang saya kunjungi Januari lalu. Hebatnya si ibu pembuat gula kelapa masih ingat dengan saya hahaha. Mungkin karena tidak terlalu banyak wisatawan mampir dan melihat industri tradisional yang menarik ini. Beberapa motoyuk-ers mencoba minum sari bunga kelapa yang sudah dimasak, rasanya manis dan baunya sangat harum.

Setelah melihat tanah lot mini di villa amanda ratu kami bergegas menuju pantai ujung genteng untuk sunset. Sayang untuk avanza dan elf tidak bisa se-ngebut rush sehingga mereka tidak memperoleh lokasi sunset yang foreground nya unik. Walau sunset sore tersebut tetap indah untuk di abadikan tanpa foreground sekalipun – Anto bahkan menemukan foreground BH bekas warna merah teronggok di karang, lihat aja lu To ….

Malamnya kami menikmati seafood di restoran di area cibuaya. Sayang sekali restoran yang dulu saya nikmati dengan masakannya yang enak sekarang kurang mantap, bahkan teman-teman sempat komplain beberapa aspek mengenai makanannya. Tapi pilihannya memang tidak banyak di Ujung Genteng – next time saya akan stick dengan makanan di penginapan saja, lebih murah dan rasanya memadahi, sebanding dengan harganya.

Kenyang dengan makanan dan capek dengan semua kegiatan siangnya kami masih menyempatkan mereview beberapa foto yang sudah diambil. Tujuannya supaya di hari ke-3 bisa lebih siap. Teman-teman motoyuk-ers banyak belajar mengenai komposisi dan pengaturan exposure menggunakan Av mode (dengan EV nya) dan GND. Semuanya langsung dipraktekkan di hari ke-3 dengan hasil yang jauh lebih baik dibandingkan hari ke-2.

DAY 3 – Pagi kembali diawali dengan memotret sunrise, kali ini sudah lebih tahu kondisi kami berangkat sedikit lebih siang. Jam 5 pagi (tetap pagi ya? haha). Sunrise kali ini teman-teman motoyuk sudah lebih siap dan ahli dalam menggunakan peralatannya. Hasilnya juga lebih cemerlang. Acara nyemplung ke air laut tetap mau tidak mau harus dilakukan karena kondisi laut yang tetap agak pasang.

Mulai dari batang pohon, kapal, tali, batang penyeimbang kapal, pasir, karang, semuanya di pantai TPA di eksplore untuk dijadikan foreground untuk mendukung langit pagi yang indah. Selama kami di Ujung genteng memang kami selalu mendapatkan sunrise & sunset yang cemerlang dan sangat indah.

Pemotretan di dermaga tua kali ini cukup lama. Kebetulan langit biru indah sekali. Selain itu kami menemukan obyek menarik, sekumpulan perahu yang warna-warnanya sangat mencolok dan kontras. Mulai dari pemotretan dari sudut pandang atas, sampai dengan bergulingan di jalanan demi low angle dilakukan. Hasilnya memang luar biasa, unik dan juga sangat berwarna warni.

Setelah makan pagi awalnya kami mau ke curug cigangsa. Akan tetapi mempertimbangkan energi fisik yang sudah mulai menurun & informasi bahwa untuk mencapai curug ini harus berjalan cukup jauh maka kami memutuskan untuk ke hutan lindung. Sebenarnya tidak expect terlalu banyak waktu ke hutan lindung. Tapi ternyata sekitar jam 10 air laut surut dan kami bisa melihat “akuarium” ujung genteng. Kebetulan lokasi pantai di hutan lindung sangatlah indah, plus tidak ada wisatawan. Kami memiliki pantai pribadi yang sangat indah. Keindahan gelombang pasir kuning & birunya langit terekam sempurna di kamera Pak Wisnu :

Untuk masuk ke hutan lindung ini kita perlu ijin di pos TNI-AU yang ada di dekat TPA. Selain itu kita memberikan biaya kebersihan sebesar Rp 20.000 / mobil – cukup murah meriah. Biaya ini sangat sebanding dengan keindahan alam di hutan lindung tersebut. Bagi yang suka makro dan wildlife, obyeknya banyak sekali. Sayang saya tidak memiliki lensa yang cukup tele untuk memotret burung liar yang beterbangan mencari makan di pantai yang surut tersebut.

Seselesainya dari hutan lindung kami kembali di kagetkan dengan birunya langit & air yang surut di area dermaga tua. Walau panas membakar kulit seluruh motoyuk-ers tetap memotret di dermaga tua. Nampaknya hanya perut yang melilit kelaparan yang akhirnya menghentikan niat memotret kami. Maklum kondisinya sangat indah.

Bahkan setelah makan siang beberapa rekan motoyuk-ers masih kembali ke dermaga tua / hutan lindung. Sayang matahari sudah luar biasa panas setelah jam 1 siang, sehingga memotret juga menjadi sangat sulit. Selain kontras menjadi sangat tinggi juga bahaya dehidrasi mengancam *agakLebay

Sorenya kami kembali ke lokasi hari sebelumnya, diantara pondok hexa dan cibuaya, tapi kali ini lebih siap + cuaca mendukung dengan pasang yang tidak terlalu tinggi. Ini membuat kami masih sempat memotret banyak obyek menarik. Mulai dari karang hijau, slow shutter ombak yang berdebur, siluet pohon kelapa, macam – macam sekali. Sangat beragam.

Tidak hanya arah matahari terbenam yang indah, tetapi arah sebaliknya pun luar biasa indah. Saya sampai harus lari sprint 100 meter untuk mengejar siluet foto di bawah ini, sembari membawa kamera + tripod di pundak. Takut sinar senja nya keburu menghilang.

Kami menyelesaikan sunset sore itu dengan puas hati. Sayang kepuasan itu harus dinodai dengan makan malam yang bahkan “lebih parah” dari hari sebelumnya. Ada seafood yang kurang matang, yang pada akhirnya membuat Agnes & Pak Gus sakit perut di malam harinya. Sayang sekali memang.

Malam itu Tedy sharing mengenai komposisi. Materinya sendiri ringan tapi berbobot, cocok bagi para motoyuk-ers yang sudah cukup lelah dari segi fisik. Saya sendiri belajar banyak sekali dari Tedy, thanks buat ilmunya yak … inilah esensi sebenarnya dari MotoYuk!!! – tempat belajar & sharing fotografi yang anti mahal.

DAY 4 – hari terakhir ini merupakan sunrise yang paling berharga. Ini merupakan sunrise dimana semua ilmu hasil sharing dan mencoba beberapa hari sebelumnya di uji coba. Kebetulan ada Ray of Light yang sangat indah pada saat pagi hari tersebut. Semua motoyuk-ers sampai “panik” mengejar momen tersebut. Maklum, foreground kembali terbatas. Saya sendiri sempat kesulitan karena walaupun perahu yang saya gunakan sebagai FG menapak ke pasir pantai, tapi ombak yang besar kadang tetap menghajarnya. Belum lagi perahu di kejauhan yang sudah pasti blur karena goyangan ombak. Tough one.

Setelah sejenak mengunjungi dermaga tua untuk terakhir kalinya dan makan pagi kami kembali ke Jakarta. Dalam perjalanan pulang tim bandung memutuskan untuk berhenti sejenak di air terjun Cigangsa. Walau dengan napas satu-dua mereka berusaha turun dan naik ke air terjun tersebut, worthed? Coba tanya mereka hahaha … Sedangkan tim Jakarta melaju menuju Jakarta. Berhenti sejenak disana sini, misalnya memotret proses pembuatan tapioka dan kebun teh. Selepas dari Cibadak kami sudah dihadang dengan kemacetan sampai dengan Jakarta, sehingga walau kami berangkat sekitar jam 9 pagi dan ngebut tapi kami sampai di Jakarta baru sekitar jam 6 sore. Hemmmm .. mungkin lain kali lebih baik menginap di sukabumi dan berangkat ke Jakarta subuh ya …

Demikian kisah perjalanan motoyuk ke Ujung Genteng .. perjalanan yang sangat menyenangkan, bukan hanya karena cuaca yang mendukung dan langit yang sangat indah. Bukan juga hanya karena sharing ilmu antar teman. Tapi juga karena melakukan itu semua dengan “keluarga” sendiri – keluarga motoyuk

MOTO YUK!!!

6 thoughts on “MotoYuk!!! Ujung Genteng Trip – May 2011”

  1. Pengalaman kebersamaan yang sangat berharga. Pantai yang indah, cuaca 4 hari cerah, saling sharing dan kerjasama. Terima kasih kepada semuanya. Ditunggu acara ke Ujung Genteng lagi. Salam hangat Motoyuk

    1. Yup, indeed mas. Sangat menyenangkan berkumpul ama teman-teman motoyuk, mencari yang “seiman” dalam proses pembelajaran memang susah, untung ketemu hahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *