Mirrorless & Phoneography .. is it a Fad ?

Ada beberapa teman nanya ke saya, kenapa sih jadi seneng motret pake mirrorless dan iPhone? Apa sudah bosan ama DSLR? Hemmm … post ini merupakan buah pemikiran saya mengenai pertanyaan ini.

Buat saya, hobby saya itu fotografi, dan bukan hobby menggunakan DSLR.

Sama halnya waktu dulu para pengguna kamera film enggan pindah ke digital itu yang terjadi kini. Alasan mereka segudang, mulai dari detil yang tidak mampu dikejar oleh kamera digital (waktu itu masih kisaran 3-4 MegaPixel). Ada pula yang mengulas mengenai kelebihan mekanik kamera film. Intinya : manusia itu malas berubah, itu sudah jadi hakekat manusia sejak dahulu.

Buat para fotografer sekarang rasanya aneh masih menggunakan kamera film. Terlepas dari semua kelebihan dari kamera film para fotografer muda sekarang dibesarkan di era DSLR. Buat mereka DSLR adalah kamera film jaman sekarang. Untuk pindah dari DSLR itu? Ya sama juga … segudang alasannya. Sama persis dasar kenapa nya, manusia itu enggan berubah. Selalu bisa kita mencari alasan supaya tidak perlu berubah. Ada yang merasa tidak perlu mencoba, ada yang merasa gak kelas mencoba, ada yang merasa “direndahkan” dengan mencobanya. Aneh?

Kebetulan saya ini orang IT. Saya dituntut untuk berani mencoba teknologi baru dari waktu ke waktu. Perubahan di IT sangat cepat. Ambil contoh laptop saja obsolete dalam kurun waktu 6 bulan. Luar biasa. Tapi lama-lama saya jadi terbiasa juga. Dan saya bisa melihat bahwa future nya “bisa jadi” (siapa sih yang bisa meramalkan masa depan) ada di mirrorless dan smartphone.

Mirrorless akan mengganti DSLR terutama yang ditujukan buat entry level. Kenapa? Ya lihat saja, apa sih yang bisa dikembangkan lagi oleh produsen? Lebih banyak lagi Mega Pixel? Siapa yang butuh? Apa harganya akan ekonomis dengan terus mempersempit jajaran pixel di sensor dengan ukuran yang sama? … atau mau memberikan fitur pengolah gambar yang sudah built in di dalam kamera, seperti filter, dll ? Come on …. bahkan iPhone memiliki aplikasi yang lebih baik daripada DSLR entry level sekarang.

Dengan mempertimbangkan mirrorless yang ukurannya lebih kecil, AF yang makin cepat, sensor dan fitur yang sama, jelas konsumen akan terus mengarah ke mirrorless. Apa yang terjadi dengan pasar yang ditinggalkan pembeli? Mati …

Ya, saya setuju bahwa DSLR profesional (full frame – pro body) masih butuh waktu untuk digantikan. Tapi cerita yang sama dengan dulu kamera film digantikan digital. Begitu peralihan terjadi, peralihannya terjadi sangat cepat. Bahkan kabar burungnya tak lama lagi Canon akan mengikuti Nikon meluncurkan mirrorless series nya. Walau masih setengah hati dengan ukuran sensor sedikit lebih kecil dari entry level DSLR nya.

Kamera pocket? Soon there will be no compact camera. Coba tanya pada diri sendiri, kenapa masih mau bawa kamera pocket kalau handphone yang ada di tangan (dan jelas akan dibawa kemana mana) sudah memiliki kemampuan setara dengan kamera pocket? Tidak banyak yang tahu bahwa smartphone moderen mulai mendekati bahkan beberapa menyalip kualitas kamera pocket yang ada di pasaran. Ya, harganya masih mahal … tapi hanya masalah waktu menurutku.

Smartphone seperti android dan apple iOS bahkan sudah menyediakan puluhan aplikasi yang memungkinkan smartphone melakukan hal yang dulu dianggap tidak mungkin. Mulai dari melakukan editing, dari sederhana sampai cukup kompleks (dan jelas sangat mudah dibandingkan dengan adobe photoshop, bahkan lebih mudah daripada picasa). Atau melakukan pemotretan slow speed :

Atau menambahkan berbagai adapter lensa untuk mendapatkan lensa wide, makro dan tele. Bahkan ada aplikasi yang bisa melakukan photo stitching dengan bagus sehingga hasilnya adalah foto dengan focal length setara dengan lensa wide. Berikut dibawah ini saya memotret dengan iPhone dan aplikasi tersebut. Bidang pandangnya menurut saya kisaran 18mm di full frame DSLR (lihat ujung kiri foto – itu sejajar dengan tempat duduk saya, lihat kanan – itu ujung atap yang sejajar dengan tempat saya duduk – total sekitar 170 derajat sudut pandangnya).

Keren ?

Dengan kekuatan seperti ini dan kualitas yang sangat baik, masih berminat beli kamera compact?

So, kenapa saya menjajal mirrorless dan phoneography? Karena saya cinta fotografi … dan bukan DSLR. Buat saya teknologi apapun boleh asalkan memang sesuai dengan kebutuhan saya. Saya tahu benar kok kelebihan dan kekurangan tiap alat yang saya miliki. Saya tidak akan memaksakan diri menggunakan Sony NEX 5n untuk pemotretan landscape serius misalnya (dengan alasan yang sudah saya sebutkan dalam review sebelumnya). Tapi saya juga tidak kurang kerjaan membawa2 DSLR seberat 3 kg untuk mengerjakan pemotretan makan siang saya (yang mungkin saja tidak semenarik yang saya bayangkan sebelum pergi), saya pilih mirrorless atau iPhone saya saja.

So? Cobalah untuk terbuka … saya rasa semua my-ers juga mencintai fotografi, dan bukan DSLR. Kalau belum mencoba jangan judge dulu … salam MY


7 thoughts on “Mirrorless & Phoneography .. is it a Fad ?”

  1. Super Sekali om… setuju, bahkan dengan phonegraphy, memudahkan utk mengcapture momen2 yg pasti bakal terlewatkan kalo kita gak bawa DSLR…

  2. menyegarkan bacanya..

    saya udah sering skali diledek para fotografer pro ..
    kok moto pake AC dan kulkas (mirrorless)

    jujur saya cm pemakai point and shoot compact yg buta DSLR..
    jadi saya nyaman pake mirroless..
    dan saya selalu bilang, saya ga niat jadi fotografer pro kok.. saya suka moto anak dan enjoy liat foto .. jadi please stop the mocking about I use small camera yg bukan brand besar..

    terharu banget baca artikel ini

    1. Hahaha. Senang bisa menyegarkan hati Pak. Yang penting hasilnya bisa dinikmati saja. Terlepas dari kamera apapun yang digunakan. Tetap semangat moto 🙂

Leave a Reply MY-ers ...