Metering (inspired by Teoh Peng Kee)

Tahu light meter? Alat ini digunakan untuk mengukur berapa apperture, shutter speed dan ISO yang harus digunakan untuk menghasilkan foto yang “baik”.

 

Metering pada prinsipnya memang usaha menyeimbangkan 3 parameter dasar pemotretan (Apperture, shutter speed dan ISO). Jadi misalnya dalam mode Apperture Priority (dimana kita memilih Apperture dan ISO) maka metering pada intinya berusaha memberikan saran berapa shutter speed yang harus digunakan. Sedangkan dalam mode Shutter Speed Priority (Tv, dimana kita memilih ISO dan shutter speed yang mau kita gunakan) maka setelah kita melakukan metering kamera akan memberikan saran apperture yang sebaiknya digunakan.

Apa dasar kamera dalam memberikan saran? Kamera memiliki built-in light meter. Sistem ini akan “menghitung” dan memberikan saran sehingga foto yang diambil kalau di render menjadi middle grey / 18% grey. Pada middle grey foto dikatakan memantulkan 18% cahaya yang datang (dimana warna putih = 100% dan warna hitam = 0%). Jadi kamera melakukan perhitungan supaya pas pencahayaannya, tidak over exposure (komponen “putih / terang” telalu banyak) atau underexposure (komponen “hitam / gelap” terlalu banyak).

Dalam sebagian besar kondisi maka perhitungan kamera tepat. Tapi ada kondisi ekstrem, seperti misalnya daerah bersalju atau area dimana warna gelap mendominasi, dimana kamera salah melakukan perhitungan. Lebih lengkapnya anda dapat membacanya di Canon Digital Learning Centre.

Tiap kamera memiliki berbagai mode “perhitungan”, yang dikenal dengan metering mode. Jenis pemotretan yang berbeda membutuhkan metode pengukuran yang berbeda, walau tentunya ada satu mode yang “all-round”, berhasil di 80% dari kejadian. Dalam blog ini saya akan lebih membahas metering mode apa yang sesuai dengan suatu kondisi pemotretan.

Metering mode secara umum ada 4 : center weighted, evaluative / 3D Color Matrix, Partial dan Spot metering. Masing-masing memiliki “rumus” yang berbeda, dan dengan demikian menghasilkan pengukuran yang berbeda dan digunakan di berbagai scenario yang berbeda.

Center Weighted Metering

Mode ini merupakan mode yang paling kuno. Metode ini digunakan sejak jaman kamera masih menggunakan film. Pada prinsipnya metode ini memberikan bobot lebih besar pada area tengah (center) dari frame. Sedangkan area lain tetap dihitung tapi dengan bobot lebih sedikit. Lihat pada gambar di bawah dimana area tengah mendapatkan bobot perhitungan lebih besar dibandingkan area sekitarnya (ditandai dengan warna lebih gelap).

Metode ini cocok digunakan untuk beberapa landscape photography. Hal ini karena pada landscape photography maka kita meletakkan point-of-interest di area tengah, sementara masih menginginkan area sekitarnya ter-expose dengan baik (tidak over / underexposed).

 

 

Evaluative / 3D Color Matrix Metering mode

Metode ini merupakan metode yang paling canggih, bisa dibilang “all round metering mode“. Karena di kebanyakan situasi mode ini memberikan hasil yang baik (tidak over / underexposed). Untuk pemula dan kebanyakan situasi mode ini adalah yang paling tepat.

Secara umum mode ini mengambil data dari titik autofocus yang aktif. Kemudian dengan cerdas membandingkannya dengan area lain dari foto, dan dengan algoritma yang sudah ditanamkan di dalam prosesor kamera menentukan exposure yang dibutuhkan. Pada sample di bawah ini misalnya titik fokus yang aktif adalah sebelak kiri.

Tetapi mode ini sendiri sudah dikembangkan jauh, misalnya di Nikon dengan 3D Matrix Metering algoritmanya berusaha “menebak” jenis obyek yang kita foto, dengan demikian bisa menyesuaikan perhitungan exposurenya dengan lebih baik. Canon baru-baru ini meluncurkan algoritma iFCL di Canon EOS 550D & 7D. Sistem ini membagi sensor menjadi 63 zone yang kemudian akan diambil datanya. Data sendiri dikumpulkan dengan melihat exposure dan mempertimbangkan warna obyek. Titik fokus juga memberikan informasi mengenai jarak benda terhadap kamera (yang memiliki pengaruh juga terhadap exposure). Semua data kemudian di proses oleh algoritma yang ada untuk menghasilkan exposure yang tepat.

Makin majunya pengembangan algoritma di mode evaluative ini membuat mode ini menjadi pilihan yang paling tepat di kebanyakan situasi.

Partial Metering

Tidak selalu melakukan metering di tengah frame (center weighted) atau di seluruh frame (evaluative) memberikan pengukuran yang tepat. Terutama di skenario sulit seperti misalnya backlight, area yang sangat gelap / didominasi warna gelap, salju, dll. Oleh sebab itu produsen kamera juga menyertakan mode partial dimana sekitar 10% dari bagian tengah frame yang dijadikan ukuran.

Mode ini saya gunakan untuk pemotretan model di outdoor dimana kondisi pencahayaan agak sulit (misalnya backlight). Jadi saya zoom / letakkan bagian tengah frame kamera di area wajah model. Setelah itu saya tekan tombol  *  / Exposure lock. Dengan menekan tombol ini maka metering tidak dilakukan lagi oleh kamera walaupun saya mengubah framing / zoom / focus (perhatikan di kamera DSLR metering dilakukan kamera secara continuously, sedangkan di kamera pocket hanya saat kita melakukan autofocus). Setelah sesuai barulah saya tekan tombol shutter.

Dengan cara ini maka saya hanya melakukan pengukuran exposure di wajah model. Dengan demikian “menjamin” exposure yang tepat untuk wajah model. Area lain dari foto bisa jadi memang under exposure / over exposure, tergantung pencahayaan saat itu.

Spot Metering

Prinsip spot metering sebenarnya sama dengan partial metering. Hanya saja area yang di ukur lebih kecil, hanya sekitar 3% area.

Karena area nya yang lebih kecil maka penggunaannya juga menyesuaikan, misalnya untuk pemotretan model full body dimana kamera tidak bisa di zoom sampai ke wajah model. Atau penggunaan lain adalah pemotretan macro, dimana area tertentu dari obyek ingin kita jadikan acuan.

————–

 

 

 

Untuk memperoleh exposure yang “sempurna” memilih metering mode yang tepat adalah salah satu langkahnya. Jadi coba praktekkan berbagai metode metering ini dan lihat hasilnya di kamera anda. Pengalaman adalah guru yang terbaik dalam hal ini.

Lambang / icon metering mode di Canon dan Nikon agak berbeda, demikian pula dengan kamera dengan merk lain. Sehingga buat yang sering berganti kamera harus mengerti perbedaan icon nya supaya tidak salah pilih :

PS : Harus diakui bahwa saya lebih suka icon milik Nikon, karena lebih intuitif dan masuk akal (coba lihat icon center weighted milik Canon, orang awam akan bingung kalau disuruh menebak ini icon untuk metering apa). Tapi memang Nikon memiliki PR besar dalam hal marketing mereka. Untuk mencari sample icon diatas saja membutuhkan waktu yang cukup lama dibandingkan milik Canon :p

MOTO YUK !!!

(inspired by the Canon Datascrip seminar delivered by Mr. Teoh Peng Kee)

9 thoughts on “Metering (inspired by Teoh Peng Kee)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *