Menggunakan Filter CPL (Circular Polarizer)

Salah satu filter yang “wajib” untuk landscaper adalah filter circular polarizer, atau disingkat CPL. Filter ini memiliki beberapa kegunaan :

  • Membuat warna lebih saturated dan kontras dan dengan demikian lebih hidup + menarik. Contoh aplikasi yang paling sering adalah membuat biru langit lebih terasa dan awan putih terasa lebih menonjol. Selain itu juga warna dedaunan yang lebih hijau dan bunga yang lebih berwarna.
  • Filter ini juga sering digunakan untuk menghilangkan sebagian / seluruh pantulan dari benda non metalik, misalnya air dan kaca. Hal ini sering berguna untuk memotret danau yang airnya sangat jernih. Kadang kita ingin menampilkan sedikit dasar danau itu. Yang sering menghalangi adalah pantulan cahaya di permukaan danau yang membuat danau seperti cermin langit. Menggunakan CPL kita bisa menguranginya, atau bahkan menghilangkannya.

Contoh yang menampilkan perbedaaan penggunaan filter ini adalah sebagai berikut :

Tanpa menggunakan CPL – 1/250 secs @ f8 ISO 200
Menggunakan CPL dengan setting minimum – 1/125 secs @ f8 ISO 200
Menggunakan CPL dengan setting setengah – 1/100 secs @ f8 ISO 200
Menggunakan CPL dengan setting maksimum – 1/60 secs @ f8 ISO 200

Dapat kita lihat bahwa penggunaan CPL membuat warna (terutama hijau dan biru pada foto ini) lebih menonjol karena lebih saturated dan kontras. Selain itu juga awan putih terasa lebih menonjol karena kontras dengan langit birunya.

Efek lain dari penggunaan CPL adalah berkurangnya cahaya yang masuk ke dalam kamera. Hal ini dapat dilihat pada setting Apperture Priority shutter speed nya terus menurun dengan diputarnya lensa CPL sampai efek maksimumnya. Jumlah cahaya yang dihambat filter tergantung pada merek dan teknologi yang digunakan. Pada filter dengan kualitas yang lebih baik selain saturasi & kontras yang lebih tinggi maka cahaya yang dihambat lebih sedikit. Dengan demikian memungkinkan memotret dengan shutter speed lebih cepat.

Filter CPL yang saya gunakan pada foto diatas adalah Hoya HD Series. Filter ini “dinobatkan” situ Ken Rockwell sebagai salah satu filter terbaik. Seri ini selain lebih tipis dan “tahan banting”, menjanjikan penurunan shutter speed yang lebih sedikit dibandingkan Hoya seri biasa, ataupun pesaing pesaingnya. Lihat perbedaan antara tidak menggunakan CPL (1/250 secs) dengan menggunakan CPL minimum setting (1/125 secs), yang artinya hanya lebih lambat 1 stop. Dan pada setting maksimum (1/60 secs) penggunaan Hoya HD hanya menurunkan 2 stop. Umumnya CPL lain mencapai 3 stop penurunannya.

Apabila setting yang sama dengan yang digunakan pada CPL Maksimum digunakan tanpa CPL hasilnya tentu saja over exposure seperti dibawah ini :

Tanpa menggunakan filter CPL, tapi dengan setting CPL maksimum – 1/60 secs f8 ISO 200

Cara menggunakan CPL

Cara menggunakan filter CPL cukup mudah. Cukup pasangkan filter ini di bagian depan lensa, lalu putar filter ini perlahan lahan. Efek filter ini akan terlihat langsung di viewfinder kamera anda. Jadi tidak perlu khawatir salah menggunakan. Cari setting / hasil yang paling maksimal barulah tekan tombol shutter kamera anda.

Karena penggunaan filter ini dengan cara diputar di depan lensa, maka kesulitan akan muncul untuk lensa ekonomis (misalnya lensa Canon EF-S 18-55 yang merupakan lensa kit) yang bagian depan lensa turut berputar saat melakukan auto focus. Hal ini karena setelah kita memutar CPL sampai efek maksimum maka filter bisa terputar lagi (saat auto focus) hingga efeknya tidak maksimum. Oleh sebab itu lensa dengan bagian depan tidak berputar biasanya lebih disukai oleh fotografer landscape. Walau tentu saja kita masih bisa mengakali hal ini dengan melakukan auto focus terlebih dahulu sebelum memutar filter CPL kita.

Filter CPL menghasilkan efek paling optimal pada sudut 90 derajat dari arah matahari. Jadi kalau kita menggunakan CPL dan memotret menghadap / membelakangi matahari maka efeknya tidak akan maksimal. Gunakan CPL dengan matahari bersinar di samping kiri atau kanan kita. Sedangkan untuk menghilangkan refleksi hasil maksimal diperoleh pada sudut 45 derajat dari permukaan.

Bagaimana sebenarnya CPL bekerja

Pada intinya CPL membantu menyusun polaritas cahaya yang masuk ke lensa, dengan demikian menguatkan saturasi dan kontras dari foto. Di wikipedia ada informasi lebih detil mengenai bagaimana proses polarisasi terjadi.

Courtesy of : http://www.camerafilters.com/pages/cpl.aspx

Tips penggunaan CPL

Jika anda menggunakan lensa super wide maka ada beberapa kendala yang mungkin muncul dari penggunaan CPL :

  • Tidak meratanya efek polarisasi. Hal ini mengakibatkan birunya langit menjadi tidak merata, kadang malah aneh karena misalnya agak gelap di tengah. Sejauh ini belum ada penangkal untuk hal ini selain perbaikan menggunakan photoshop dan tidak menggunakan efek maksimum dari CPL sehingga lebih tersamar.
  • Adanya vignetting (tampak gelap di sudut-sudut foto). Hal ini bisa disebabkan tebalnya tumpukan filter di depan lensa, sehingga ada yang “menutupi” jalan masuknya cahaya. Cara mengatasinya adalah dengan menggunakan CPL tipe slim (kekurangannya adalah selain harganya mahal, slim relatif lebih sulit di lepas). Atau kalau lensa yang digunakan belum terlalu ekstrem wide (hanya setara 24mm ke atas) bisa menggunakan CPL biasa, asalkan UV filter dilepas / tidak ditumpuk dengan CPL.

Karena CPL menghambat masuknya cahaya maka secara tidak langsung CPL dapat berfungsi sebagai filter Neutral Density dengan kadar rendah. Hal ini membuat filter ini bisa juga digunakan untuk membuat efek slow shutter, misalnya tampilan seperti kapas di air terjun / pantai.

Selain filter CPL ada juga filter polarizer (linier polarizer). Saya sendiri belum pernah menggunakannya, tapi inti perbedaannya ada pada fungsi auto fokus & TTL metering kamera. Apabila anda menggunakan fungsi auto focus pada kamera maka filter PL akan menyulitkan kamera mendapat fokus. Pada akhirnya menyulitkan anda memotret. Dengan kamera moderen yang kebanyakan menggunakan auto focus maka saya sarankan beli lah filter CPL, walau harganya sedikit lebih mahal daripada filter PL.

Filter CPL juga kadang saya gunakan untuk menghilangkan refleksi yang ada di tubuh serangga kecil di foto macro. Misalnya kepik. Apalagi saat kita menggunakan flash sebagai cahaya tambahan. Atau bisa juga saya gunakan untuk menghilangkan refleksi di kaca jendela saat pemotretan human interest. Jadi filter CPL bukan hanya untuk landscape melainkan juga bisa untuk macro dan yang lainnya.

Selamat mencoba 🙂





26 thoughts on “Menggunakan Filter CPL (Circular Polarizer)”

  1. Malam Bro Edo … Mau tanya sedikit nich .. saya memakai Canon 60d dengan 18-135 .. dan setelah saya membaca artikel dari mas Edo, saya tertarik untuk mendalami photo landscape dengan Lensa 10-22, kira kira untuk ini saya GND yang saya butuhkan seperti apa ya dengan holdernya … Terima kasih

  2. Mau nanya mas, saya pake tokina 11-16 mm, lebar lensanya 77 mm. Baca2 beberapa artikel, ada yang menyarankan untuk membeli filter CPL dengan lebar di atasnya lalu menggunakan step up ring. Jadi menggunakan ya 82 mm. Apakah itu lebih baik ketimbang langsung menggunakan yang 77 mm? rencananya sih, di atas CPL nya ditambah filter GND ato ND tergantung kondisi. Mohon pencerahannya, terima kasih

    1. Keuntungan dengan membeli 82mm + step up ring adalah menghindari vignette. Kerugian : lebih mahal, jauh lebih mahal. Silahkan di timbang timbang hehhee

  3. salam
    mohon petunjuk jika sy menggunakan lensa diameter 52mm dengan CPL size 77mm (menggunakan step up ring 52-77) apakah efek CPL nya masih akan tetap optimal, atau ada penurunan kualitas efek CPL nya dikarenakan perbadaan diameter lensa dan filter cukup jauh (52-77)
    apakah efeknya akan berbeda jika sy menggunakan filter CPL yang sama diameternya dengan lensa..??
    best regards

    1. Pertanyaan yang bagus sekali … saya sendiri belum mencoba langsung
      Secara teknis seharusnya tidak terjadi perubahan dampak, karena efek polarisasi nya merata
      Saya coba browsing di google juga nampaknya tidak dibahas, so kesimpulan sementara : aman

  4. Hallo mas Edo. Saya Icha. Baruu ja bljr jd ‘landscaper’. 😀
    Apakah ada saran filter CPL atau ND dahulu yg saya beli??
    Soalnya kantong jg lagi nipis :'(
    Thankyou mas,,dtggu sarannya 🙂

    1. Paling utama GND sebenarnya
      Tapi kalau antara CPL dan ND saya pilih ND. Hal ini dikarenakan CPL relatif lebih sedikit kegunaannya di landscape
      Apalagi dengan menggunakan lensa ultra wide
      Sedangkan ND (yang memadahi gelap nya ya) berguna untuk menimbulkan efek2 menarik di air maupun awan

  5. Mas.. Maaf nanya lagi ya! Hehehe.. Maklum masih belajar.. 🙂
    Untuk filter GND di pasaran kan bentuknya square. Apa untuk lensa kit 18-55 mm bisa di gunakan?? Lalu apa perlu ukuran khusus untuk ring adapterx mas??

    Saya pake lensa kit Nikkor AF-S 18-55mm f/3.5-5.6G VR II

    Makasih sebelumx mas. Di tunggu saranx.. 😉

    1. Ya, GND memang paling efektif bentuk kotak
      Semua lensa bisa pakai, tapi yang berbeda adalah akan ada vignette kalau kotaknya terlalu kecil di lensa yang terlalu lebar

      Untuk lensa 18-55 maka GND ukuran 85mm sudah memadahi
      Detil silahkan search artikel mengenai GND di motoyuk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *