Memproses RAW dengan Canon DPP

Seperti saya telah tulis sebelumnya bahwa saya memilih memotret menggunakan RAW demi fleksibilitas pemrosesan & kualitas foto. Fleksibilitas disini diantaranya memilih white balance yang lebih sesuai, adjustment exposure, picture style, saturasi, contrast, meningkatkan dynamic range foto, dll. Lalu bagaimana sebenarnya hasil dari RAW file?

img 9341 Memproses RAW dengan Canon DPP

Hasil pemotretan JPEG langsung dari kamera

raw langsung img 9341 small Memproses RAW dengan Canon DPP

Hasil pemrosesan RAW tanpa setting lebih lanjut

Dapat dilihat bahwa tidak banyak perbedaan antara JPEG langsung dari kamera dan RAW yang diproses tanpa melakukan setting apapun di Canon Digital Photo Profesional (DPP – aplikasi gratis dari Canon untuk pengolahan Canon RAW). Kalau kita lihat lebih detil hanyalah pada hasil pengolahan RAW detilnya di area highlight dan shadow relatif lebih baik. Tapi minimal sekali, hampir tidak kelihatan.

Berikut hasil yang akan kita peroleh setelah melakukan setting dan proses di Canon DPP :

hasil proses raw img 9341 small Memproses RAW dengan Canon DPP

Hasil yang akan diperoleh dengan pemrosesan RAW dengan Canon DPP

Terasa lebih menarik? Yup, karena foto kita yang sebelumnya RAW (mentah) sudah diproses (dimasak). Tentunya hasilnya lebih sesuai dengan kebutuhan. Ingat bahwa proses ini sepenuhnya tergantung selera, tidak ada “rumus benar salah” nya untuk parameter yang kita setting.

Saya memilih Canon DPP untuk memproses RAW hasil dari Canon dibandingkan beberapa converter RAW lainnya (misalnya Adobe Photoshop) karena beberapa faktor. Pertama karena aplikasi ini free, sudah bawaan setiap kali kita membeli kamera Canon. Kita juga bisa men-download-nya for free di internet. Fungsionalitasnya juga relatif memadahi. Dan terakhir karena support terhadap berbagai jenis kamera baru Canon relatif cukup baik. Di Adobe Photoshop kita harus menunggu Adobe mengeluarkan new RAW plugin kalau Canon mengeluarkan jenis kamera baru, dan kadang butuh waktu sampai plugin-nya tersedia.

Apabila anda tidak menggunakan Canon maka Adobe Photoshop merupakan pilihan yang cukup universal. Selain itu tiap produsen kamera juga mengeluarkan RAW converter mereka sendiri. Sebagian free, sebagian lain berbayar untuk versi profesionalnya. Berdasarkan info yang saya peroleh Nikon CaptureNX2 merupakan salah satu alat proses RAW terbaik untuk NIF (file RAW milik Nikon). Salah satu fiturnya yang menarik adalah “Control Point” dimana kita bisa mengatur Hue, Saturation & Brightness di titik tertentu saja di foto. Sayangnya memang software ini berbayar, tapi kalau mau coba trial version-nya bisa download di sini.

Sebelum RAW diproses kalau kita buka menggunakan Canon DPP maka setting yang ada adalah sebagai berikut :

setting awal Memproses RAW dengan Canon DPP

Parameter awal ini akan tergantung pada setting di kamera + picture style yang kita gunakan di kamera. Jadi bisa berbeda tentunya.

Oleh karena exposure foto sudah tepat maka saya tidak melakukan setting exposure compensation. Setting yang pertama saya lakukan adalah white balance. Pada pemotretan saya menggunakan setting “Daylight” di kamera. Hasilnya foto hasil dari kamera agak terlalu “dingin” (cenderung biru) tonalnya, menurut selera saya. Oleh sebab itu saya ubah white balance nya menggunakan color temperature di 7000 Kelvin. Foto dengan arsitektur cafe seperti ini ingin saya sampaikan dengan tonal yang lebih warm (cenderung kuning) dan dengan demikian mood nya lebih bersahabat.

Untuk picture style saya tetap menggunakan Landscape karena memang ingin menonjolkan saturasi dari foto. Saya bisa menggunakan picture style yang lain apabila saya ingin tentunya. Ini salah satu kelebihan memotret menggunakan RAW. Kita bisa mencoba mana yang lebih cocok dengan mood yang kita ingin sampaikan.

Selanjutnya saya setting histogram, contrast, highlight dan shadow. Semua setting ini bertujuan untuk memaksimalkan dynamic range dari foto. Maksudnya bagian yang terlalu terang bisa kita kurangi sedikit dan bagian yang gelap kita angkat sedikit detilnya, sehingga tiap detilnya masih bisa terlihat. Nanti lihat perbedaan di bagian langit atas (highlight) dan bayangan di jendela (shadow) sebelum dan sesudah setting RAW kita lakukan. Kontras kita setting sesuai dengan selera dan membaca histogram yang ada.

Lalu saturasi warna kita setting juga sesuai dengan kebutuhan dan selera. Sedangkan Sharpness saya setting tidak sampai maksimal. Kalau kita setting sharpness terlalu maksimal maka cenderung noise muncul di area shadow. Oleh sebab itu saya memilih untuk melakukan setting seperlunya sembari melihat dalam skala 100% apakah noise nya muncul. Dalam kasus foto ini maka saya melakukan setting sharpness di level 8. Nanti setelah saya melakukan resize foto barulah saya melakukan unsharp mask di Adobe Photoshop.

Dengan demikian setting akhir adalah sebagai berikut :

setting akhir Memproses RAW dengan Canon DPP

Kemudian saya memilih “Save and Convert” untuk menyimpan setting ini di komputer yang saya gunakan dan mengubah RAW menjadi format yang saya inginkan. Saya bisa memilih banyak format, diantaranya TIFF dan JPEG. Dan….voila, foto hasil proses saya selesai dibuat. Saya tinggal menggunakan Adobe Photoshop untuk melakukan resize foto sesuai kebutuhan dan menggunakan filter unsharp mask sesuai kebutuhan sebelum save foto tersebut.

MOTO YUK !!!

———-

Note :

  • Pada foto ini saya tidak melakukan setting di tab RGB. Tab ini merupakan setting tambahan yang bisa dilakukan apabila diperlukan, misalnya curve, additional RGB saturation, contrast & sharpness setting. Jika tidak diperlukan tidak perlu setting di tab ini.
  • Selain tab RGB maka ada juga tab untuk Noise Reduction & Lens Optimization yang dapat digunakan apabila diperlukan. Di dalamnya mencakup juga setting untuk mengurangi efek vignetting dan distorsi dari lensa.






15 thoughts on “Memproses RAW dengan Canon DPP”

Leave a Reply MY-ers ...