Membaca spesifikasi kamera

Pernah melihat spesifikasi kamera, misalnya di Dpreview.com ? Contohnya mungkin spesifikasi Canon EOS 1D Mark IV berikut ini :

Di artikel ini saya akan membahas beberapa istilah yang penting diperhatikan dan dampaknya terhadap kemudahan memotret.

Sensor & Image Processor

Bagian ini menunjukkan besar ukuran sensor yang digunakan oleh suatu kamera. Secara umum ada 5 jenis ukuran yang digunakan di DSLR pada umumnya :

  • Full Frame / Nikon FX : ukuran sensor relatif paling besar untuk DSLR. Sensor ini digunakan di Canon 1Ds Mark III, Canon 5D Mark II dan juga Nikon D700 dan D3x juga Sony Alpha-900. Ukuran sensornya sekitar 36 x 24mm.
  • APS-H : digunakan di Canon 1D Mark III dan 1D Mark IV. Ukuran sensornya 27.9 x 18.6 mm. Dengan demikian crop factor nya adalah 1.3x
  • Nikon DX : digunakan di hampir kebanyakan kamera Nikon, Sony, Pentax, dengan ukuran 23.6 x 15.8mm maka crop factornya 1.5x. Sensor ini bisa ditemui di Nikon D5000, D90, D300s.
  • APS-C : digunakan di Canon entry / semi-profesional level, misalnya Canon 1000D, 550D, 50D dan 7D. Ukuran sensornya 22.3 x 14.9mm dengan crop factor 1.6x
  • Four Third : digunakan di kebanyak kamera Olympus. Ukuran sensornya 17.3 x 13mm. Hal ini membuat kamera dengan sensor ini memiliki crop factor 2x.
Canon 1D Mark IV Sensor - courtesy of : http://www.photoradar.com/files/articles/news/november2009/canon-1d-mark4-cmos-sensor-design.jpg

Ukuran sensor tidak berhubungan langsung dengan resolusi / Mega Pixel yang dimiliki kamera (karena tergantung kerapatan pixel yang ada di sensor tersebut). Ukuran sensor juga tidak selalu berhubungan dengan kualitas foto yang dihasilkan (karena tergantung jenis sensor yang digunakan dan teknologi lainnya).

Tapi memang ukuran sensor yang lebih besar cenderung menghasilkan foto yang lebih baik (lihat hasil test di : Kenrockwell). Lebih baik disini dimaksudkan lebih tajam dengan saturasi dan kontras warna yang lebih baik. Selain itu penggunaan sensor yang lebih besar memang cenderung menghasilkan noise yang lebih rendah. Jadi overall, ya memang sensor yang lebih besar menghasilkan kualitas yang lebih baik. Tapi lihat kembali kasus per kasus dan juga apakah benar-benar kita membutuhkannya (mengingat harganya yang juga relatif lebih tinggi).

Prosesor di kamera (dikenal dengan nama DIGIC di Canon dan EXCEED di Nikon) sama layaknya prosesor di komputer melakukan pengolahan data. Penggunaan prosesor yang lebih baik (dan seringkali jumlahnya lebih banyak) bisa berarti :

  • Penyimpanan gambar yang lebih cepat, yang berdampak pada “frame per second” rate yang lebih tinggi. Walaupun memang hal ini juga bergantung banyak hal lain, seperti juga kecepatan memory card kita dalam menulis.
  • Kualitas foto yang lebih baik (dalam hal saturasi, kontras dan noise)
  • Auto focus yang lebih baik (kecepatan dan akurasi-nya)
  • Exposure yang lebih baik akibat metering yang lebih presisi

Penggunaan prosesor yang lebih baik akan tercermin di berbagai aspek dari kamera, misalnya noise, saturasi, fps, kecepatan AF, metering, dll. Jadi aspek ini tidak perlu dipusingkan terlebih dahulu bagi pemula.

Auto Focus

Aspek pertama dalam informasi mengenai auto focus adalah jumlah titik auto focus yang dimiliki kamera. Memang semakin banyak akan semakin baik (dan semakin mahal). Mengapa? Karena akan mempercepat proses auto focus dan juga kalau kita menggunakan semua titik auto focus maka area yang di cover akan makin luas. Tetapi lebih banyak tidak selalu berarti lebih baik. Hal ini karena yang paling penting sebenarnya adalah keberadaan cross sensor.

Cross sensor menggunakan 2 jenis sensor, horisontal dan vertikal. Dengan demikian membentuk seperti tanda salib. Oleh karena memiliki sensor vertikal dan horisontal maka jenis sensor ini lebih sensitif dan akurat dibandingkan sensor biasa. Oleh sebab itu 45 titik AF tapi hanya memiliki 9 cross sensor dibandingkan dengan 19 titik AF tapi semuanya cross sensor tentunya relatif masih lebih baik yang 19 cross sensor.

Canon 1Ds Mark III memiliki 45 titik fokus dengan 39 nya adalah cross sensor.

Courtesy of : http://www.cambridgeincolour.com/tutorials/camera-autofocus.htm

Cross sensor sendiri biasanya ada 2 jenis, ada yang sensitif sekali dan yang biasa. Yang super sensitif ini biasanya diletakkan di titik tengah, sebagai titik yang paling sering digunakan sebagai titik fokus. Dengan menggunakan titik super sensitif ini maka kita bisa mendapatkan akurasi fokus yang lebih baik dan cepat. Tapi titik super sensitif ini biasanya hanya aktif apabila lensa kita memiliki apperture lebih rendah atau sama dengan f2.8. Jadi kalau lensa kita misalnya EF 24-70 f2.8 maka titik tengah akan menjadi super sensitif, sedangkan jika lensa kita EF 24-105 f4 maka titik tengah menjadi sensor cross biasa.

Selain informasi mengenai jumlah titik auto fokus dan cross sensor maka ada informasi lain yaitu “AF Working Range”. Karena auto fokus bekerja salah satunya menggunakan contrast detection maka terang dan gelap satu obyek yang dijadikan titik acuan fokus menjadi penting. Kalau terlalu gelap atau terlalu terang maka auto fokus menjadi bingung dan tidak dapat bekerja dengan baik. AF Working Range menyatakan sampai segelap & seterang apa AF masih bekerja. Angka negatif menunjukkan tingkat gelap, dan angka positif menunjukkan terang. Dengan angka ini kita bisa membandingkan 2 kamera mana yang lebih baik dalam hal penanganan auto fokusnya.

Penjelasan lebih detil mengenai bagaimana Auto Fokus bisa bekerja bisa diperoleh di site ini.

Exposure Compensation

EV atau exposure compensation biasanya berguna apabila kita menggunakan mode Av ataupun Tv. EV digunakan untuk mengkompensasi apabila metering kamera “tertipu” dengan kondisi ekstreem seperti misalnya : pemotretan daerah bersalju, pemotretan dengan background sangat gelap, pemotretan dengan backlight yang sangat kuat.

Umumnya kamera hanya memiliki EV antara -3 s/d +3. Untuk kebanyakan situasi maka hal ini sudah mencukupi, tapi kadangkala dibutuhkan kompensasi yang lebih ekstrem. Oleh sebab itu EV -5 s/d +5 adalah tambahan yang menguntungkan.

Viewfinder & Viewfinder Info

Ini adalah aspek yang seringkali dilupakan. Viewfinder kamera pada umumnya tidak mencakup 100% area yang akhirnya dipotret, biasanya hanya berkisar 95-98% area. Hal ini tentunya agak menyulitkan di beberapa komposisi yang ketat. Karena kita jadi harus mengira – ira sampai mana sensor kita menangkap gambar. Kalau anda sering memotret landscape dan obyek lain yang membutuhkan presisi (what you see in viewfinder = what you get) maka carilah kamera dengan viewfinder frame coverage 100%. Misalnya Canon 7D atau Canon 1D Series.

Viewfinder info seringkali diremehkan. Padahal kelengkapan informasi yang ada di viewfinder sangat menentukan sukses atau tidaknya pemotretan. Pernah mendengar fotografer lupa mengubah ISO 1600 yang digunakannya semalam menjadi ISO200 di keesokan harinya? Sayang sekali bukan memotret di siang hari menggunakan ISO 1600. Resiko seperti ini sedikit berkurang apabila fotografer mampu melihat informasi ini di viewfinder, tepat saat dia ingin mengambil foto.

Canon 1D Mark IV - courtesy of : www.dpreview.com

 

Viewfinder Nikon D3s - courtesy of : www.dpreview.com

Umumnya makin tinggi kelas dari satu kamera maka makin banyak informasi yang bisa ditampilkan di viewfinder. Tapi bagi saya yang penting adalah indikasi-indikasi setting seperti Apperture, Shutter Speed, ISO, EV Level, Metering Mode, AE Lock, format file (JPEG / RAW). 7 Aspek ini saya rasa merupakan aspek yang paling menentukan exposure yang kita peroleh dan kualitas foto yang kita akan simpan.

Tentunya tidak semua yang kita inginkan bisa terwujud dalam satu kamera yang sesuai dengan budget kita, atau ukuran kamera yang kita mau. Semuanya kembali pada pilihan kita, bidang fotografi yang kita suka, kebiasaaan kita, budget kita, dll. Well, it’s not the gun, it’s the man behind the gun. Peralatan bukanlah segalanya, peralatan yang canggih hanya membantu memudahkan kita mendapat hasil yang kita inginkan, tidak menjamin kita menghasilkannya.

MOTO YUK !!!

2 thoughts on “Membaca spesifikasi kamera”

  1. sbelumnya thx buat infonya…sebagai pemula saya sgt terbantu,,
    tp sy mau nanya tentang metering mode..misalnya spot metering,itu paling pas digunakan buat foto apa??apa portrait,landscape or else…dan penjelasan mode yang lainnya gimana…

    thx

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *