Macro @ Kota Wisata Cibubur

Fotografi Makro memang jenis fotografi “dimana saja”. Bahkan lahan ilalang di belakang kompleks rumah pun bisa menjadi arena motret yang menyenangkan.Kali ini saya memotret menggunakan paduan Canon EOS 40D dan EF 100mm f2.8 Macro L IS. Canon 40d memiliki crop factor 1.6x, akibatnya saya memang merasakan kehilangan aspek wide yang sebelumnya saya peroleh di 5d Mark II. Tapi serangga yang saya potret menjadi “lebih besar” karena di crop oleh sensor. Sebenarnya hasil yang sama bisa saya peroleh dengan melakukan crop pada hasil Canon 5d Mark II, mengingat resolusi yang dihasilkan 21 MPixel (Canon 40d di 10.2 MPixel).

Ukuran serangga di foto ini hanyalah sekitar 1 mm, tetapi detilnya bisa ditangkap dengan baik dikarenakan adanya crop factor (hasil di bawah ini tidak di crop lagi dari kamera).

Selain aspek crop saya juga agak kerepotan karena ISO di 40D hanya “mentok” sampai 800. Diatas ISO tersebut sudah mulai noise cukup parah. Lain dengan 5d Mark II yang mampu sampai 1600 / 3200 dengan tingkat noise yang sama dengan di ISO 800 Canon 40D. Dengan kondisi pencahayaan jam 5 petang saya hanya mampu menggunakan f8, bukan f16 misalnya. Akibatnya ada beberapa foto yang depth-nya tidak sesuai yang saya inginkan sebenarnya. Hal ini dikarenakan pada ISO 800 f8 kecepatan rana hanya 1/25 seconds. Ini adalah batas terendah kemampuan IS dari Canon 100mm f2.8 Macro L IS.

Seperti kita ketahui lensa ini memiliki Image Stabilizer (IS) dengan kemampuan 4 stop untuk pemotretan biasa, tetapi hanya 2 stop untuk makro. Oleh karena focal length nya 100mm maka kecepatan minimal yang dibutuhkan sebelum blur karena goyang adalah 1/focal length = 1/100 seconds. Jadi minimal kecepatan rana harus segitu apabila tidak ada IS. Untuk Makro IS mampu menahan sampai dengan 2 stop, yaitu 1/25 seconds (1 stop = 1/50 secs, 2 stop = 1/25 seconds). Apabila saya kecilkan lagi apperture menjadi f16 (2 stop diatas f8 : f8, f11, f16 – baca artikel mengenai apperture / f stop apabila mulai bingung) maka speed nya bisa turun menjadi 1/5 seconds. Jauh dibawah kemampuan IS menahan goyangan, sehingga blur kemungkinan besar akan saya peroleh. Untuk itu saya tetap memilih menggunakan f8 walau depth-of-field nya kurang. Hal ini terlihat dari foto 2 serangga warna oranye, saya tidak bisa membuat serangga yang dibelakang sharp.

Saya juga mengeksplorasi picture style “Infrared Wannabe” milik Sukandia (silahkan cari artikel sebelumnya mengenai ini). Foto daun dengan hampir keseluruhan putih tetapi urat daunnya masih oranye adalah hasilnya, langsung dari kamera tanpa menggunakan post production di Adobe Photoshop. Hal ini jelas mengurangi waktu proses. Picture style ini pada prinsipnya men-desaturated warna hijau. Jadi cukup cari obyek dengan highlight & shadow yang menarik, memiliki komponen warna hijau dan warna lain, dan jepret, selesai.

Berikut adalah gallery lengkap hasil-nya :

MOTO YUK !!!


8 thoughts on “Macro @ Kota Wisata Cibubur”

  1. Asik juga ternyata foto binatang kecil ya. hasilnya bagus bung.
    Bung Edo, bagaimana warna warni ini bisa tampak cerah? apakah menggunaan file JPEG atau RAW format ya?

    1. Hi Andrie, warna nampak cerah bukan karena type JPEG / RAW nya. Tapi lebih karena :
      – exposure yang tepat – pahami karakter lensa & kamera + scene
      – saturation – gunakan picture style standard dengan saturasi +2 atau +3
      – white balance – gunakan white balance yang tepat, dalam kebanyakan kasus makro : daylight

      semoga membantu

  2. mantap kolase makronya om dan ada beberapa foto yg komposisinya menurutku nanggung dan di foto ini. foto om Edo saya perhatikan 95% menggunakan available lighting ya? Om Edo saya mohon Ijin untuk Sedikit Share tentang foto makro.
    1.keuntungan dengan available lighting adalah bisa mendapatkan cahaya yg merata, dan tdk menggunakan biaya sebab terbantu dari alam, kekurangan foto tajem namun tdk terlihat begitu detil itu menurut pengalaman saya saja, keterbatasan dalam artian tak bisa memtret pada saat pagi jam 6-7 bila di semak belukar di sababkan kurangnya cahaya apalagi saat mendung, dan bila mata sdh terbiasa dengan available pastinya akan kurang sreg menggunakan flash.
    2. Menggunakan internal flash+tub buatan sendiri seperti dari kotak odol dll sesuai kreasi masing2,dan lebih manjur jika menggunakan flash khusus makro yaitu Ring flash yang di pasang tepat pada depan lensa, Harga Ring Flash yg branded cukup mahal meski kini telah banyak dijual merk lain yg cukup terjangkau. keuntungan dgn terbiasa dgn bantuan flash, yaitu bisa kapan saja dan tek mengenal gelap dan terangnya cuaca karena sdh di bantu oleh flash, kemudian hasil tajem dan detil kelemahan 50% akan mendapatkan BG yg tdk cerah dan ribet bila menggunakan flash external (berat dan repot)heheheh.

    Reverse Ring
    Alat yang banyakdiminati oleh pemakro, alasan utamanya harga yg terjangkau. Reverse Ring adalah sebuah linkaran fitting bayonet yg berfungsi utk menyambung bagian muka lensa dengan kamera atau dengan kata lain posisi lensa terbalik . Dengan menggunakan reverse ring otomatis hanya dapat menggunakan mode manual karna merupakan penghubung non elektronik.namun teman saya menggunakan lensa nikon ke body canon dengan mengorbankan lensa canon untuk di potong dgn maksud untuk mengambil mounting canon untuk di tempel pada lensa nikon dan menyambung kabel agar aperture dan speed dapat berfungsi dengan baik Hasil yg direkam dengan bantuan alat ini sangat xtreme tajam meski DOF cukup sempit. semoga bermanfaat.dan banyak lagi jenis filter buat makro cuman tangan pegel ngetik hehehehe apalagi di gangguin anak hahahah.

    salam makromania

  3. lupa tambahan MF atau manual fokus sangat di wajibkan untuk foto makro lasannya agar bisa mendapatkan fokus yg lebih dekat. dan gunakan mode spot metering agar fokus lebih mantap, jika menggunakan AF auto fokus kadang2 meleset menurut pengalaman saya.dan jarak bila menggunakan AF paling banter 30 cm sedang MF bisa sampai 15cm .

    Amole

  4. Wah tambahan yg sangat lengkap mas wir 🙂 thank u yak.
    Buat komposisi sih selera + saya juga masih belajar, jadi silahkan ya masukannya 🙂
    Buat flash betul sekali ulasan mas wir. Saya terus terang ga ahli pake flash makro, hasilnya sering bikin saya ga puas karna warna kurang natural + bg gelap. So sampai saat ini masih ‘mencintai’ available light.
    Kalau Manual Focusing saya agak beda ama mas wir, karna pake custom function iv di canon maka saya bisa ‘pindah’ mf ke af & sebaliknya dng cepat. Jadi biasanya saya pake mf buat dapat fokus kira2, lalu pake af buat focusing ke detil, lalu mf lagi buat fine tuning 🙂
    Thanks sharingnya mas wir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *