Macro @ Bandung

Makro lagi? Well, belum dapat kesempatan untuk motret yang lain. Jadi sementara masih makro ya. Lagipula saya belum sepenuhnya eksplore 5d Mark II & 100mm f2.8 Macro IS L yang baru dibeli.

Bandung adalah kota yang masih relatif asri, terutama bandung utara. Jadi tidak heran kalau obyek makro bertebaran. Pemberhentian pertama pada liburan kali ini adalah Rumah Strawberry di daerah terusan sersan bajuri.

Selain makanannya (terutama nasi liwet) yang enak, tempat ini penuh dengan obyek makro di area taman-nya. Baru jalan sebentar saya sudah menemui rumpun bunga dengan kupu-kupu berterbangan. Memotret kupu-kupu seperti ini memang idealnya menggunakan lensa panjang, lebih panjang dari 100mm f2.8 yang terpasang di kamera saat itu. Lensa 70-200 f2.8 yang dipadu dengan teleconverter adalah salah satu opsi yang baik. Selain focal length yang panjang, lensa ini + TC juga memiliki focus distance yang cukup pendek untuk dapat pembesaran maksimal.

5dm2 + 100mm f2.8 macro IS L | Av @ f2.8 | 1/320 secs | AutoISO @ iso100 | EV -1/3 | Standard Picture Style with Saturation +2 | Daylight WB

Pemotretan dilakukan dengan apperture lebar f2.8 untuk mendapatkan depth-of-field. Walau ramai dengan warna bunga tapi foto ini terbantu dengan background gubug kayu yang berwarna coklat (bagian atas), sehingga tidak penuh dengan warna tapi cukup mencerminkan keceriaan & keindahan yang ada disana.

Selain kupu-kupu tentunya banyak juga ulat bulu. Tidak seperti biasa ulat bulu disini warnanya cerah, kuning muda. Oleh sebab itu sangat tepat kalau dicari background yang sama cerahnya, merah-hijau-ungu. Paduan ke-empat warna ini memberikan harmoni tersendiri.

5dM2 + 100mm f2.8 Macro IS L | Av @ f7.1 | 1/80 secs | AutoISO @ ISO400 | EV-1 | Standard Picture Style with +2 Saturation | Daylight WB

Saya senang menggunakan AutoISO belakangan ini karena ini jauh menyederhanakan pekerjaan. AutoISO di Canon memang agak terbelakang dibandingkan Nikon. Kita tidak bisa melakukan setting batas maksimal ISO yang mau digunakan. Canon sudah melakukan setting dari pabrik. Setting ini cukup memadahi karena Canon memberikan batas maksimal di ISO yang masih “bebas” noise untuk tiap kamera. Untuk kasus 40d misalnya batas AutoISO adalah ISO800, sedangkan di 5dMarkII batas maksimalnya ISO3200 (salah satu sebab saya cinta full frame).

Keesokan paginya saya kembali berburu makro di dekat area universitas Maranatha, Bandung. Kebun-kebun masih tersedia di pinggir jalan. Jadi tinggal parkir mobil di pinggir jalan dan lokasi hunting sudah tersedia. Kali ini yang saya temui pertama kali adalah Lady Bug.

5dM2 + 100mm f2.8 Macro IS L | Av @ f8 | 1/100 secs | AutoISO @ ISO640 | EV -2/3 | Standard Picture Style with +2 Saturation | Daylight WB

Daylight white balance & Standard Picture style (dengan saturasi +2) adalah salah satu kunci agar warna-warna alam dapat keluar semua. Dalam foto-foto diatas saya kebanyakan menggunakan available light (kebetulan sedang agak mendung, sehingga sinar matahari ter-diffuse sempurna). Wajar kalau saya menggunakan Daylight White Balance agar warna menjadi tepat. Canon memiliki saturasi standard bawaan pabrik yang relatif agak rendah, lain dengan nikon. Untuk mengatasinya maka kita perlu melakukan setting pada Picture Style (saya sarankan gunakan Standard), yaitu dengan menambahkan saturasi nya antara +2 atau +3.

5dM2 + 100mm f2.8 Macro IS L | Av @ f8 | 1/80 secs | AutoISO @ ISO160 | Standard Pics Style +2 Saturation | Daylight WB

Kadang kita harus memindahkan si obyek agar lebih pas. Dalam kasus diatas saya memindahkan si lady bug dari rerumputan di sekitar ke bunga liat yang ada di dekatnya. Tenang, lady bug tidak menggigit dan relatif sangat mudah di handle. Begitu sudah di bunga dia akan mencoba explore lokasi barunya, pada saat itulah kita harus cepat memotret pada saat di posisi yang kita rasa menarik. Bunga di foto ini ukurannya hanya sekitar 1,5 cm, sangat kecil. Agak sulit membuat kelopak bunga tidak over exposure, karena warna-nya yang putih, saya lebih memilih exposure di lady bug yang tepat dan mengorbankan over exposure pada kelopak bunga nya.

Salah satu kelebihan full frame adalah kita bisa crop dengan nyaman. Hal ini karena resolusi yang sangat tinggi dan juga detil yang masih terjaga. Crop yang tepat bisa memberikan penekanan yang berbeda pada obyek yang kita foto. Misalnya di hasil crop dibawah ini kita tekankan detil dari bunga & lady bug nya.

Selain lady bug ada banyak pula binatang kecil lainnya. Salah satu binatang kecil yang saya peroleh dan saya sangat suka dengan hasilnya adalah keong ini. Keong ini nempel di ilalang, jadi memotretnya relatif cukup mudah. Saya menggunakan fasilitas Live view dengan pembesaran 5x untuk memastikan ketajaman tiap detil rumah keongnya. Salah satu keuntungan lain dari Live View adalah kamera dalam posisi mirror lock-up. Hal ini mengurangi getaran pada saat shutter ditekan. Akibatnya? Hasil yang lebih tajam.

5dM2 + 100mm f2.8 Macro IS L | Av @ f8 | 1/30 secs | AutoISO @ 800 | Daylight WB | Standard Pics Style with +2 saturation

Foto ini menjadi enak dilihat kalau menurut saya dikarenakan matahari yang tertutup awan (diffused) dan juga agak backlight sedikit, sehingga rumpun ilalang di belakangnya bisa keluar warnanya. Agar lebih dramatis saya tambahkan efek vignette di sekeliling foto menggunakan plugin di Adobe Photoshop.

Tidak hanya hewan kecil, hewan dengan ukuran besar juga bisa menjadi obyek yang menarik. Kebetulan teman saya melihat ada bunglon yang sedang nangkring di pohon pisang. Untuk mendekatinya kita harus perlahan dan bertahap. Kalau kita buru-buru maka dia akan kabur. Salah satu tips lain adalah : jangan mandi dulu sebelum motret makro, hewan-hewan sangat sensitif dengan bebauan yang kita gunakan (sabun, deodoran, parfum, dll).

5dM2 + 100mm f2.8 Macro IS L | Av @ f8 | 1/100 secs | AutoISO @ 250 | EV -2/3 | Daylight WB | Standard Pics Style +2 Saturation

Keren detilnya? Yup itulah lensa makro, sangat presisi dalam hal detil. Kenapa EV saya set -2/3 ? Karena background dan keseluruhan foto yang cenderung terang, jadi kalau tidak saya set -2/3 akan ada over exposure di beberapa bagian, juga kontras dari foto agak berkurang.

Tapi tidak cukup sampai sini, extreme crop dari foto ini akan menampilkan detil yang terbaik yang memang saya sudah rencanakan sejak melihat obyek ini.

Dengan melakukan crop ekstrim seperti ini kita ingin munculkan detil dari si obyek, yang menurut saya merupakan area yang sangat menarik. Detil di mata bunglon ini khas dan juga warna-warnanya sangat kontras. Jadi sebelum memotret bayangkan dahulu seperti apa hasil yang kita inginkan, lalu eksekusi dengan sebaik-baiknya.

Salam makro …. Salam MOTO YUK!!!





9 thoughts on “Macro @ Bandung”

  1. untuk foto kepiknya yg di daun miss fokusya kalau di cermati fokus terletak pada punggung kepik, sedang yang ulat bulu contarastnya perlu di tambah begitu pun dengan sharpnya agar tone kuning dan itemnya serta ijonya bisa lebih terlihat lbh ok dan kepik pada bunga menurutku sasaran tengelam oleh besarnya bunga makin di crop makin tenggelam,. dan untuk foto bunglon ijonya perfect menurutku 4 thumbup.
    pertanyaan apakah foto om Edo sdh di postprocessing?

    salam macro

  2. Thanks mas wir 😀 benar sekali agak mis yg kepik. Sebenarnya saya punya yg sharp di mata, tapi di punggungnya tidak. Overall f8 kurang nampaknya. So memilih antara agak kurang sharp di mata & punggung yg lebih mendominasi akhirnya saya pilih punggung hehe. Next time kita coba lagi better.
    Kalau ulat bulu menurut saya bukan kontras & sharpness, tapi dof nya kurang. Kalau kontras dinaikin terlalu jauh shadow & highlight / midtone nya.
    Yg bunga & kepik benar sekali, padahal saya dah pilih bunga dng ukuran super mini hahaha
    Yg bunglon (dan semua) post processing nya hanya dari raw ke jpeg menggunakan canon dpp. Di canon dpp biasanya hanya naikin sharpness & saturation (dari picture style +2 tapi kadang butuh ampe +3)
    Yg keong menurut saya di 100% dah sharp sih, guratannya halus, jadi agak memberi halusinasi blur mungkin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *