Liburan dulu …

Bahkan saya juga butuh libur wkwk … September ini kebetulan jadwal sangat penuh, jadi mungkin saya tidak sempat menulis banyak. Buat my-ers yang berminat mengisi artikel dipersilahkan kirim ke register@motoyuk.com ya … yah, bantu bantu saya nulis lah, siapa tahu kalau tulisannya bagus bisa jadi penulis di buku fotografi motoyuk yang akan segera terbit.

Saya hanya akan share beberapa foto hasil hunting beberapa waktu lalu. Semoga tetap menginspirasi.

Foto ini diambil saat acara motoyuk di Pramestha, Bandung. Yang jadi kendala dalam pemotretan ini adalah kondisi luar yang terlalu terang, sehingga saya perlu mengambil foto dalam format RAW, lalu saya buat 2 JPEG konversi. Satu yang under (untuk bagian jendela nantinya) dan satu lagi yang normal (untuk area lainnya). Setelah itu saya tumpuk dan masking di Photoshop (cara buat masking? Search saja di YouTube juga banyak)

PS : Tidak bisa menggunakan GND yang biasa saya gunakan untuk mengatasi masalah seperti ini dikarenakan yang over exposed terletak di tengah-tengah foto.

Lain dengan foto dibawah yang kondisi pencahayaannya rata. Oleh karena itu saya cukup mengambil 1 exposure saja, tidak perlu combine. Tapi point of learningnya adalah menggunakan lengkung bangunan di belakangnya dan kontras warnanya untuk menciptakan foto yang menarik. Tanpa bangunan tersebut tentunya foto ini akan biasa saja. Jadi memang mata harus jeli.

Learning point lainnya adalah warna merah cenderung mudah “washed-out” dengan sedikit saja over exposed. Oleh sebab itu harus hati-hati mengatur exposure supaya tidak kelebihan. Cenderung malah kurangi 1/3 dari normal. Hal ini supaya menjaga warna merah tetap keluar dengan baik.

Foto yang dibawah ini diperoleh candid saat menginap di hotel di Bali, urusan kantor … biasa. Harus jeli dan gerak cepat memang, kalau tidak momennya hilang. Ini saja cuma dapat 2 frame, satunya lagi berantakan karena pose si anak bule sudah kemana mana, plus orang tuanya sudah makin dekat sehingga masuk ke dalam frame. Tidak enak lah. Jadi praktis cuma dapat 1 frame saja yang bagus, satunya di delete 🙁

Aperture lebar (f2 dalam kasus ini) digunakan untuk membokehkan background, dan dengan demikian memisahkan si obyek dari background yang cenderung “ramai”. Teknik ini umum digunakan supaya tidak “nempel” antara point-of-interest (si anak) dan background nya. Tapi saya dapat “bonus” dengan adanya pantulan cahaya matahari di dedaunan, yang menciptakan bulatan – bulatan cahaya.

Tentunya saya perlu melakukan dodging dan burning (menerangkan & menggelapkan) area tertentu dari foto ini, karena dynamic range dari kamera gak sanggup lagi. Tapi ini hal yang wajar (dan mudah kok) untuk dilakukan, semenjak jaman film dulu bahkan. Cari saja di YouTube untuk tutorialnya.

Foto yang satu ini diperoleh bukan dengan lensa makro lho. Ini menggunakan lensa 35mm … yang kebetulan memang memiliki fitur semi-makro (1:2). Carl Zeiss Flektogon 35mm f2.4 lebih tepatnya.

Jadi, lensa memiliki yang namanya Minimum Focus Distance (MFD) yang menjadi batasan paling dekat suatu lensa masih bisa fokus. Makin dekat ya artinya pembesarannya makin besar, menjadi semi atau bahkan real-macro lens. Lensa yang saya gunakan ini bisa fokus sampai sedekat 20 cm … makanya tawon ini bisa keliatan besar, walau crop cuma sedikit. Ini salah satu karakter lensa, selain sharpness dll.

Saya sengaja menggunakan dof super tipis (di f2.4) untuk menciptakan kesan beda. Tentu saja ada yang akan suka dan ada yang tidak. Tapi tidak masalah bukan? Selama saya sendiri yang memotret menyukainya?

Moto terus …..

Leave a Reply MY-ers ...