Lensa non full frame di kamera full frame

Beberapa waktu lalu ada teman yang karena fanatik ama merk lensa tertentu ingin menggunakan lensa non full frame ke kamera full frame nya. Apakah ini satu langkah yang bijaksana? Coba dipikir hayo hehehe ….

Lensa non full frame di desain memang untuk body non full frame (ada crop factor). Karena sensor dengan crop factor lebih kecil ukurannya maka “pantat” lensa non full frame bisa menjorok lebih dalam, lebih dekat ke si sensor. Lihat pada foto di bawah ini lensa non full frame (type EF-S kalau di canon – sebelah kiri) memiliki ujung yang lebih menonjol dibandingkan lensa full frame (EF kalau canon – sebelah kanan).

Hal ini membuat lingkaran gambar yang dihasilkan lensa juga lebih kecil dibandingkan lensa full frame. Lihat ilustrasi di bawah ini – pada ilustrasi ini terlihat mengapa lensa EF-S tidak bisa digunakan di kamera full frame. Simply karena image circle EF-S lebih kecil dibandingkan sensor full frame. Akibatnya adalah munculnya vignette (lebih tepat disebut blockage karena hitam total) pada foto yang dihasilkan.

Belum lagi ada resiko tersangkutnya mirror dari kamera full frame (ingat lensa EF-S memiliki pantat yang lebih menjorok dibandingkan lensa EF). Resiko terburuk? Mirrornya retak / pecah saat menghantam pantat lensa tersebut.

Hal ini yang juga menyebabkan walaupun lensa Nikon seri DX (non full frame) bisa digunakan di kamera full frame Nikon tetapi ada crop factor. Misalnya D700 yang memiliki total 12 MPixel apabila digunakan lensa DX hanya akan menghasilkan foto dengan kualitas 5 MPixel. Pemotongan ini tentunya merupakan kerugian yang paling besar. Kita menggunakan kamera full frame yang mahal justru dikarenakan ukuran sensor yang besar (dengan segala kelebihannya). Masak kita mau memotongnya hanya demi menggunakan lensa non full frame?

Kerugian lain adalah simply lensa non full frame tidak di desain untuk sepadan dengan detil yang mampu ditangkap oleh sensor full frame. Ibaratnya si sensor mampu menangkap resolusi sampai dengan 1000 maka lensa nya hanya mampu menghantarkan resolusi gambar 500. Maka hasil foto juga tidak akan optimal. Canon bahkan sampai meluncurkan lensa Canon EF 16-35 f2.8 L Mark II dan 70-200 f2.8 L IS Mark II demi mampu menandingi kemampuan sensor Canon 5d Mark II nya. Lensa yang sebelumnya (Mark I) bukannya jelek, hanya saja menggunakan Mark I tidak akan memaksimalkan kekuatan sensor baru Canon ini.

Jadi, apabila sudah pakai full frame tapi masih mikir menggunakan lensa non full frame, mungkin memang kemampuan ekonomi kita belum sanggup 🙂 – after all perbedaan image quality sensor full frame dan non full frame itu hanya untuk konsumsi mata fotografer. Buat awam … keduanya sama saja.

 

6 thoughts on “Lensa non full frame di kamera full frame”

  1. thanks, om.
    berarti cuma masalah wide dan focal lenght yg berubah….tapi apakah tidak ada resiko terhadap kamera? mudah2an tidak hhehehe…

  2. Oooh… gitu ya desain lensa non FF. Bukannya kalo pake lensa FF di body APS-C tetep bisa? Alesannya apa sih lensa non FF “pantat”nya dibuat lebih menjorok ke dalem?

    Cuma menduga-duga aja. Tapi sepertinya saya kenal sama fotografer yang pake body FF tapi pengen pake lensa non FF. Apakah si maniak 11-16 yang baru bbrp bulan kemaren upgrade ke 5D itu? hahahaha

    1. tetap bisa dong, kan image circle nya lebih besar dibandingkan sensornya.
      Alasannya karena ekonomis (jadi bisa lebih murah lensa nya), ukuran (lensa bisa lebih ringan dan compact), efisiensi (mengapa harus buat image circle besar kalau tidak ada sensor yang menerima nya juga)
      Bukan dia koq HAHAHAHA

Leave a Reply MY-ers ...