Lensa Manual

“Di jaman era digital moderen begini pake lensa manual focus? Astagaaaaa … kurang kerjaan bener”

Kalimat itu muncul pertama kali beberapa tahun lalu dari mulut saya waktu mulai tahu keberadaan lensa manual. Para penggemar lensa manual ini sering berkumpul di forum LensaManual.Net dan forum lainnya. Bagi saya pada waktu itu (fanatic lensa canon) menggunakan lensa manual sungguh kemunduran besar. Mengapa pula menggunakan teknologi yang “kuno”, sementara para engineer Canon dan Nikon berlomba lomba membuat sistem Auto Focus yang canggih dan moderen. Tidak ada dasarnya pula menggunakan lensa tua dibandingkan lensa moderen saat ini.

Saya makin tidak paham saat melihat salah satu produsen lensa paling terkenal, Carl Zeiss, masih membuat lensa moderen mereka dalam versi manual focus. Harganya? Fiuhhhh bikin bulu kuduk merinding. Setara bahkan lebih sedikit dari L Series nya Canon. Kenal Leica? Namanya yang legendaris siapa yang tak kenal. Mereka juga masih bikin lensa moderen mereka dalam format manual focus. Haizzzzz dugaan saya awalnya karena masalah segmentasi pasar nih. Supaya berbeda dibanding crowd nya. Hahaha ….

(sembari mengingat-ingat) …. saya pertama kali mengenal lensa manual saat mau mencoba lensa legendaris Nikon 28 mm f2.8 AIS. Awalnya karena mau mencoba saja, dan lensa ini relatif murah. Sekalian mau coba apakah lensa nikon bisa memberikan nuansa berbeda. Eh ternyata asik juga warnanya dan kemampuannya untuk close focus (semi makro). Ketajaman lensa ini juga mulai membuka mata saya bahwa ada lensa non canon yang bisa dipasangkan di body canon dan menghasilkan foto yang lebih tajam dibandingkan lensa canon.

Mulailah saya iseng mencoba lensa lawas lainnya. Kali ini lensa yang menjadi andalan mendiang Galen Rowell, Nikon 20mm f4 AIS. Lensa ini walau menarik dan memberikan pengalaman baru “ngoprek” mounting tetapi masih kalah dibandingkan dengan lensa nikon 28mm yang pertama saya coba.

Berlanjut dengan keinginan saya memiliki lensa 35mm (yang merupakan lensa all round fix di full frame). Setelah membeli lensa Canon 35mm f2 saya tergoda mencoba salah satu lensa manual yang disebut-sebut legendaris, Carl Zeiss Jena Flektogon 35mm f2.4. Bahkan saya sempat bikin perbandingan juga antara kedua lensa ini. Saya jatuh hati dengan lensa CZ, terutama dengan desain body nya yang cantik. Saya masih ingat pertama kali memegangnya saya bilang “Wow, ini kayak jewelry buat fotografer nih”.

Berangkat dari situ saya mulai mempelajari lensa manual, sejarah, kelebihan dan teknis yang terkait. Sampai akhirnya saya tiba pada kesimpulan bahwa manual focusing is not that bad for hobiist (bukan profesional). Selain itu lensa memiliki karakter yang tidak tunggal (hanya masalah sharpness), melainkan banyak aspek. Dan finalnya adalah saat saya membeli Carl Zeiss Distagon 18mm f3.5 dan bahkan mengganti hampir semua jajaran lensa otomatis saya menjadi lensa manual.

MENGAPA MANUAL ?

Ada beberapa hal yang membuat saya menyukai manual :

  • Untuk landscaper yang sering menggunakan wide lens maka saya lebih nyaman menggunakan lensa manual. Hal ini karena ada DOF  scale pada lensa. DOF Scale memungkinkan kita melihat jarak yang masuk ke dalam ruang tajam di berbagai aperture. Jadi untuk mengaplikasikan hypefocals techniques akan jauhhh lebih mudah. Cukup set di aperture yang kita inginkan dan lihat DOF scale yang ada. DOF scale ini sudah tidak ada lagi di lensa AF, kalaupun ada dalam skala yang sangat tidak membantu proses focusing.
  • Body lensa manual umumnya lebih kokoh dan “bertahan berbelas belas tahun”. Saat kamu memegangnya kamu tahu hal ini. Walau memang lebih berat akibatnya, tapi karena kualitas optik CZ dan Leica maka dengan ukuran lensa yang lebih kecil hasilnya bisa sama / lebih baik. Sehingga pada akhirnya beratnya sama saja dengan lensa profesional moderen.
  • Ketiadaan sistem elektronik auto focus membuat lensa ini relatif lebih tahan banting. Belum lagi tidak ada sistem Image Stabilizer dll. Lensa AF saya “mencapai umur” di kisaran 5-10 tahun, umumnya mulai muncul masalah dengan sistem AF nya. Entah bunyi mulai kasar, tidak mau focus, back / front focus, Image Stabilizer mati, dll. Wajar, karena komponen ini adalah komponen elektronik yang bisa aus. Kendala pada lensa manual umumnya lebih sedikit, palingan ring aperture / focus macet, dan mudah dibetulkan. Tapi selain itu umumnya tak ada kendala berarti. Lensa manual saya adalah lensa dari tahun 1979 dan bekerja dengan baik selayaknya lensa baru.
  • Optik, optik, optik … sebenarnya ini bukan urusan lensa manual vs lensa non manual. Melainkan lebih Carl Zeiss + Leica vs Canon + Nikon. Carl Zeiss dan Leica pada prinsipnya adalah “pencipta” lensa. Lensa buatan mereka terkenal sangat bagus dan belum sepenuhnya bisa disaingi oleh lensa canon dan nikon. CZ terkenal dengan warna yang saturated, bokeh yang khas dan efek 3D yang terkenal. Leica terkenal dengan lensa yang tajam dan netral warnanya mulai dari bukaan terlebar hingga tersempit. Kebetulan saja CZ dan Leica hanya menawarkan lensa dalam format manual.
  • Ukuran .. karena kualitas optiknya yang briliant maka ukuran lensa manual CZ dan Leica cenderung lebih kecil. Mudah dibawa dan ringan. CZ Flektogon 35mm f2.4 saya misalnya hanya memiliki filter thread 49mm. Sungguh mungil dibandingkan lensa seri L yang umumnya guede ukurannya.
  • Hasil yang berbeda, saya tidak bilang hasil lensa manual lebih baik dibandingkan lensa AF. Tetapi hasilnya berbeda. Dan apabila hobby fotografi juga berarti menghasilkan karya yang berbeda dan dengan demikian outstanding maka lensa ini bisa dijadikan pilihan. Warnanya, ketajamannya, karakter bokehnya, dll berbeda dibandingkan lensa AF umumnya.
  • Oleh karena perbandingannya dengan lensa L series atau profesional lainnya maka lensa manual cenderung jatuhnya lebih murah. Coba bandingkan lensa Canon EF 85 f1.2 II seharga 20 juta dengan lensa Leica 90mm f2 dengan harga sekitar 9jt (saya bahkan beruntung mendapatkannya di harga yang jauh lebih murah dari itu). Ya, saya tahu f1.2 dan f2 tidak bisa dibandingkan langsung. Tapi coba cocokkan hasil nya maka kamu akan paham kenapa saya bilang relatif lebih murah.
  • Focusing ring di lensa manual panjang (hampir 270 derajat umumnya perputarannya) sehingga benar-benar presisi kalau di focusing manual. Ini nyaman untuk kita melakukan focusing dengan presisi, misalnya pada saat makro / still life. Tapi terlebih adalah “Enjoyment” saat kita memutar focusing ring itu sungguh berbeda, dibandingkan dengan saat kita hanya menekan tombol shutter dan lensa focusing dengan sendirinya. Bagi saya yang bukan profesional melainkan hobiist “enjoyment” ini penting. Tentunya saya bisa berbeda dengan hobiist yang lainnya.
Hasil karya dengan menggunakan Leica 90mm Summicron f2 bikinan tahun 1980-an

APAKAH SULIT ?

Saya pikir menggunakan lensa manual itu sulit. Tapi ternyata setelah mencoba tidaklah sesulit yang saya bayangkan. Sangat setuju bahwa lensa manual akan tetap sulit untuk kondisi – kondisi seperti :

  • Fotografi candid / anak / sports yang butuh kecepatan focus tinggi. Untuk fotografi ini sudahlah, lebih baik menggunakan lensa AF.
  • Fotografi makro. Bukan masalah karena ketajaman atau karena tidak bisa makro. Hanya simply karena lensa manual tidak memiliki Image Stabilizer, sementara di makro yang dof nya sangat sempit hal ini sangatlah penting.
  • Fotografi dengan lensa tele + aperture super lebar. Misalnya kita ingin memotret dengan focal length diatas 100mm dengan f dibawah f2.8 …. waduhhhh mata bisa pedes karena konsentrasi menentukan titik focus. Rule of thumb saya adalah : di bawah 50mm apabila tidak ada focus peaking di kamera mu.

Tapi diluar itu sejauh ini saya tidak bermasalah menggunakan lensa manual.

Hasil karya dengan CZ Jena Flektogon 35mm f2.4 – semi makro – lensa bikinan tahun 1979-an

Untuk menggunakan lensa ini tidaklah sulit. Yang pertama adalah mengkonversi mounting lensa sehingga bisa dipasang di body kita. Secara umum canon menerima hampir semua jenis lensa manual dengan menggunakan adapter (harganya murah dan dengan mudah di peroleh di bursa). Sedangkan Nikon butuh sedikit ekstra effort untuk “oprek” mounting lensa.

Setelah itu : membiasakan diri dengan setting aperture manual (walau ada beberapa lensa – misalnya CZ seri ZE – yang sudah auto aperture). Tidak seperti lensa moderen maka bilah aperture pada lensa manual di kontrol bukan di body kamera. Melainkan pada lensa langsung. Kerugiannya adalah kita tidak bisa tahu persis aperture yang digunakan dari dalam viewfinder + kita harus melakukan teknik stop down aperture apabila ingin focusing di atas f5.6. Tapi kelebihannya adalah karena lensa tidak di stop down maka dof yang tampil di viewfinder adalah dof yang sebenarnya. Tanpa harus menekan tombol dof preview seperti di lensa AF.

Teknik stop down yang dimaksud adalah :
  1. Awalnya kita buka lensa pada aperture terlebar
  2. Kita lakukan focusing dengan menggunakan aperture ini – lebih mudah karena cahaya berlimpah
  3. Setelahnya barulah kita setting ke aperture yang kita inginkan (misalnya f8) + menekan tombol shutter

Proses stop down ini dilakukan otomatis di lensa AF. Dengan demikian di viewfinder kita melihat dof untuk bukaan terlebar dari lensa kita, bukan bukaan yang kita pilih. Kecuali kita menggunakan tombol dof preview kita.

Setelah beres dengan masalah aperture maka bagian selanjutnya adalah focusing. Dengan adanya adapter + focus chip confirm maka kita bisa menekan tombol shutter separuh sembari memutar focusing ring. Apabila benda yang jatuh di lokasi titik focus yang kita pilih masuk ke dalam ruang tajam (focus) maka akan terdengar bunyi “Beep” yang menandakan focus confirmed. So, tidak terlalu berbeda bukan dengan menggunakan lensa AF ? Yup, bedanya adalah kali ini kita memutar sendiri ring focusnya, dan bukan dilakukan oleh sistem auto-focus dari lensa.

So, sungguh motret dengan lensa manual itu tidaklah sesulit yang dibayangkan orang kebayakan. Plus kita dapat banyak “bonus” … ENJOY

Notes :

Kamera Nikon relatif lebih sulit adaptasi dengan lensa manual tua seperti CZ atau Leica. Selain metering dan focusing confirmation tidak jalan di body di bawah semi pro class, kadang infinity focus tidak dapat sehingga butuh di oprek. So cek dulu apakah lensa yang mau dibeli bisa digunakan di body Nikon-mu

Yang paling mudah menggunakan lensa manual (tua) adalah mirrorless. Ketiadaan cermin membuat hampir segala jenis lensa bisa digunakan. Tidak akan “mentok” ke mirror. Plus bonus nya kamera mirrorless umumnya punya focus peaking yang lebih baik.

50 thoughts on “Lensa Manual”

  1. Mas mau nanya donk, AI dan Non AI beda di mountnya aja atau ada beda performancenya dan setelannya? Mau coba di body Nikon D3100 kira2 bisa yg Non AI?

    1. mount yang paling membedakan. Kalau sudah masalah performance sih gak bisa dilihat dari mount, tapi lensa per lensa.
      Untuk bisa atau tidaknya digunakan di Nikon juga perlu cek di google, beda beda kayaknya tiap lensa 🙂

  2. CZ Distagon 3.5/18 itu diameter filternya brp ya om edo??udah mau keracunan soalnya…sama mau nanya lensa manual yg cocok untuk macro..

    1. Itu filter 82mm – besar sekali karena dia maen oversized – seharusnya cukup 77mm tapi pinggir lensa dia besarkan wkwkwk – tapi enaknya gak vignette
      Kalau sudah yakin suka lanskap dan pakai canon maka CZ 18mm adalah pilihan mantap

      Makro saya lebih suka pakai lensa non manual. Selain karena ada fitur IS (sangat sangat penting), juga lensa manual makro belum ada yang cukup ok
      CZ 100mm pembesarannya hanya 1:2
      Vivitar kontras dan warnanya kurang maksimal

  3. sedikit melenceng om Edo,
    kalo Tamron AF 18-200mm F/3.5-6.3 XR Di II LD Aspherical (IF) untuk D5100 bagus tidak ?? apa bisa autofokus ??
    mohon pencerahannya, newbie om.. thanks

  4. menarik nih pembahasan lensa manual. q juga belum lama pake lensa manual. pertama pakai super takumar 50mm, trus ganti helios 44-4 58mm, dan sekarang carl zeiss jena tessar 50mm.
    dari ketiga lensa itu yang paling tajam hasilnya helios 44-4 (menurut penilaian mata saya) untuk CZ jena tessar lebih memiliki warna yang lebih menarik tapi masih kalah tajam di banding helios.
    sempat galau juga kok lensa sekelas CZ kalah tajam dengan helios…
    kamera q mirless GF1…

Leave a Reply MY-ers ...