Lensa DSLR + Body Mirrorless

Nampaknya popularitas kamera mirrorless makin hari makin menanjak. Terbukti dari makin banyak yang nanya ke saya soal mirrorless ini. Wajar, dengan hasil foto yang sama bagusnya, ukuran mirrorless relatif sangat kecil dan ringan buat dibawa. Tentunya akan lebih “nikmat” berjalan jalan dan hunting menggunakan mirrorless yang ringan ini.

PS : buat yang masih belum paham soal kamera mirrorless bisa baca artikel ini.

Untuk yang berminat beli kamera mirrorless bisa mengunjungi berbagai toko online seperti misalnya : Lazada Indonesia

Pertanyaan yang mulai sering muncul adalah : Apakah mungkin menggunakan lensa DSLR kita di kamera mirrorless ?

Jawaban yang cepat? YA, sangat dimungkinkan untuk menggunakannya. Kenapa? Karena image circle lensa DSLR lebih besar dibandingkan image circle lensa mirrorless. Hal ini dikarenakan posisi lensa mirrorless lebih menjorok ke dalam, mendekati ke sensor. DSLR tidak bisa se-menjorok itu, karena ada cermin di belakang lensa. Terlalu menjorok ke dalam akibatnya cermin akan menyangkut pada pantat lensa.

…………….. TAPI …………………….

Dikarenakan jarak titik api yang berbeda ini, maka untuk menggunakan lensa DSLR (misalnya lensa canon EF) di body mirrorless kita membutuhkan “Adapter”. Adapter ini sebenarnya cuma cuma semacam pipa kosong, yang tujuannya menjauhkan titik api dari lensa DSLR, sehingga jatuh tepat di sensor mirrorless – dan dengan demikian  bisa focus. Tanpa adapter maka kita tidak akan bisa menggunakan lensa SLR ke mirrorless.

Masalahnya? Adapter ini tebal / panjang …

Menggunakan adapter yang tebal ini pada lensa DSLR yang relatif besar (dibandingkan lensa mirrorless) membuat ukuran panjang total lensa menjadi tidak masuk akal (dibandingkan body mirrorless). Body mirrorless di desain kecil dan ringan. Dengan ditambah adapter ini hasilnya adalah body yang mungil di bagian belakang, sementara bagian depannya sangat besar. Penampilan : STUPIDLY FREAK … LOL, alias aneh luar biasa.

Selain itu juga secara ergonomis dan keamanan menjadi kurang baik, karena beban massa dari peralatan condong ke depan. Apabila dipaksakan “hand-held” maka akan berat ke depan dan tidak stabil.

Kendala kedua adalah : Aperture Blade – Pada lensa DSLR moderen, aperture blade yang ada di lensa akan dibuka tutup otomatis oleh kamera. Jadi misalnya lensa kita adalah lensa dengan bukaan terbesar f2.8 – maka walaupun kita setting memotret dengan f8 maka pada saat shutter belum ditekan maka blade masih akan terbuka maksimal di f2.8. Tepat setelah shutter ditekan lensa akan merubah ukuran diafragma menjadi f8, mengambil gambar, kemudian mengembalikannya ke f2.8 lagi.

Mengapa? Karena kalau langsung di buka di f8 di viewfinder akan gelap sekali + sistem Auto Focus tidak bisa berfungsi dengan baik karena cahaya kurang. Jadi lebih baik di buka di bukaan terbesar sepanjang waktu. Saat mau memotret barulah diubah menjadi bukaan yang diinginkan.

Kendalanya adalah : adapter biasa tidak bisa menyampaikan pesan otomatis ini. Sehingga lensa DSLR ini akan berada dalam kondisi bukaan terbesar terus saat digunakan di mirrorless (ada caranya supaya tidak bukaan terbesar, tapi superrrrr repot). Lha, bagaimana, masak kita mau memotret selalu dalam bukaan terbesar ?

Memang ada adapter yang sudah bisa menyampaikan pesan elektronik ini. Misalnya TechArt adapter di atas. Tetapi harganya bisa 10-15 kali lipat dari adapter biasa (mencapai IDR 2.000.000) – cukup mahal bukan? Review nya juga belum banyak (saya belum punya duit buat coba nya hahahaha)

PS : Adapter untuk lensa EF ke mirrorless Canon (EOS M), atau lensa Nikon ke  mirrorless V / J juga memungkinkan untuk menyampaikan pesan otomatis ini – membuat keduanya bisa menggunakan lensa DSLR satu merek 

Cara lain adalah menggunakan adapter yang memiliki built-in aperture blade. Jenis adapter ini menyertakan blade aperture, sehingga kita bisa mengatur aperture yang mau digunakan via adapter (aperture blade di lensa praktis tidak digunakan).

Jenis adapter ini masih tetap lebih mahal dibandingkan adapter biasa, sekitar 4-7 kali lipat.

 

Kendala lain : lensa DSLR  di desain untuk berjalan menggunakan sistem auto focus. Saat dipasangkan (kecuali menggunakan adapter mahal seperti TechArt) lensa ini menjadi lensa manual focus – sistem AF nya tidak berjalan. Jadi kita harus memutar sendiri ring focus sampai ketemu focus.

Memutar ring focus di lensa yang di desain untuk auto focus = PAIN IN THE ASS ….

Hal ini karena putaran ring nya biasanya sangat pendek, sehingga kita tidak bisa secara presisi memfokuskan lensa kita. Akibatnya ya gambar menjadi out-of-focus / blur. Wajar, karena lensa ini sebenarnya di desain untuk Auto Focus, bukan di fokuskan manual menggunakan tangan kita.

 

JADI : menurut saya menggunakan DSLR lenses di mirrorless sebenarnya “kurang tepat”. Kecuali untuk alasan efisiensi (karena sudah ada lensa nya) maka tidak ada keuntungan lain dari menggunakannya. Selain lensa nya lebih besar, ditambah adapter hasilnya lebih besar lagi, lalu masalah aperture dan manual focusing juga repot.

Rekomendasi saya adalah untuk kamera mirrorless : gunakan lensa mirrorless yang sesuai, atau lensa rangefinder (misalnya Leica M mount, Leica LTM mount, dll) atau lensa manual SLR lama yang ukurannya kecil dan memiliki aperture ring. Dengan demikian kita bisa “memanen” keuntungan mirrorless : lebih kecil dan ringan, tetapi kualitas foto tetap sama. Silahkan cek berbagai toko online seperti misalnya Lazada.co.id untuk memilih.

 

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *