Lens Quality – Karakter Suatu Lensa

Lensa adalah komponen yang paling sering diperdebatkan (selain merek). Area perdebatannya tidak jauh dari kualitas si lensa … dan kualitas ini sering (sekali) dihubungan dengan (hanya) ketajaman lensa tersebut. Apakah memang kualitas suatu lensa hanya ditentukan oleh ketajamannya? Tidak, paling tidak menurut saya demikian.

Ketajaman lensa (Resolution) adalah salah satu komponen yang paling mudah dilihat oleh mata seorang fotografer. Itu pula sebabnya banyak sekali yang berfokus pada hal ini. Ketajaman lensa ditentukan oleh desain dan coating dari lensa tersebut. Pengukurannya dilakukan cukup rumit dengan berbagai peralatan rumit (teknik nya di buat pertama kali oleh Carl Zeiss dan tim-nya). Untuk kita pengguna kita dapat melihat saja hasil pengukuran resolusi ini di internet. Ada banyak websites yang menunjukkan hasil test ini, misalnya :

Pada prinsipnya kita bisa melihat lensa mana pada aperture berapa yang bisa menghasilkan ketajaman maksimal via test-test diatas. Selain masalah ketajaman maka test tersebut juga sebenarnya memberikan informasi lain mengenai suatu lensa. Misalnya soal distorsi. Distorsi memberikan informasi kepada kita seberapa efek cembung (biasanya di lensa wide) dan cekung (di lensa tele) yang dihasilkan suatu lensa. Ada lensa yang mungkin secara ketajaman tidak semaksimal lensa yang lain, tetapi secara distorsi dia juara, karena tanpa distorsi. Misalnya lensa tua Carl Zeiss Jena Flektogon 20mm f4 yang terkenal dengan distorsi almost zero. Sedangkan lensa fish eye memberikan distorsi yang luar biasa besar (seperti foto dibawah ini).

Aspek lain dari suatu lensa adalah masalah Vignette. Efek gelap di ujung – ujung foto (terutama di aperture lebar) ini biasanya dihindari oleh sebagian besar fotografer. Tapi ada juga orang seperti saya yang suka dengan lensa-lensa dengan vignette. Jadi masalah memilih lensa bukan hanya resolusi dan distorsi, tapi juga masalah seberapa tebal vignette nya.

Selain vignette masih adalagi soal rendering warna. Beda jenis lensa maka jenis rendering nya beda, rendering disini maksudnya bagaimana dia menangkap warna. Ada yang saturated, ada yang kontras, ada yang pekat warnanya, ada yang color tone nya warm (kekuningan) atau justru lebih cold (kebiruan). Saya pribadi suka dengan color rendering carl zeiss yang pekat dan saturated, ini karena saya suka dengan foto-foto penuh warna. Ada yang lebih suka color rendering lensa merek lain (seringkali sama merek saja bisa beda, misalnya Canon L Series dan non L Series).

Foto bunga di samping misalnya di ambil menggunakan Carl Zeiss Flektogon 2.4/35 yang rendering warnanya lebih saturated. Ditambah dengan render cahaya di area highlight yang lebih baik dibanding Canon (tetap keluar warna dan detil walaupun biasanya lensa lain sudah masuk kategori highlight – putih saja keluar warnanya).

Selain masalah warna maka ada juga karakter Bokeh dari suatu lensa. Bokeh adalah bentuk blur (out of focus) dari suatu lensa. Tidak seperti yang kebanyakan orang tahu, bokeh tiap lensa sebenarnya berbeda. Tergantung dari desain lensanya. Ada yang bokehnya halus + creamy – misalnya Canon L Series. Ada pula yang bokehnya berbentuk seperti lensa carl zeiss. Bahkan ada lensa yang karakter bokehnya adalah “Swirly” alias berputar, lihat contoh di bawah ini.

Karakter lain lagi dari suatu lensa yang sering dilupakan padahal memiliki dampak yang besar adalah Minimum focus distance. MFD ini menyatakan seberapa dekat suatu lensa dengan obyek dengan tetap bisa focus. Walau sama focal length nya bisa jadi 2 lensa memiliki minimum focus distance yang berbeda. Misalnya lensa Canon 24-70 f2.8 L memiliki MFD 38cm, artinya lebih dekat lagi dari 38 cm dia tidak akan bisa focus. Sedangkan lensa canon 50mm (semua variant – kecuali macro) memiliki MFD 45cm.

Makin dekat MFD suatu lensa maka dampak pembesaran obyek makin besar. Saya suka dengan lensa-lensa dengan MFD dekat. Saya misalnya memilih Carl Zeiss Flektogon 35mm f2.4 karena MFD nya hanya 19 cm (bandingkan dengan Canon 35mm f2 yang 25cm dan Canon 35mm f1.4 yang 30 cm) Рwalau dari sisi aperture tidak terlalu lebar dibanding yang lain. Untuk cek berapa MFD lensa yang anda gunakan bisa cek di berbagai web, misalnya : Photozone atau SLRLensReview.  Foto bunga merah diatas bisa dapat seukuran itu tanpa di crop lanjut tidak lain dikarenakan MFD dari lensa yang digunakan cukup dekat (menggunakan CZ Flektogon 2.4/35).

Swirl Bokeh

Jadi ketika MotoYuk-ers memilih lensa, jangan hanya terpatok pada ketajamannya saja. Ada banyak faktor selain ketajaman yang bisa di eksplore. Terutama, ada banyak teknik yang bisa diuji cobakan pada peralatan yang kita miliki, bukan sekedar mencari ketajaman. Bebaskan ekspresi seni mu dan coba pahami kelebihan-kekurangan perangkat yang kamu miliki. Foto yang sekedar tajam tidak menghasilkan foto yang impresif, foto yang berbicara (melalui teknik dan komposisi yang tepat) yang berbicara. Pahami benar karakter lensa yang kamu miliki, lebih dari sekedar karakter ketajamannya saja.

Salam motoyuk …..


8 thoughts on “Lens Quality – Karakter Suatu Lensa”

  1. mas edo
    kalo perbedaan antra electric dan yg tidak untuk carl zeiss flektogon 2.4/35mm terletak di apanya ya mas ?

  2. lensa itu ibarat mata… kalau lensanya nggak tajam sama kayak mata katarak… ketajaman tetap nomor 1. karakter warna, saturated bawaan lensa adalah bonus, yg masih bisa di dapat dengan media oldig, pake lightroom tinggal geser2 langsung jadi. Kalau ketajaman nggak bisa di olah digital.

    Lensa manual CZ dan Leitz yang tajam2 itu harganya selangit, karena emang dipasarkan untuk kalangan kelas atas dijamannya. Kalau lensa jadul2 harga sekarang masih mahal, itu dikarenakan harga di permainkan oleh kolektor.

    Pengen nyari lensa AF yang warm ? lihat aja coating lapisan luar yang warnanya kuning, orange, atau ke emasan, udah pasti hasilnya akan warm.

Leave a Reply MY-ers ...