Learn to use your digital SLR – by Teoh Peng Kee

Seminar Sabtu lalu benar-benar menyenangkan 🙂 kebanyakan karena pendekatan Mr. Teoh Peng Kee yang menjadi pembicara utama terstruktur dan teknis. Pendekatan yang teknis memungkinkan untuk mendapatkan hasil langsung dari seminar, misalnya dengan melakukan perubahan setting di kamera. Berbeda dengan pembicara yang melakukan pendekatan secara artistik, sehingga butuh waktu untuk benar-benar memahaminya. Aspek lain yang menyenangkan adalah biayanya yang relatif sangat terjangkau, hanya Rp 80.000 untuk anggota Klub Fotografi Datascrip.

Di tulisan blog ini saya akan share beberapa hal yang saya peroleh. Saya akan menulis ulang apa yang saya tangkap dan tidak menulis ulang slide dari beliau. Sehingga mungkin akan berbeda dari yang ada di seminar (dimana banyak orang membawa kamera hanya demi memotret slide beliau hahaha it’s so funny melihat orang berdiri untuk memotret setiap kali slide berganti).

Mengenai peralatan fotografi

Mr. Teoh Peng Kee menyampaikan bahwa apabila seorang fotografer bergerak dari pemula menjadi advance dan akhirnya menjadi profesional maka selera terhadap peralatannya pun berubah.

Sebagai seorang pemula maka biasanya pendekatannya adalah membeli yang paling murah yang bisa dibeli. Maka pemula biasanya akan menggunakan body entry level, seperti Canon EOS 1000D. Sedangkan untuk lensa akan menggunakan lensa kit. Sedangkan aksesoris juga biasanya terbatas dan seadanya. Misalnya flash internal, filter UV yang ekonomis, filter GND menggunakan Adobe Photoshop, dll.

Sedangkan sebagai advance photograper (atau biasanya juga profesional wanna be) maka mulai lah fotografer fokus pada peralatan. Segala jenis lensa dibeli. Kiblatnya selalu pada lensa yang “paling mahal” atau “dengan review terbaik”. Segala aksesoris dibeli, mulai dari flash, filter, tripod. Semua “ditimbun”. Berapa sering digunakan? Hemmmm…….

Apabila seseorang mencapai tahap profesional maka dia lebih bisa memilih. Hal ini karena dia makin paham bidang apa dari fotografi yang menjadi passion-nya. Selain itu dia juga mulai bisa membedakan apakah suatu aksesoris / lensa itu benar-benar berguna atau tidak. Dia akan berfokus pada beberapa lensa dengan kualitas sangat baik dan aksesoris yang penting, “melupakan” yang lainnya.

Dalam aspek ini saya sangat setuju dengan pendapat Mr. Teoh. Pemula akan sibuk membicarakan mengenai kamera apa yang digunakan, lensa apa yang digunakan, mana lensa yang tajam, dll. Sedangkan profesional lebih sibuk membicarakan mengenai teknik yang digunakan, pesan yang ingin disampaikan, komposisi yang sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan, dll dan relatif sedikit membicarakan mengenai peralatan yang digunakan. Jadi coba lihat, apakah anda kalau ketemu rekan fotografer lain membicarakan mengenai peralatan atau teknik? Itu salah satu yang membedakan pemula dan expert.

Apa maksud dari “beberapa lensa & aksesoris yang berguna” ? Berikut beberapa contoh menurut pandangan saya.

Bagi seorang travel photographer maka kecepatan reaksi dalam berbagai kondisi dan juga berat adalah hal yang penting. Oleh sebab itu saya setuju dengan Mr. Teoh bahwa 2 body sangat praktis, karena tidak perlu ganti lensa setiap kali – mengurangi resiko masuknya debu ke sensor dan juga jatuhnya lensa saat penggantian. Saya setuju juga dengan pilihan beliau kalau memang mau membawa 2 body. Hal ini karena 5D Mark II beratnya masih masuk akal (dibandingkan seri 1 digit lainnya) dan kualitasnya outstanding (mostly karena penggunaan full frame sensor). Selain itu batere yang digunakan sama, sehingga cukup membawa 1 batere cadangan.

Saya tidak memilih seri 550D bukan karena gengsi, tapi karena kecepatan untuk melakukan setting di 550D kalah dibandingkan seri 2 digit. Untuk melakukan banyak setting kita harus masuk ke menu, yang akan mengurangi respons kita terhadap suatu momen, misalnya seorang anak jalanan tersenyum. Sedangkan seri 1 digit tidak saya pilih karena beratnya (dan mahalnya). Saat kita melakukan travelling penambahan 500 gram saja sudah cukup terasa di pundak.

Pilihan lensa tergantung pada kamera yang digunakan, kamera full frame di Canon tidak bisa menggunakan jenis EF-S. Jadi kalau menggunakan 2 body seperti diatas maka pilihan lensa (dan aksesoris) yang saya bawa traveling adalah :

  • Canon EF 17-40 f4 L : apabila dipasangkan di Canon EOS 5D Mark II akan menjadi lensa super wide yang cocok untuk landscape dan architecture. Sedangkan apabila dipasangkan di Canon EOS 7D akan menjadi lensa zoom all round (karena setara dengan 28 – 64mm f4). Saya tidak memilih 16-35 f2.8 karena harga yang tinggi, berat, kualitasnya tidak sampai berbeda signifikan dan filter dengan ukuran 82mm (yang berbeda dengan lensa canon lainnya, membuat harus membawa 2 ukuran filter / ring). Selain itu pada focal length ini penggunaan f2.8 tidaklah terlalu membuat perbedaan dibandingkan f4.

  • Canon EF 70-200 f2.8 L IS : Dipasangkan di Canon 7D maka menghasilkan focal length 112 – 320 mm, bahkan menjangkau bird photography untuk beberapa jenis burung. Walau beratnya “luar biasa” tapi keberadaan f2.8 di focal length ini membuat bokeh menjadi sempurna (cocok untuk human interest). Image Stabilizer di focal length ini juga sifatnya “wajib” karena mudah sekali mendapatkan hasil yang tidak tajam pada focal length sepanjang ini. Saya pribadi belum melihat harga 20 juta rupiah sebanding dengan kualitas yang diperoleh dari EF 70-200 f2.8 II L IS. Paling tidak sampai saat ini saya lebih memilih menggunakan versi lama dari lensa ini.

  • Speedlite 580 EX II & Speedlite 430 EX II : Dengan keberadaan wireless trigger di Canon 7D maka strobist relatif mudah dilakukan. Sehingga membawa flash adalah “wajib” hukumnya. Flash memampukan kita memunculkan midtone di foto, membuat warna yang lebih “punchy” dan menarik. Apalagi dalam kondisi backlight maka penggunaan flash sifatnya wajib. Dengan tidak adanya flash internal di Canon 5D Mark II maka keberadaan Canon 430EX yang cukup ringan akan membantu untuk melakukan fill-in flash. Saya pilih versi II dari tiap jenis flash ini terutama karena recharge time yang lebih pendek dengan power flash yang lebih kuat.
  • Hoya HD CPL : Filter ini banyak sekali gunanya. Sehingga dalam tiap kondisi saya membawanya.
  • Hitech Gradual ND Soft Edge + Hard Edge : Filter GND amat membantu dalam meningkatkan dynamic range di banyak situasi. Filter ini juga merupakan filter wajib yang selalu saya bawa. Merk Hitech saya pilih karena color cast relatif minimal (dibandingkan Cokin) dengan harga yang cukup terjangkau dibandingkan Lee dan Singh-Ray.
  • Carbon fibre Tripod : Saya memilih tripod yang dibuat dari serat karbon karena beratnya yang relatif lebih ringan dibandingkan dengan yang dibuat dari alumunium / besi. Jenis bahan ini juga kokoh dan tangguh. Untuk menjaga keseimbangannya (karena ringan) maka dibagian poros tengah ada gantungan dimana kita bisa menggantungkan beban (misalnya tas kita) agar tripod berdiri lebih stabil. Saya sendiri menggunakan Benro  type C158M8 dengan B-0 sebagai head nya. Jenis travel angle bisa digunakan apabila kita tidak ingin membawa tripod dengan ukuran besar. Pilih tripod+head sesuai dengan tinggi yang dibutuhkan dan total berat (kamera + lensa) yang akan digunakan.

 

  • (optional) Perangkat strobist : Apabila ada banyak peluang human interest maka perangkat strobist seperti lamp-stand, omni-bounce, umbrella, mini soft-box, mini honey-comb, mini strout, dll mungkin perlu untuk dibawa.
  • (optional) Canon EF 70-200 f4 L : Dalam kondisi dimana perjalanannya relatif berat (misalnya trekking di gunung) dengan peluang adanya obyek human interest minimal maka saya memilih lensa ini sebagai pengganti lensa 70-200 f2.8 L IS. Hal ini terutama karena beratnya yang sangat ringan. Keberadaan IS “mungkin” tidak saya butuhkan karena akan digunakan memotret obyek landscape jarak jauh, yang relatif tidak bergerak.
  • (optional) Canon EF 24-105 f4 L : Lensa ini menjadi lensa all round di Canon 5D Mark II dan menjadi medium – tele di Canon 7D. Bisa dipertimbangkan membawa lensa ini apabila butuh lensa all round selain lensa yang sudah terpasang di kamera.
  • (optional) Canon EF 50 f1.4 : Lensa ini cocok dibawa apabila ada peluang memotret human interest dalam kondisi di dalam rumah atau low-light. Selain ringan dan kecil maka lensa ini cukup murah dengan hasil cukup memuaskan, value lens.
  • (optional) Canon Extender 1.4x : Apabila ada sedikit peluang memotret wildlife maka membawa extender ini akan sangat berguna. Penggunaan extender ini di Canon 7D + 70-200 f2.8 akan menghasilkan jangkauan 156 – 448mm dengan f4. Jangkauan yang mencukupi untuk beberapa jenis wildlife.
  • (optional) Canon Macro 100mm f2.8 IS L : Lensa ini dibawa apabila ada peluang besar bahwa banyak obyek macro (dengan ukuran kecil) di tempat yang akan kita kunjungi, misalnya hutan tropis / taman. Untuk obyek macro yang cukup besar (seperti kupu-kupu) maka menggunakan lensa 70-200 f2.8 sudah mencukupi. Image Stabilizer penting digunakan di lensa macro karena depth of field yang sangat tipis pada pemotretan macro, pergerakan minimum saja bisa menghasilkan impact negatif yang tidak diinginkan.

Tentunya pilihan ini sangat personal, dan tidak berarti bahwa ini yang harus dipilih. Esensinya adalah paham bahwa lensa termahal + dengan hasil review “terbaik” belum tentu cocok untuk semua situasi. Pilih lensa yang dibawa sesuai dengan karakter area yang mau dikunjungi dan beban yang rela dipanggul di pundak. Jangan sampai kita membawa semua lensa kita, berat di pundak, sulit / malas jalan dan mencari view lain, hasilnya? Foto yang lebih jelek dibandingkan membawa lensa kualitas no.2 tapi lebih ringan.

Tanpa membawa perangkat optional maka total berat yang saya harus panggul dengan konfigurasi diatas adalah sekitar 6,5 kg. Bayangkan, sudah minimal saja kita masih meletakkan beban seberat 6,5 kg di pundak. Apalagi tidak kita pilah, bisa sudah habis energi kita saat tiba waktunya memotret.

10 thoughts on “Learn to use your digital SLR – by Teoh Peng Kee”

  1. Terima kasih atas rangkuman seminar Mr. Theo yg sangkat ringkas dan informatif… Sy baru sebulan menggunakan kamera DSLR, jadi masih mesti banyak belajar untuk dapat mengoptimalisasi penggunaan DSLR… Salam jepret…

  2. Wah artikel bagus sekali. Saya saat ini punya dua lensa 24-70 F2.8 L USM dan 70-200 F2.8 IS II USM serta kamera 50D dan 5D Mark II. Saya rencana mau beli lensa wide, apakah saya pilih 17-40 F4 USM atau 16-35 F2.8 USM. Apabila hunting lensa tele sebaiknya dipasang di body mana..? terima kasih atas pencerahannya.

    1. Hallo mas, kalau ada dananya 16-35 memberikan corner sharpness dan vignet lebih baik dari 17-40. Itu saja kelebihannya. Kalau f2.8 nya tidak terlalu memberi nilai tambah. Bagi saya pribadi lebih baik pakai 17-40. Kalau memang serius dengan lanskap maka lensa wide nikon atau carl zeiss 18 / 21mm memberi hasil yg lebih baik.

      Kalau tele lebih baik dipasangkan dengan 50d. Lensa wide/normal dengan full frame

  3. Trima kasih bro atas penjelasannya, sepertinya memang lebih baik memilih 17-40. Kalau ada kumpul bareng atau hunting bersama saya di undang ya bro. Saya pribadi memang sangat menyukai landscape makanya rencana mau nambah lensa wide sama Fish eye. Selain itu untuk strobist saya pakai 580 EX II dan beberapa filter pendukung landscape. Trima kasih ya penjelasannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *