Kamera second ?

[REPOST] – Harga kamera yang makin murah mendorong banyak orang ikutan motret, termasuk saya. Saya termasuk orang yang mulai menyukai fotografi setelah harga kamera murah, dan berubah menjadi digital. Bukan karena saya orang IT, tapi karena dengan digital saya tidak lagi butuh film. Film dan biaya cetaknya bagi saya menjadi penghalang hobi fotografi, mahal bok !! hahaha….

Ok, saya termasuk orang yang “price sensitive” tapi apa pendapat saya tentang barang second / bekas, terutama di fotografi? I love cheap stuff, saya suka dengan barang second – yang notabene murah. Bahkan sebagian besar peralatan saya adalah barang bekas. Let see :

  • Lensa Canon EF 70-200 f2.8 IS L – beli dari seseorang di Surabaya, second kondisi mulus, harga 80% an dari harga baru
  • Lensa Canon EFS 17-55 f2.8 IS – beli dari seseorang di Jakarta, second mulus udah ditambah bonus hood pula, harga 75% an
  • Lensa Canon EF 50 f1.4 – beli dari seseorang di Jakarta, second mulus juga, harga 75% an
  • dan banyak lagi

Wuih, penggemar barang bekas? Bukan…tidak semua barang saya second. Saya memiliki beberapa pertimbangan untuk memutuskan pada akhirnya beli bekas aja :

  • Buat camera pocket & body camera DSLR : buat yang satu ini saya pribadi lebih suka beli baru . Atau kalaupun beli second dari “tangan” yang bisa dipercaya. Kenapa? Karena menurut saya bagian ini komponen elektroniknya cukup banyak, dan komponen elektronik yang jenis ini worn out cukup cepat. Misalnya umur sensor elektronik, shutter (jumlah berapa kali kamera sudah di jepretkan), dll. Lagipula selisih harganya tidak akan banyak. So : beli baru aja…
  • Lensa : buat yang punya DSLR, atau kamera pocket dengan tambahan holder lensa, pasti tahu ini barang “jahanam”. Lho kenapa? Kameranya sih murah, lensanya yang mahal. Sudah begitu satu juga tidak cukup, tambah terussss….Oleh sebab itu saya menganjurkan untuk beli second. Tentunya kalau sudah cukup bisa membedakan mana barang yang ok dan tidak. Kalau belum ahli ada 2 pilihan : belajar jadi ahli dulu, atau ya beli baru hihihi.
  • Aksesoris : barang seperti tas kamera, filter, tripod, dll seperti ini highly recommended untuk beli second . Kenapa? Ya jelas karena barang ini lebih mudah untuk dilihat ok atau tidak ok kondisinya. So tawar-tawaran harga lebih mudah. Selain itu resikonya juga tidak banyak, karena harganya relatif murah.

Nah, kalau lensa pengen tahu bagus apa nggak ada beberapa hal yang perlu diperhatikan nih :

  • Kondisi fisik
    • Periksa apakah ada bekas benturan, jatuh, goresan kasar, dll baik pada body lensa ataupun bagian depan dan belakang lensa. Kalau ada yang cukup menonjol bekasnya maka tanyakan penyebabnya. Apabila dikarenakan jatuh atau benturan lainnya lebih baik tidak usah dibeli. Lensa yang terbentur keras kadang lebih banyak masalahnya daripada tidak.
    • Periksa apakah ada debu, dalam jumlah sedikit debu tidak mempengaruhi hasil, tapi dalam jumlah yang banyak maka debu bisa menutupi lensa dan dengan demikian menghasilkan foto yang kurang bersih dan tajam. Caranya untuk memeriksa adalah dengan mengarahkan lensa ke cahaya yang terang (misalnya lampu) untuk melihat apakah ada titik titik debu di lensa tersebut.
    • Dengan cara yang sama dengan memeriksa debu periksa apakah ada musuh besar lensa, jamur. Jamur terbentuk apabila lensa disimpan di tempat yang lembab. Jamur adalah musuh besar lensa, karena sekali ada kemungkinan besar tidak akan pernah bisa hilang. So kalau ada jamur mendingan jangan dibeli juga. Saat mencoba cek apakah ada jamur jangan lupa melihat pinggir-pinggir dalam lensa, kadang jamur belum sampai ke tengah tapi kalau kita perhatikan ternyata sudah mulai muncul di pinggiran. <<www.chem.helsinki.fi/~toomas/photo/fungus/>>

Fungi

  • Kondisi mekanik
    • Coba apakah auto fokus dan manual fokus dari lensa bekerja dengan normal. Normal disini artinya ya bisa fokus, jangan sampai tidak bisa fokus. Kalau kecepatan fokus tidak bisa dibandingkan karena tergantung beberapa hal seperti :
      • Motor di kamera yang digunakan
      • Jenis motor autofocus yang di gunakan oleh lensa
      • Kondisi pencahayaan
      • Apperture / bukaan yang digunakan
      • Tipe sensor di body kamera
    • Coba test autofocusnya, ada beberapa test yang biasa saya gunakan :
      • Autofocus test pada websites ini dijelaskan secara lebih detil bagaimana test autofocus sederhana bisa kita lakukan. Pada intinya dapat dilaksanakan dengan :
        • Memotret dengan sudut 45 derajat ke arah working sheet yang ada. Di working sheet itu ada tandanya mana yang harus dibidik. Kalau mau presisi ya gunakanlah tripod.
        • Setelah itu lihat apakah titik dimana blur terjadi (karena dof dari lensa) simetris. Kalau garis-garis diatas titik bidik lebih banyak yang fokus dibanding di bawah titik bidik itu disebut back focus, dan sebaliknya front focus
        • Dalam kondisi back / front focus maka lensa tersebut butuh kalibrasi. Biaya kalibrasi berbeda tiap lensa, dari Rp 200.000 – Rp 500.000 an.

Patokan harga untuk lensa adalah :

  • masih ada garansi resmi : sekitar 85-95% dari harga resmi
  • sudah tidak ada garansi (umur masih 2-4 tahun) tapi kondisi masih baik : 70-85%
  • lainnya? yah di range bawahnya lah….kecuali kalau barangnya langka / jarang muncul di pasaran, harga bisa lebih tinggi – ingat hukum demand-supply 🙂

Situs yang bisa jadi lokasi awal mencari barang second adalah bursa fotografer.net. Di situs ini kita bisa melakukan transaksi jual beli. Hanya saja selalu ingat untuk berhati – hati dalam melakukan transaksi, sudah banyak penipuan yang terjadi. Selalu beli dari orang yang bisa dipercaya, dan jika curiga lebih baik ketemu langsung di tempat yang aman.

Happy shopping….!!!!!!!!


2 thoughts on “Kamera second ?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *