Joke of the Day about Phoneography

Beberapa waktu lalu saya memperoleh pengalaman yang sangat lucu mengenai phoneography. Salah satu my-ers kebetulan share foto (dengan dslr-nya) ke instagram, dan dapat “award”. Lalu mulai muncul komentar-komentar miring (Red: yang sirik tanda tak mampu) mengenai foto tersebut. Berikut beberapa yang menurut saya lucu untuk di pikirkan bersama ¬†:

“Foto DSLR itu membosankan, seperti tahun 2000-an … kuno”

Lha ya wajar kalau DSLR nya dipakai seperti layaknya kamera pocket. Berharap pakai DSLR jepret langsung bagus mah susah, desain awalnya DSLR untuk kualitas … bukan hasil langsung jadi (tidak seperti smartphone). Jadi untuk bisa menggunakan DSLR ya wajar harus tahu sedikit soal photography – tidak perlu sampai ahli, paling tidak tahu cara pakainya yang benar. Harus paham sedikit soal post processing (yang notabene sebenarnya dilakukan juga di phoneography) – yah tidak usah photoshop yang kompleks lah, pakai aplikasi Picasa juga boleh. Tanpa itu, ya wajar kalau hasilnya flat dan membosankan.

Captured on iPhone4s
menggunakan apps color effects jauh lebih simple dalam membuat efek isolasi warna, daripada menggunakan layer masking di photoshop

Saya pernah baca salah satu artikel yang bilang bahwa : “Kalau berharap fotomu jadi lebih bagus dengan upgrade ke DSLR dari pocket, lupakan …” Tanpa penggunaan yang benar DSLR bahkan menghasilkan hasil yang lebih jelek dibandingkan dengan kamera pocket yang sudah di optimasi. Apalagi dibandingkan dengan smartphone moderen dengan se-gambreng aplikasi yang di desain khusus memperindah.

Selain itu ya harus paham bahwa lensa DSLR itu bisa diganti-ganti. Desain awal DSLR dibuat memang untuk kemudahan ganti lensa. Tiap lensa punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Agak berbeda dengan phoneography yang hanya lensa tunggal (walau ada aksesorisnya). Lebih ribet? Pastinya … Tapi kreatifitas jauh lebih bisa bermain dengan DSLR karena “aksesoris” nya lebih banyak, walau “Ya” lebih mahal seringkali.

Captured on iPhone4s
Using W Camera apps – almost 180 degree view through auto-stitching

“Foto DSLR itu kayak gadis, banyak bener polesannya, gak orisinal”

Nah ini yang paling lucu. Lha gimana tidak lucu … phoneography malah lebih banyak lagi polesannya. Bedanya, kalau di phoneography bentuknya sudah aplikasi / filter. Satu kali mengaplikasikan filter beberapa langkah langsung sudah dilakukan. Jadi satu langkah di phoneogreaphy mungkin setara dengan 5 langkah di photoshop. Jadi kalau bicara soal banyaknya polesan? Hello?????

DSLR yang digunakan dengan benar, misalnya kasus landscape, bahkan sudah berusaha membenarkan foto dari awal. Misalnya dengan menggunakan filter CPL, GND, ND … sehingga meminimalisasi post processing. Saya bahkan seringkali hanya menguatkan saturasi dan curve dari foto yang dihasilkan DSLR, tanpa perlu edit terlalu banyak. Tapi kalau pegang iPhone saya, paling tidak 3 aplikasi dengan berbagai filter harus diaplikasikan.

Captured on iPhone4s
Star effect dibuat dengan apps Noel – kalau saya menggunakan DSLR saya bisa gunakan aperture sempit seperti f16 atau f22 untuk menghasilkan efek star langsung dari kamera

Tapi phoneography memiliki kelebihan karena langkah post processing yang jauh lebih mudah. Gampang mengaplikasikan filter itu. Walau memang fleksibilitas nya tidak se-powerfull post processing menggunakan misalnya Adobe Photoshop, apalagi dengan layer masking dll. Tapi tiap kebutuhan punya alatnya masing-masing .. kalau profesional digital media disuruh edit pakai tools yang kurang fleksibel bisa bisa mereka kerja lebih lama malahan. Sedangkan kita orang awam, karena tidak mampu mengoperasikannya, malah lebih lama kalau pakai tools yang kompleks.

SO?

Menurut saya yang namanya DSLR, mirrorless dan phoneography masing-masing punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pada akhirnya hasil yang bicara. Mau alatnya apapun kalau bisa menggunakan dengan bijak dan di saat dan tempat yang tepat, dengan cara yang benar maka hasilnya akan nendang.

Saran saya, cobalah keluar dari zona nyaman-mu. Kalau sudah biasa pakai smartphone, kenapa tidak belajar DSLR? Kalau sudah nyaman pakai DSLR kenapa tidak juga belajar phoneography? Tidak untuk jadi ahli di semua bidang. Melainkan untuk paham berbagai tools yang ada, dan dengan demikian bisa menggunakannya dengan bijak.

Salam motoyuk ….


4 thoughts on “Joke of the Day about Phoneography”

  1. Betul, tetap saja kamera DSLR lebih High End kalau dibanding dengan camera phone. Hanya saja tidak disetiap kesempatan kita bisa bawa kamera DSLR. Banyak moment yang terlewatkan oleh kamera DSLR, tapi bisa di capture dengan kamera HP. Mungkin disini menangnya kamera HP, adalah disetiap momentum dia ada. Tapi dari segi hasil jelas jauh beda. Kalau ada yang bilang membosankan dan terlalu banyak polesan, mungkin dia ga punya skill dlm photography alias ga bisa pakenya, jadi pilih yang praktis aja. jepret lgsg jadi, post processing pun mudah dan terasa lebih singkat. Padahal semakin baik skill seseorang menggunakan DSLR, maka langkah post processing pun akan semakin sedikit. Tentu saja perlu lebih banyak budget untuk mendukung hasil foto yang baik, seperti melengkapi lensa dengan filter2, dll. Bagi yang mengutamakan kualitas ya pake DSLR, tapi kalo yang suka simple ga ribet juga ga punya photography skill ya monggo aja pake kamera HP. Tapi jangan juga mengolok2 DSLR tentunya. Saya pribadi lebih pilih pake DSLR. Bagaimana menurut anda?

Leave a Reply MY-ers ...