Jambore #3 MotoYuk – Sawarna, Jawa Barat – 22-24 Juni 2012 #2

Salah satu trik dalam landscape adalah … carilah lokasi yang unik. Kebanyakan fotografer “malas” untuk eksplore area. Sehingga mereka memperoleh “angle sejuta umat”. Landscaper harus mau berjalan jauh dan mencari lokasi yang unik, dengan foreground & background yang bagus dan juga pencahayaan yang pas. Di pantai karang bokor ini kebanyakan peserta mengambil arah ke kiri (Timur) karena jalannya yang paling mudah. Sedangkan saya dan sedikit fotografer mengambil arah kanan, menghindari kerumunan yang ada. Hasilnya adalah foto dengan foreground rumput laut yang unik.

Tripod harus saya bentangkan tepat di atas kubangan ini, supaya mendapatkan angle yang pas (salah salah bisa kecemplung ini kamera – makanya saya pegangin deh strap nya hahaha). Pencahayaan juga kebetulan pas, waktu pertama kali saya mengeksekusi area ini matahari sedikit terlalu tinggi, sehingga kurang pas. Setelah muter sejenak ke area lain barulah saya kembali lagi ke area ini. Matahari sudah lebih pas terang dan sudutnya.

Tak lama di karang bokor kami segera naik kembali ke belakang tukang ojek masing masing dan menuju ke pantai karang taraje bayah. Tempat inilah sunset bisa dilihat dengan baik (selain tanjung layar). Saya sempat naik ke puncak bukit dulu sesampainya disana untuk mencari lokasi pemotretan. Dari atas bukit pemandangannya juga indah dan mendebarkan (gimana tidak, sekitar 50 meter diatas permukaan karang dengan ombak keras berdebur). Tapi akhirnya saya banyak eksplorasi di bagian bawah pantai.

Karakter pantai karang taraje bayah ini mirip dengan karang taraje yang sebelumnya. Dimana jenis karangnya adalah rata dan berundak – makanya disebut karang taraje / tangga. Jadi kita perlu mengambil sudut pandang yang tepat untuk bisa menampilkan karakter karangnya tersebut. Saya menggunakan deburan ombak dan juga genangan air sebagai pembantu komponen dinamis dalam komposisi foto.

Parameter pemotretan : Canon 5dM2 + CZ 18mm ZE | f16 | iso160 | 1/2 seconds | GND Reverse 0.9  (Lokasi : Karang taraje Bayah)

Tentu saya harus melakukan dodging dan burning pada foto diatas di photoshop. Cahaya mataharinya cukup kuat soalnya. Sehingga langkah itu perlu saya lakukan untuk meningkatkan dynamic range dari foto. Bisa dilihat karakter karang yang ada di karang taraje bayah.

Hati-hati dengan bulu babi yang bersembunyi di sela sela karang. Saat malam menjelang (twilight) binatang ini bisa jadi kendala buat para landscaper. Jempol kaki saya sempat “tersentuh” mereka dan berdenyut nyeri sepanjang perjalanan pulang. Perjalanan pulang walau jalannnya relatif lebih nyaman dibandingkan perjalanan sebelumnya tetap saja mendebarkan, karena menembus gelap malam di hutan jati & hutan milik masyarakat adat Badui. Jangan berharap adanya penerangan jalan di area ini hahaha.

Malam hari kami sempat makan BBQ ikan bakar yang dibeli di penadah di sawarna. Harganya cukup murah, so boleh coba kalau pas kesana. Kadang dia memiliki jenis seafood lain seperti lobster – sayang waktu itu jumlahnya sedikit dan budget terbatas. Penginapan bisa membantu untuk membakarnya, sehingga kita tinggal makan saja. Oh ya kami selalu makan di penginapan selama perjalanan ini. Ini memudahkan, dan makanan juga cukup enak dan banyak (penting!!!)

Selanjutnya seperti tradisi MotoYuk dimana sharing adalah nomor 1 maka malam itu dilakukan pembahasan dan diskusi mengenai pemotretan. Ada banyak pertanyaan muncul mengenai komposisi, penggunaan peralatan, dll. Tapi memang tidak bisa terlalu lama karena semua sudah cukup mengantuk, dan harus bersiap buat bangun kembali keesokan harinya jam 3.30 pagi untuk sunrise.

Pagi harinya kami kembali berjibaku naik ojek di kegelapan malam menuju pantai karang bodas. Pantai ini sebenarnya adalah kelanjutan dari pantai tanjung layar, tetapi karena arahnya lebih bisa melihat sunrise daripada dari tanjung layar. Pantainya berkarang seperti tanjung layar. Sunrise pagi itu sedikit baik hati memberikan ray of light kepada kami.

Salah satu pembelajaran saya dalam perjalanan kali ini adalah memahami bahwa slow shutter bukan artinya harus se slow slow nya, sampai 30 detik misalnya. Sangat tergantung kondisi. Laut dan ombak yang keras kalau diberikan shutter speed sampai sedemikian lambat bisa menjadi putih semua. Sementara kalau pas maka alur dan lekuknya bisa lebih terlihat dengan baik.

Parameter pemotretan : Canon 5dM2 + CZ 18mm ZE | f22 | iso125 | 1/4 seconds | GND reverse 0.9 – no ND filter  (Lokasi : Karang Bodas)

Setelah kembali ke peninapan dan beberes kami lanjutkan perjalanan pulang, dan mencapai Jakarta dan Bandung di kisaran jam 18.00 sore. Sungguh perjalanan yang sangat menarik bersama teman-teman yang juga sangat asik. Harus diulang sepertinya hahaha ….

Sampai ketemu di Jambore 4 tahun depan my-ers semua ….


2 thoughts on “Jambore #3 MotoYuk – Sawarna, Jawa Barat – 22-24 Juni 2012 #2”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *