Hasil BKK-CNX – 1

Berikut adalah beberapa data teknis foto2 yang dihasilkan waktu perjalanan ke Bangkok dan Chiangmai (kebanyakan foto di ambil di Chiangmai). Untuk cerita perjalanan bisa cek di :

Hari 1-3

Hari 3-5

Smile from MaeSa | Canon 40D | EF-S 17-55 f2.8 IS @ 55mm | f2.8 | 1/320 secs | ISO 400 | EV +1/3
Smile from MaeSa | Canon 40D | EF-S 17-55 f2.8 IS @ 55mm | f2.8 | 1/320 secs | ISO 400 | EV +1/3

Foto ini sebenarnya akan lebih sempurna diambil pada f4, dimana kedua mata gadis kecil dari MaeSa ini akan tajam keduanya. Akan tetapi momen senyum yang demikian natural ternyata tidak bisa diulang lagi. Sehingga saya putuskan bahwa foto ini lebih baik daripada foto lainnya yang menggunakan f4 tetapi senyumnya kurang pas.

Foto ini framenya diambil sedemikian rupa sehingga selain mempertahankan warna2 yang ada juga memberi kesan ruang / keberadaan dari si gadis kecil ini. Kalau saya blur habis background dengan menggunakan focal length 200mm misalnya maka keberadaan gadis kecil ini yang merupakan bagian dari traditional village akan kurang terasa. Keberadaannya coba saya tonjolkan dengan tumpukan barang dagangan tradisional yang ada di belakangnya.

Side light digunakan pada foto ini. Diambil di bawah gubuk dengan matahari yang bersinar terang dari sisi kanan, dipantulkan oleh tanah yang berwarna agak putih, sempurna bak reflektor. Side light membuat dimensi pada wajah si gadis lebih terasa, dibandingkan dengan flash / front light.

Wat Chedi Luang | Canon EOS 40D | EF-S 17-55 f2.8 IS @ 17mm | f22 | 30 seconds | EV -1 | Tripod
Wat Chedi Luang | Canon EOS 40D | EF-S 17-55 f2.8 IS @ 17mm | f22 | 30 seconds | ISO 200 | EV -1 | Tripod

Satu jam sebelum foto ini diambil saya sudah memutari lokasi, mencari tempat dan angle yang terbaik. Hal ini dikarenakan biru langit twilight hanya berlangsung sekitar 5-10 menit saja. Tidak akan cukup waktu untuk memutari area pada saat twilight sudah berlangsung. Jadi lebih baik lebih awal, lalu menunggu. Walau menunggu twilight itu benar-benar menguji kesabaran.

Untuk setting apperture sempit digunakan untuk menjamin ketajaman gambar dari ujung sampai ujung. Akan tetapi sebenarnya f16 sudah mencukupi. Tripod tentunya dibutuhkan karena dengan cahaya yang sangat minim maka shutter speed akan jatuh di batas yang tidak mungkin dipegang tangan.

EV -1 saya gunakan karena saya tidak menggunakan mode Manual, melainkan Apperture Priority. Sehingga saya butuh mengkompensasi gelapnya malam pada metering kamera saya. Alternatif lain dari penggunaan exposure compensation tentunya adalah penggunaan mode manual.

ISO 200 digunakan untuk mengurangi noise yang muncul akibat shutter speed yang panjang, yang diakibatkan apperture kecil yang digunakan. ISO 100 tidak praktis untuk digunakan pada kasus ini karena dengan penggunaan ISO 100 maka 30 seconds tidak lagi mencukupi, sehingga harus jatuh di “Bulb shutter speed” yang agak sulit di kontrol. Dengan pengertian bahwa ISO 200 di Canon EOS 40D sudah jauh dari cukup untuk menghindari noise maka setting inilah yang digunakan.

Reflection | Canon EOS 40D | EF-S 17-55 f2.8 IS @ 17mm | f16 | 15 Secs | ISO 200 | EV -2/3 | Tripod
Reflection | Canon EOS 40D | EF-S 17-55 f2.8 IS @ 17mm | f16 | 15 Secs | ISO 200 | EV -2/3 | Tripod

Foto ini sebenarnya adalah salah satu favorit saya juga, karena anglenya tidak biasa, dan kesempatan seperti ini (dimana ada genangan air hujan yang tenang dan cukup besar) tidaklah sering. Tetapi memang twilight sudah lewat, dan saya hanya mendapatkan langit yang gelap hitam. Tapi setelah dipikir tidak masalah juga karena justru menguatkan efek refleksinya.

Untuk mendapatkan refleksi seperti ini dibutuhkan tripod yang mampu mengambil sudut rendah dan juga kondisi yang tidak berangin, sehingga genangan menjadi tenang dan pantulan bisa bening seperti kaca. Tentunya apperture kecil dibutuhkan seperti layaknya foto arsitektur. Untuk itu f16 saya gunakan. Untuk Canon EOS 40D apperture ini sudah jauh dari cukup.

Salah satu hal yang merupakan tantangan di foto ini adalah kondisi pencahayaan yang ekstrem. Langit dan bangunan yang tidak diterangi cahaya gelap, sementara bangunan yang diterangi lampu menjadi sangat terang. Karena posisinya yang tidak menentu maka tentunya GND tidaklah bisa digunakan. Jadi ya hanya bisa terima nasib ada area di foto yang over exposure dan under exposure.

Teknik HDR sebenarnya bisa digunakan disini. Hanya saja saya memang bukan penggemar HDR dan teknik photoshop lainnya, sehingga saya lebih baik menerima apa adanya saja.

Enjoy…..

Leave a Reply MY-ers ...