Hanoi #4

Hari berikutnya adalah perjalanan ke Tam Coc. Area ini dikenal sebagai “Halong Bay on Paddy Field”. Hal ini karena atraksi yang terkenal adalah menyusuri lembah dari bukit-bukit limestones menggunakan sampan (dari seng, kebayang gak seh?). Sementara di kanan kiri kita adalah sawah. Tapi sebelum ke atraksi utama kami ke kuil tertua di Vietnam. Kuil ini merupakan salah satu kuil dimana kerajaan pertama Vietnam terbentuk setelah penjajahan Cina.

Pengambilan gambar vertikal untuk memberikan efek kedalaman. Sementara framing digunakan untuk mengurangi dampak langit siang yang terlalu siang dan kurang ideal untuk pemotretan.

Setelah itu saya dan adik saya naik sepeda. Kita menyusuri jalanan pedesaan di Tamcoc untuk melihat secara lebih santai area Tamcoc. Baru berjalan beberapa meter sudah terlihat obyek yang sangat menarik, kuil di atas bukit, terjepit diantara dua bukit limestones. Terang saja kami langsung berhenti dan mengambil kamera kami (hal seperti ini yang membuat perjalanan yang seharusnya hanya 1 jam menjadi 3 jam hahahaha). Untuk mengambilnya kami harus mendaki dulu kuil ini dan menuju bagian belakang. Memotret memang tidak boleh hanya dari satu sisi, coba cari sisi yang lain, dimana lighting , angle dan foreground lebih baik.

Dan yang diatas itu adalah Chuc, nama tur guide kami yang sudah mendampingi sejak dari Halong Bay dan kebetulan juga mendampingi saat di Tam Coc.

Perjalanan menggunakan sepeda ini terasa sangat santai. Kami bisa menikmati banyak sekali pemandangan, dibandingkan dengan naik bis. Misalnya kegiatan warga desa, jalanan disana, perkebunan dan pertanian yang terletak di antara bukit  bukit limestones. Mantap deh.

Atau selain persawahan kita bisa juga menikmati bunga bakung yang menjadi foreground yang sangat indah. Dynamic range yang tinggi karena mendekati jam 2 siang saat itu diatasi dengan penggunaan filter Gradual ND. Dengan menggunakan filter ini saja saya masih perlu melakukan sedikit burning di area bunga bakung yang memantulkan sinar matahari (over exposure).

Saya memilih format portrait karena di kanan kiri bukit yang menjadi background kurang menarik dan menjadikan foto kurang balanced. Selain itu komposisi saya pilih meletakkan horizon di tengah karena langit relatif “kosong” dibandingkan bagian bawah. Sehingga dengan format seperti ini terasa lebih imbang.

Setelah menikmati 3 jam perjalanan menggunakan sepeda dan late lunch barulah kami naik di sampan dan mulai perjalanan sebenarnya di TamCoc. Satu sampan isinya 2 orang dan 1 pengayuh sampan. Ingatlah untuk dari awal menjanjikan tips (sekitar 50.000 dong) untuk di pengayuh sampan. Hal ini agar tidak merepotkan nanti di tengah perjalanan.

Untuk perjalanan ini lensa 17-55 (di APS-C) adalah yang sangat tepat. Hal ini karena banyak obyek yang letaknya agak jauh, sementara background juga menarik. Sehingga lensa yang paling tepat memang lensa wide-medium. Mungkin lensa 24-105 akan tepat juga digunakan mengingat jarak yang jauh. Perhatikan apperture, shutter speed dan iso yang digunakan, shutter speed yang terlalu lambat akan membuat foto tidak tajam karena memotret dalam keadaan bergerak & obyeknya juga bergerak. Lalu apperture yang terlalu lebar (misal f2.8) akan mengakibatkan foto tidak tajam karena fokus keburu bergerak.

Walau sempat hujan di tengah perjalanan (yang membuat saya mengeluarkan uang VND 20.000 / jas hujan) tapi perjalanannya sendiri cukup menyenangkan. Dan kami tiba kembali ke Hanoi kurang lebih jam 9 malam. Sebenarnya di area Nim Binh (propinsi dimana Tam Coc berada) banyak gereja yang unik. Sangat disayangkan kami tidak sempat mengunjunginya. Padahal akan sangat menarik untuk memotretnya.

——————————-

Keesokan paginya saya masih menyempatkan diri hunting di area French Quarter dan St. Joseph Cathedral. Tapi sebelumnya sekali lagi saya memotret city square yang sangat menarik di pagi yang kebetulan cerah itu.

Menggunakan foreground yang unik & khas akan sangat membantu hasil foto yang lebih menarik dan hidup. Foreground yang “bergerak” juga akan memberikan kesan lebih dinamis pada foto.

Sedangkan suatu obyek yang sudah terkenal (dalam hal ini Ngoc Son Temple) ada baiknya di foto dalam perspektif yang berbeda. Supaya ada orisinalitas pada foto yang kita buat. Dalam foto dibawah ini saya juga memasukkan balon udara yang dipasang di tengah danau dalam perayaan yang akan segera dilaksanakan di Hanoi. Perayaaan yang tidak setiap tahun ada tentunya.

French quarter sendiri memiliki gedung dengan arsitektur kuno yang sangat menarik. Penggunaan lensa super wide seperti 10-22 (pada APS-C) tentunya akan lebih memudahkan pemotretan.

Foto dibawah ini diambil dengan “nekat” di depan hotel di area French Quarter. Dibawah pandangan “bengis” dari si penjaga hotel hahaha. Aksesn BW makin menegaskan kesan tua dari foto ini. Selain itu komponen tahun 1901 di ujung kanan atas juga harus diambil untuk tambah “menuakan” si foto dan mobil kuno yang ada di foto.

Bangunan diatas terletak di ujung Hoan Kiem Lake. Dulunya digunakan oleh Bobby Chien (famous chef) sebagai restorannya. Tapi nampaknya sekarang tidak lagi. Gradual ND Hard Edge digunakan agar langit masih bisa sedikit biru.

Sedangkan foto diatas merupakan sudut lain dari foto sebelumnya. Kesan gerak dan dinamis diperoleh dengan menunggu “Serangan” puluhan motor yang melintas. Ini memberikan kesan betapa dinamis dan padatnya jalanan di Hanoi. Bahkan pada pagi hari.

Gereja katedral St. Joseph merupakan salah satu landmark menarik yang perlu di datangi. Tapi sebelum mencapainya ada bangunan milik pemerintah kota dengan taman di depannya yang sangat menarik. Sudut pengambilan gambar yang rendah dilakukan agar mengkompresi taman bunga sehingga seakan-akan menyambung sampai depan gedung. Tentunya GND filter digunakan agar langit dan taman masih dalam dynamic range yang diinginkan.

Setelahnya barulah kami mencapai katedral dan melakukan pemotretan. Sebelumnya ada mobil parkir di depan katedral dan rasanya kurang pas dengan pemandangan yang saya inginkan. So, dengan hati-hati dan sopan saya minta tolong pengemudinya untuk pindah parkirnya hehe. GND? Pasti.

Siangnya kami melanjutkan perjalanan ke Ho Chi Minh Mouseleum. Sayang karena keponakan saya belum bisa berjalan sendiri dan juga karena antrian yang sangat panjang maka kami batal masuk museleoum. Tapi saya masuk ke Ho Chi Minh Museum. Disana kita bisa belajar mengenai siapa bapak bangsa vietnam, Ho Chi Minh. Selain itu juga ada pameran kontemporer seni diatas gedungnya (Lt.3). Kamera tidak diperkenankan di mouseluoum, tapi di museum ini diperbolehkan. Kesulitannya adalah mencari sela waktu dimana tidak banyak turis berfoto di depan obyek yang mau kita foto.

Malamnya saya menghabiskan waktu di Hoan Kiem Lake dan juga menonton Water Puppet show. Khusus untuk water puppet pertunjukkannya cukup menarik, walau tidak seheboh show Siam Niramit di Bangkok. Untuk memotretnya kita membutuhkan lensa tele, Hi-ISO dan juga continuous shot mode. Kalau memungkinkan dapatkan barisan palinggggg depan, atau samping. Hal ini akan sangat memudahkan pemotretan. Buat yang kakinya panjang, selamat kram kaki. Hahahaha

Hoan Kiem Lake sendiri sangat indah pada saat menjelang twilight (sekitar jam 19.30). Apalagi saat kemaren dihiasi dengan berbagai lampu yang unik dan menarik.

Tentunya ini adalah “santapan” dari lensa super wide 10-22 dan tripod. Karena tanpanya sangat tidak dimungkinkan memperoleh hasil yang maksimal.

Dan selesailah perjalanan panjang saya di Hanoi, Vietnam dan sekitarnya. Hope next time could go there again 🙂

MOTO YUK !!!

 

PS : dari dulu saya selalu ingin memotret skytrain di KL dengan background gedung-gedungnya. Kebetulan bisa dapat pas transit disana


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *