Fuji X Pro1 Review – Part 1

Saya sudah menggunakan Sony NEX 5n lebih dari setahun. Sejauh ini kemudahan dari mirrorless (ringan, lensa ukuran kecil, tilt LCD, dll) sangatlah membantu saat saya travelling dan tidak ingin membawa banyak barang. Seperti pernah saya tulis, total 1 tas kamera dengan DSLR lengkap bisa mencapai 7 kg sendiri. Tentunya merepotkan pada saat hanya business travel yang kesempatan motret nya juga sedikit.

Flower
Fuji X-Pro1 + XF 18-55mm f2.8-4 | 55mm f4 Macro Mode | 
RAW Convertion on Photoshop + Desaturate background (layer masking)
Bisa dilihat bahwa Fuji me-render warna sangat bagus dan mudah untuk di post pro

Salah satu kendala saya dengan Sony NEX 5n adalah warna nya yang “wild” untuk di post processing. Sering saya puyeng sendiri karena karakter warna nya yang agak unik. Setelah menimbang nimbang, dan terkena racun promosi jpckemang, maka saya putuskan ganti haluan ke Fuji. Apakah sudah pasti lebih baik? Ya dengan harga lebih mahal harapannya demikian …. tapi tetap menurut saya NEX adalah pilihan yang sangat baik buat mereka yang ingin value dalam hal mirrorless.

Kamera yang saya akan review adalah Fuji X Pro1 dengan lensa 18-55 f2.8-4 serta 35mm f1.4

Fuji XE1 sebenarnya sama persis dengan fuji x pro1 dengan harga yang lebih miring dan body sedikit lebih kecil. Hal ini dikarenakan XE1 menghilangkan komponen Optical ViewFinder (OVF) dan menggantikannya hanya dengan Electronic ViewFinder (EVF) + LCD.

——————

The Ergonomy

Seperti saya sebutkan sebelumnya, Fuji X Pro1 ini sangat ergonomis. Lekuk nya pas, peletakan tombolnya juga sangat pas. Menurut saya fuji sungguh melakukan riset nya dengan baik, dia tahu betul tombol apa saja yang perlu diletakkan di luar menu.

Aperture ring diletakkan di body lensa, mempermudah fotografer dalam melakukan setting. Sedangkan shutter speed dan EV juga diletakkan di luar menu. Selain itu masih ada banyak tombol lain yang penting, seperti : Function button (bisa di set sebagai ISO button atau yang lain), pemilihan metering mode, pemilihan titik fokus, pemilihan drive, dan bahkan pemilihan manual focus atau AF.

fujifilm_xpro1_lenses

Saya kagum bahkan Fuji memikirkan kalaupun kita sudah memilih manual focus, maka kita tetap bisa “memaksa” lensa melakukan AF dengan menekan tombol AF/AE Lock. Ini sangat penting pada saat kita melakukan pre focus. Saya biasa melakukan hal ini di Canon, dan untuk melakukannya saya perlu masuk ke Custom Function. Sedangkan disini saya cukup mengubah tuas menjadi Manual Focus.

Tombol “Q” sebagai Quick Button juga sangat praktis. Seketika saat tombol ini ditekan maka sederet fungsi bisa diatur. Mulai dari jenis simulasi film yang digunakan (Oh ya, ini KEREN!!), Dynamic Range, highlight dan shadow tone, sharpness, color, dll. Dan kerennya lagi, itu semua tampil di viewfinder juga, so tidak perlu menurunkan kamera dan melihat ke LCD (semua DSLR tidak menampilkan menu di viewfinder).

Selain itu kita bisa juga menyimpan custom setting kita, dan dengan cepat kita bisa memanggilnya melalui menu Q ini juga. Walau Canon lebih praktis dengan meletakkan shortcut di dial button nya (Menu C1, C2, C3) tetapi Fuji menyediakan lebih banyak lagi menu custom ini.

So poin 10 buat Fuji untuk urusan ergonomi dan desain.

The Result

Saya harus mengakui bahwa sensor Trans milik Fuji bukan omong kosong. Lihat foto di bawah (OOC JPEG) dan 100% crop nya – no additional sharpness added (tidak bahkan yang di kamera – sharpness = 0) :

sample 1

crop100

Damned good right?

Ya menurut saya juga hasilnya sangat tajam tanpa mengorbankan warna dan kontras. It’s all there. Bersaing dengan Full Frame result.

Apakah dengan crop sensor (1.5x) DOF nya cukup? Tentu saja berbeda dengan full frame, tetapi coba lihat ini, apakah memadahi? Buat saya sangat memadahi.

sample2

Bokehlicious

Fuji X-Pro1 + XF 35mm f1.4 | Wide Open f1.4 | RAW Convertion on Photoshop 

Memang bulat nya bokeh tidak sempurna. Tapi render nya halus, background terasa lumer dan transisi nya terasa lembut. Ada yang bilang render nya bahkan mirip dengan leica summilux 50 f1.4 …. hemmmm belum pernah coba juga, so no comment. Tapi buat saya ini memuaskan.

Dari segi tonal juga fuji menurut saya lebih ramah dan mudah di post pro. So overall tujuan awal saya beralih dari NEX dengan menguras dompet ini berhasil. White Balance dari Fuji cukup akurat, lihat foto botol botol di atas, foto ini di ambil dalam ruangan dengan pencahayaan buatan.

The Performance

Sistem mirrorless memang bukan sistem dengan AF yang seperti kilat. Tetapi Fuji ini bahkan menurut saya sedikit lebih lambat dibanding NEX dalam hal kecepatan auto focus. Damned i miss a lot of opportunity because of it. Tapi kalau kembali ke genre pemotretan saya yang lebih banyak ke lanskap, makro dan travel, maka tidak terlalu masalah. Tapi buat mereka yang suka AF cepat untuk candid, lupakan saja menggunakan kamera ini.

Electronic Viewfinder buat saya tidaklah terlalu nyaman, karena resolusinya yang relatif rendah dan memiliki lag (obyek bergerak beberapa milisecond kemudian barulah viewfinder menampilkannya). Tetapi EVF sangat membantu saat LCD tidak bisa digunakan karena matahari terik di outdoor. Kesulitan yang selalu saya hadapi saat menggunakan NEX 5n dengan LCD only.

OVF adalah rajanya, saya suka sekali dengan OVF ini. Dia relatif jernih dan terang, bahkan dalam kondisi malam hari dimana LCD dan EVF sudah menyerah maka mata kita masih bisa melakukan komposisi dengan nya. Dengan bantuan corrected framing maka masalah parallax pada OVF (pada obyek yang sangat dekat dengan kamera) bisa dihindari. Selain itu dengan bidang di sekitar frame OVF kita bisa melihat kondisi sekitar. Alih alih coverage nya maksimal hanya 100% seperti di DSLR (DSLR ekonomis malah coverage viewfinder hanya 96% an) maka di OVF coverage bisa mencapai 150%. Saya makin terbiasa menggunakan OVF ini dibandingkan LCD maupun EVF. My favorites feature.

Satu lagi kelebihan OVF milik Fuji (dibandingkan Leica) adalah dengan menekan tuas maka OVF ini bisa zooming. Jadi misalnya kita menggunakan lensa 50mm maka area di OVF relatif sangat kecil. Susah kita melakukan focusing dan melihat dengan jelas. Di Leica rangefinder maka kita perlu menggunakan tambahan magnifier yang dipasang di viewfinder. Tapi di X Pro1 kita tinggal tekan tuas penukar OVF dan EVF maka secara otomatis magnifier akan di geser dan OVF sudah zooming. Super keren.

 

The Bonus

Selain fitur standard kamera maka fuji memiliki film simulation (berlaku mirip picture style kalau di canon). Saya belum sempat explore terlalu banyak soal ini. So, no comment terlalu banyak. Tetapi kalau baca di web maka JPEG yang dihasilkan menjadi khas dan tonalnya enak. Tinggal pilih jenis simulasi film apa yang mau digunakan :

  • Provia : untuk sehari hari
  • Velvia : untuk yang butuh saturasi dan kontras lebih tinggi
  • Astia : untuk tonal kulit yang halus
  • Pro Neg : untuk tonal kulit yang lebih halus lagi dan cenderung desaturate

Semoga minggu depan ini saya dapat kesempatan mencoba lebih banyak lagi film simulation ini.

sample3

Fuji X-Pro1 + XF 35mm f1.4 wide open | Astia Film Simulation | JPEG Out of Camera

Bonus lainnya adalah Macro mode. Dengan menggunakan mode ini maka lensa dan kamera bisa melakukan fokus relatif cukup dekat. Saya tidak tahu pembesaran akhir mencapai berapa banding berapa. tapi sangat memadahi untuk memotret still life, bunga dll.

PINK

Fuji X-Pro1 + XF 18-55mm f2.8-4 | 55mm f4 MACRO Mode | RAW Convertion on Photoshop

ReD

Fuji X-Pro1 + XF 35mm f1.4 | Wide Open f1.4 MACRO mode | RAW Convertion on Photoshop 

The Caveat

Tak ada gading yang tak retak bukan? Selain masalah AF nya maka masalah harga juga menjadi kendala buat Fuji. Nampaknya pasar yang disasar Fuji adalah pasar premium, sehingga Fuji hanya mengeluarkan body dan lensa kelas premium yang relatif mahal. Tetapi memang ini di ikuti dengan kualitas yang prima juga.

Kendala lain adalah karena Fuji tidak membuka algoritma demosaicing nya, maka sejauh ini banyak software yang tidak mampu memproses RAW dari Fuji. Termasuk di dalamnya adalah DxO Optics yang selama ini saya selalu gunakan untuk memproses RAW. Saya harus mengandalkan software bawaan Fuji atau Photoshop, yang keduanya saya tidak sepenuhnya puas. Tetapi hal ini tentu di “atasi” Fuji dengan menghasilkan JPEG yang luar biasa.

Hal lain yang menjadi kendala adalah pilihan lensa yang masih terbatas (dibandingkan DSLR dan Olympus). Tetapi yang positif adalah Fuji membuka informasi mengenai roadmap nya, dan sejauh ini semua di buat sesuai jadwal dengan kualitas yang tidak memburuk, bahkan makin meningkat (walau artinya makin mahal juga).

 

Summary

Buat mereka yang menginginkan image quality premium di mirrorless dan mengandalkan JPEG dibandingkan RAW dan tidak masalah dengan AF yang relatif lambat maka Fuji adalah jawabannya. Harganya jelas akan lebih mahal dibandingkan system Sony maupun Olympus.

Tapi bila anda tidak bermasalah dengan warna yang dihasilkan Sony (seperti saya) maka NEX adalah pilihan yang bijak. Apalagi dengan banyaknya lensa NEX dengan harga cukup terjangkau, plus kemungkinan diluncurkannya NEX versi full frame.



7 thoughts on “Fuji X Pro1 Review – Part 1”

  1. Maaf master saya mau nanya untuk ovf x pro1, saat kita focus (manual focus atau menggunakan lensa manual bukan lensa asli fuji) ke suatu objek dengan dof sempit, saat sudah focus di objek tsb apa disekitar objek yg kita focus tsb terlihat blur seperti kalau kita lihat di live view atau hanaya ada tanda apa gitu yang menandakan sudah focus, untuk evf yang yang resolusinya masih rendah dibanding xe2 dan xt1 apakah cukup memiaskan, terima kasih

  2. Maaf master saya mau nanya untuk ovf x pro1, saat kita focus (manual focus atau menggunakan lensa manual bukan lensa asli fuji) ke suatu objek dengan dof sempit, saat sudah focus di objek tsb apa disekitar objek yg kita focus tsb terlihat blur seperti kalau kita lihat di live view atau hanaya ada tanda apa gitu yang menandakan sudah focus, untuk evf yang yang resolusinya masih rendah dibanding xe2 dan xt1 apakah cukup memiaskan, terima kasih

  3. Maaf master saya mau nanya untuk ovf x pro1, saat kita focus (manual focus atau menggunakan lensa manual bukan lensa asli fuji) ke suatu objek dengan dof sempit, saat sudah focus di objek tsb apa disekitar objek yg kita focus tsb terlihat blur seperti kalau kita lihat di live view atau hanaya ada tanda apa gitu yang menandakan sudah focus, untuk evf yang yang resolusinya masih rendah dibanding xe2 dan xt1 apakah cukup memiaskan, terima kasih

    1. Nah yang ini saya agak lupa deh, nanti saya coba dulu ya, lensa manualnya gak di jakarta.
      XPro1 saya masih cukup puas dengan EVF nya kok, walau memang XT1 terasa jauh lebih wah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *