Fuji Pro X1 – hands on

Beberapa waktu lalu dapat kesempatan memegang dan menggunakan kamera fuji mirrorless dengan lensa yang bisa diganti, Fuji Pro X1. Review nya sudah ada dimana-mana, hands on juga bisa dibaca di web seperti Dpreview maupun Steve Huff Photo. Tetapi akhirnya saya coba sendiri kamera ini … Lensa yang dijajal kebanyakan adalah lensa “kit” nya yaitu Fuji 35mm f1.4 – saya juga akan “membandingkan” experience saya dengan Sony NEX 5n milik saya.

Secara umum body kamera ini lebih nyaman digunakan dibandingkan nex. Maklum ukurannya lebih besar, dan shortcut juga lebih banyak. Kamera yang saya coba dipasangi tambahan grip, sehingga ukurannya menjadi sedikit lebih besar. Memang memegangnya jadi lebih nyaman, tapi saya personally lebih suka tanpa grip ini. Selain jadi lebih besar, buka tutup pintu batere & SDCard jadi repot.

Fuji X1 menyediakan banyak shortcut yang bisa digunakan untuk mensetting, misalnya Fn button di bagian atas yang bisa digunakan untuk ISO maupun banyak fungsi lain. Lalu ada tombol “Drive”, “AE” dan “AF” di kiri LCD. Selain itu kita bisa menekan tombol “Q” di kanan LCD yang akan memunculkan menu shortcut untuk mengatur banyak hal, mulai dari jenis film (semacam picture style di canon), ISO, Drive, Flash, White Balance, Color saturation-sharpness, dll. Yang menarik adalah karena Fuji X1 menggunakan viewfinder optical + electronic maka menu “Q” ini bisa dimunculkan di viewfinder juga (dalam mode electronic tentunya). Jadi kita bisa melakukan setting sembari mata kita tetap masih ada di viewfinder (indahnya dunia).

Viewfinder di Fuji memang menjadi keunikan tersendiri dibandingkan mirrorless lainnya. Saya suka menggunakannya. Viewfinder ini terdiri dari viewfinder elektronik (sama seperti viewfinder di NEX 7) yang terang dan jelas, dan viewfinder optical. Viewfinder optical ini sebenarnya prinsipnya meniru viewfinder di kamera rangefinder (Leica M8 / M9 misalnya). Jadi kita melihat melalui kaca kecil di atas lensa (lihat gambar disamping). Ada paralaks? Pastinya … ini diatasi dengan sesaat setelah kita menekan tombol shutter akan dimunculkan grid putih untuk menandai mana yang masuk ke dalam frame. It’s really fun to use – agak bingung pastinya buat yang belum pernah pegang rangefinder.

Kenapa saya suka viewfinder optical? Karena di Sony NEX saya mengalami saat saat sulit menggunakan LCD / viewfinder elektronik saat mengkomposisi di kondisi pencahayaan sangat gelap. LCD tidak menampilkan detil, sehingga saya kesulitan melakukan komposisi saat pemotretan landscape. Padahal di kondisi pencahayaan yang sama biasanya saya masih bisa meraba-raba komposisi dengan menggunakan viewfinder optical Canon 5d mk2 saya.

————————-

Bagaimana hasil dari kamera ini? Saya belum explore sampai terlalu jauh, tetapi berikut adalah beberapa hasil yang sempat saya coba :

(Foto hanya di resize – tanpa di sharpening ulang di photoshop) Hasilnya cukup bagus menurut saya untuk bukaan paling lebar f1.4 – detilnya cukup tajam. AWB pada Fuji X1 juga saya rasa lebih baik dibandingkan dengan Sony NEX yang cenderung agak cold. Exposurenya juga lebih akurat (NEX 5n under 2/3 kurang lebih).

Foto diatas diambil di f2.8, ada peningkatan ketajaman sedikit kalau menurut pendapat saya, tapi sebenarnya bahkan di f1.4 lensa dan kamera ini perform sangat baik. Keputusan fuji untuk menghilangkan anti alias filter yang di claim meningkatkan ketajaman sensor dengan crop factor 1.5x ini nampaknya cukup terbukti. Yah, at least detil masih bisa ditangkap dengan baik.

Bokeh yang dihasilkan lensa dan kamera ini di f1.4 juga cukup menarik dan bagus menurut saya. Warna overall juga asik (ini dengan film digital Fuji Velvia yang saturated). Warna hijau dan biru-nya “khas” Fuji.

Berikut sample diatas yang sudah saya add saturasi, curve dan sharpening di photoshop :

Optical viewfinder saat lensa manual digunakan (misalnya Voigtlander 12mm yang merupakan lensa ultra wide “satu satunya” saat ini) bisa dibilang tidak berfungsi. Hal ini karena nampaknya optical viewfinder fuji (sama seperti di Leica M8 / M9) hanya untuk sampai dengan setara 24mm (= lensa 16mm). Begitu lensa lebih lebar digunakan maka optical viewfinder ini terhalang lensa + tidak keliatan sampai sejauh mana cakupan lensanya (viewfinder lebih sempit daripada cakupan lensa).

Untuk penggunaan lensa ultra wide seperti ini lebih baik menggunakan LCD / electronic viewfinder. Dengan mengubah sistem AF menjadi M (Manual) maka saat control dial kita tekan otomatis fuji x1 akan zoom ke titik fokus itu. Mempermudah kita untuk melakukan focusing. Mirip dengan yang dilakukan oleh NEX 5n, bedanya nex memiliki layar sentuh, sehingga memilih titik fokus jauh lebih nyaman dan cepat. Plus NEX memiliki focus peaking indikator, yang memberikan warna pada area yang infocus – kembali ini memudahkan untuk manual focusing.

——————–

KESIMPULAN :

Saya lebih merasa sony nex 5n lebih value dibandingkan fuji x1. Ya, fuji x1 adalah kamera dengan build dan kemampuan lebih baik dibandingkan sony nex 5n, tapi dengan pertimbangan bahwa mirrorless buat saya adalah secondary camera (the first will be my full frame dslr) dan harga body only fuji x1 = 2 x harga sony nex 5n dengan lensa kit … hemmmmm saya rasa saya lebih memilih melakukan beberapa post processing.

Tapi itu saya …. bagaimana dengan my-ers ? 🙂


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *