Focusing

Salah satu elemen yang sangat penting dalam fotografi adalah focusing. Tanpa focusing kita bisa menghasilkan foto yang “well exposed” dan juga komposisinya bagus, tapi tidak tajam. Pada foto dibawah ini focusing dilakukan keliru, sehingga yang fokus / tajam adalah pada bagian yang merah (pagar kayu) dan bukan di bagian yang biru (wajah model).

Focusing bisa dilakukan secara manual maupun auto. Kalau secara manual ya artinya kita mengandalkan mata kita (dan alat bantu lain misalnya split screen) untuk melakukan focusing dengan tangan kita sendiri. Sedangkan auto focus menggunakan berbagai metode, termasuk diantaranya ultrasonic sound untuk melakukan focusing buat kita. Biasanya switch manual / autofocus ada di lensa kamera.

Manual focusing biasa digunakan untuk lensa jenis lama yang belum memiliki autofocus, atau pemotretan macro yang butuh akurasi. Sedangkan pemotretan pada umumnya sekarang sudah menggunakan autofocus dari kamera+lensa yang digunakan. Hal ini tentunya karena lebih mudah. Apalagi untuk orang dengan kacamata minus seperti saya 🙂

Tiap kamera memiliki titik autofokus yang berbeda jumlah dan sensitifitasnya. Buat kamera pocket biasanya menggunakan flexizone atau berdasarkan kontras. Sedangkan untuk DSLR biasanya menggunakan titik fokus, misalnya pada Canon 50D dan 550D jumlahnya ada 9 buah. Sedangkan Canon 7D memiliki 19 titik AutoFocus yang bisa dipilih. Kebanyakan kamera disetting dengan menggunakan mode auto, artinya kamera akan menentukan titik fokus mana yang paling tepat digunakan.

Pada sample foto diatas kalau kita menggunakan semua titik autofocus maka kamera kemungkinan akan pilih 3 titik autofocus paling kiri (lingkaran merah). Hal ini di kebanyakan scene tidak menimbulkan masalah, tapi kalau kita menggunakan apperture yang lebar, seperti f2.8, atau dalam kondisi ada barang di depan obyek yang ingin kita foto, maka bisa jadi autofocus akan meleset.

Untuk itu biasanya saya setting titik focus saya hanya tertentu saja. Tidak semuanya aktif. Misalnya pada foto diatas saya bisa pilih titik yang paling dekat dengan mata / muka yang aktif. Hal ini untuk memastikan mata / wajah model tajam. Apa saja sih yang jadi titik fokus biasanya? Kalau model ya tentunya mata atau wajah. Kalau landscape biasanya kita fokus pada obyek yang akan ditonjolkan (kecuali menggunakan teknik hyperfocals distance). Kalau macro binatang biasanya kita juga fokus pada mata.

Tidak selalu komposisi yang kita inginkan cocok dengan adanya titik autofokus. Misalnya pada foto di bawah ini. Pada foto ini tidak ada titik autofocus yang jatuh pada wajah model. Tentu saja kita bisa menggeser komposisi sehingga titik tengah jatuh di wajah model, tapi bisa jadi komposisinya tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Ada cara lain yang disebut dengan “focus & recompose

Focus & recompose pada intinya adalah melakukan focusing lalu menahan tombol focus (sehingga kamera tidak melakukan autofocus lagi, biasanya dengan menahan setengah tombol shutter) dan melakukan recompose sehingga sesuai dengan komposisi yang kita mau.

Jadi misalnya kita aktifkan titik tengah (karena titik tengah biasanya adalah yang paling sensitif dan paling ok buat focusing. Setelah kita pilih focal length yang kita mau, kita bidik mata / wajah model dengan titik tengah tersebut. Sembari menahan tombol shutter kita geser posisi kamera sehingga komposisinya sesuai dengan yang kita mau. Setelah itu baru jepret dengan melanjutkan menekan tombol shutter. Dengan cara ini kita bisa tetap mendapatkan hasil tajam walaupun mata / wajah model tidak berada di titik autofocus.

Hal ini sebenarnya bisa juga dilakukan di kamera pocket. Sayangnya adalah di kamera pocket kebanyakan autofocus = exposure lock. Sehingga pada saat kita melakukan focus lalu recompose meteringnya dilakukan saat kita focusing, bukan saat recompose (hal yang sama tidak terjadi di DSLR). Hal ini mengakibatkan bisa overexposure / underexposure. Sehingga saran saya adalah tetap menggunakan flexizone atau mode auto lainnya di kamera pocket. Atau kalau mau ribet ya bisa menggunakan mode Manual, sehingga exposure lock nya tidak mengganggu.

MOTO YUK !!!

Notes : Exposure lock adalah mekanisme dimana hasil metering kamera (apperture + shutter speed yang dibutuhkan) di kunci, sehingga tidak berubah lagi.

Tips : Saya pribadi menggunakan custom function di kamera canon, sehingga tombol * yang seharusnya menjadi exposure lock saya ubah menjadi tombol autofocus. Sedangkan tombol shutter bila ditekan separuh menjadi exposure lock. Hal ini akan mempermudah saya karena tidak perlu menahan setengah tombol shutter selama proses recompose.

14 thoughts on “Focusing”

  1. Nice share, ini yang saya cari ttg cara efektif penggunaan 9 titik fokus pada 500D saya…hihihi…Soalnya kalo ngikut AF sering kagak seperti yang kita mau, kalo manual kok ga mau fokus2 hehehe…

    Thanks so much

  2. Saya masih bingung dengan pernyataan berikut di topik focus and recompose “Sembari menahan tombol shutter kita geser posisi kamera sehingga komposisinya sesuai dengan yang kita mau”…apakah artinya setelah kita menentukan titik fokusnya kita ( fokus dalam keadaan aktif ) kita bisa menggerakkan kamera maju mudur atas bawah sehingga titik fokus tidak jatuh di titik awal yg telah kita tentukan tetapi kita bisa mendapatkan ketajaman di titik fokus awal yg kita mau?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *