Flash Photography

Ada yang pernah harus / mau memotret pada saat kondisi agak gelap? Salah satu jawaban untuk itu tentunya adalah flash. Tapi memotret dengan flash agak berbeda dengan memotret biasa. Saat saya pertama kali menggunakan flash saya benar benar tidak mengerti kenapa saya tetap saja tidak bisa meningkatkan shutter speed saya dari 1/40 seconds. Padahal saya kan sudah pakai flash, seharusnya bisa 1/200 seconds dong? Tapi koq meteran di kamera saya tetap saja mematok angka 1/40. Waktu itu saya pikir kamera atau flash nya rusak (hahah so typical, menyalahkan orang lain atas ketidakmampuan). Tapi ternyata bukan, saya yang tidak mengerti konsep flash.

Panduan lengkap untuk fotografi dengan flash bisa dilihat di websites ini. Tentunya ini untuk yang ingin belajar lebih lanjut dan lebih kompleks lagi mengenai flash photography. Tapi saya ingin memberikan beberapa tips ringan bagaimana kita bisa menggunakan flash built in (yang sudah ada di kamera) dengan lebih baik.

Flash itu cahaya buatan dengan kecepatan nyala mencapai 1/250 seconds. Sangat cepat. Dampaknya apa? Fotografi dengan flash “tidak tergantung” pada shutter speed. Teman – teman mau pakai 1/10 second dengan 1/250 second hasilnya sama. Kenapa? Lha wong cahayanya cuma ada 1/250 second doang, abis itu sudah tidak ada cahaya lagi, mau shutter dibuka selama lamanya ya tidak ada cahaya lagi. Gini, coba bayangkan di malam yang gelap sekali teman – teman menyalakan lampu senter selama 1 detik. Apa yang terlihat? Yang terlihat ya apa yang ada selama 1 detik itu bukan? Setelah senter mati mau mata dibuka selama 1 jam ya tetap saja tidak bisa lihat apa-apa. Sama halnya dengan flash.

Lho, kalau demikian kenapa metering di kamera saya menyuruh saya menggunakan 1/40 seconds pada kesempatan A, lain kali 1/60 seconds, dll kan katanya shutter speed doesn’t matter? Inilah yang dinamakan konsep TTL Metering (Thorugh The Lens). Yang di metering oleh kamera teman – teman itu cahaya di belakang subyek (background). Coba gunakan mode “Manual”, lalu ubah-ubah shutter speednya. Mulai dari 1/20 seconds s/d 1/250 seconds. Teman – teman akan lihat bahwa subyeknya “sama terangnya”, hanya background yang berubah terang gelapnya.

Mulai pusing? Tenang, berikut cara menggunakan flash yang mudah :

  1. Set kamera di mode “Apperture Priority” / Av & siapkan flash built in
  2. Set apperture dan ISO sesuai kebutuhan, misalnya f4 dan iso200 untuk foto portrait / grup
  3. Nah sekarang arahkan kamera dan lakukan metering (biasanya dengan menekan tombol shutter setengah)
  4. Lihat berapa shutter speed yang dihasilkan
  5. Jika masih lebih cepat dari 1/60 seconds (misalnya masih dapat 1/100 seconds) maka langsung saja jepret. (Ingat bahwa shutter speed minimal ada 2 rule of thumb-nya : lebih cepat dari 1/60 secs dan atau lebih cepat dari 1/focal length)
  6. Kalau misalnya hasil metering ternyata lebih lambat dari 1/60 secs (misalnya hanya dapat 1/30 secs) maka ubah mode ke “Manual” / M
  7. Di mode manual set apperture dan iso sama seperti yang sebelumnya. Nah shutter speednya coba set di 1/100 secs dahulu.
  8. Jepret !!!
  9. Kalau hasilnya kurang ok coba ubah – ubah flash powernya (biasanya di kamera, termasuk pocket, ada yang digunakan untuk mengatur kuat lemahnya flash)

Silahkan mencoba 🙂

0 thoughts on “Flash Photography”

  1. Alow mas.., saya mau tanya2 lg ni seputaran flash.., kemaren saya blajar foto produk (botol minuman dari kaca), saya menggunakan teknik flash off kamera (strobist) dg menggunakan 2 flash external, 1 flash dg aksesoris payung dan satu lg dg aksesories diffuser garry fong..nah pas saya motret dg speed 1/250 koq ada gradasi warna hitam ato semacam vignette tp hanya disebelah kanan foto yah? Nah pas saya coba naikin speed diatas 1/250 warna tersebut setengah malahan dari hasil foto.., utk informasi nya, saya menggunakan kamera 450 D. Mohon pencerahan nya ya mas… Trima kasih

Leave a Reply MY-ers ...