Flash Metering

Dalam Metering kita membahas mengenai bagaimana kamera melakukan perhitungan Apperture / Shutter speed / ISO yang dibutuhkan agar exposurenya tepat. Apabila kita menggunakan flash tentunya keadaan menjadi berubah, mengingat flash menjadi sumber cahaya tambahan. Metering biasa tidak bisa melakukan perhitungan dengan “tepat” karena flash belum menyala saat metering dilakukan. Jadi bagaimana cara melakukan metering? Secara sederhana jawabannya adalah dengan menembakkan flash dan melakukan metering sesaat setelah flash menyala.

Sistem flash metering Canon dimulai dengan TTL (Through The Lens), A-TTL (Advanced TTL), E-TTL (Evaluative TTL), E-TTL II. Saat ini kebanyakan model kamera dan flash Canon sudah mengadopsi sistem E-TTL atau E-TTL II. Perbedaan keduanya terutama adalah pada E-TTL  II informasi mengenai jarak kamera dan obyek turut diperhitungkan sehingga hasil metering menjadi sedikit lebih akurat.

Canon Speedlite system - courtesy of the-digital-picture.com

Flash metering dilakukan melalui proses sebagai berikut :

  1. Saat tombol shutter ditekan separuh untuk melakukan metering (kecuali Custom Function IV di aktifkan) maka kamera melakukan metering berdasarkan ambient light (cahaya sekitarnya, misalnya dari lampu / matahari). Shutter speed / Apperture ditentukan berdasarkan metering ini.
  2. Saat tombol shutter ditekan penuh maka flash yang dipasang di hot shoe akan menembakkan “Pre-Flash” (flash dengan intensitas rendah hanya untuk keperluan metering)
  3. “Pre-flash” ini akan memantul pada obyek yang ada, lalu bersama dengan ambient light akan masuk ke sensor kamera melalui lensa (itu sebabnya di sebut Through The Lens).
  4. Sensor kamera menggunakan “Evaluative Metering System” akan menentukan flash power output (misalnya dalam bentuk durasi flash tersebut menyala) dan menyimpannya di memory kamera (biasanya selama 16 detik atau apabila metering baru terjadi). Seluruh bagian dari sensor akan diperhitungkan dan dibandingkan dengan ambient metering di poin 1. Active focus point akan diberikan bobot lebih dalam perhitungan. Sedangkan apabila kita sedang dalam mode manual focus maka titik fokus tengah / hasil perhitungan average metering akan digunakan sebagai acuan.
  5. Mirror di dalam kamera akan terbuka dan shutter terbuka, sehingga sensor kamera akan terexpose pada cahaya.
  6. Kemudian flash akan menyala sesuai dengan perhitungan di poin 4
  7. Shutter terbuka selama periode waktu sesuai dengan metering di poin 1
  8. Shutter tertutup dan proses pengambilan gambar selesai

Jadi pada flash metering E-TTL akan menentukan menentukan kuat lemahnya flash (dalam bentuk durasi milisecond flash menyala), dan metering kamera akan menentukan shutter speed / apperture yang digunakan.

Walaupun sangat canggih tapi E-TTL tetap memiliki beberapa “kelemahan” diantaranya :

  • Walau selisih waktu antara pre-flash dan flash yang sesungguhnya hanya dalam satuan miliseconds tapi kadang ada saja orang yang keburu berkedip gara-gara pre-flash. Hal ini membuat fotonya sedang dalam kondisi mata tertutup. Ini biasanya ditangani dengan memberi tahu bahwa akan ada 2 kali flash, atau menggunakan Flash Exposure Lock.
  • Algoritma E-TTL tidak pernah di publikasikan untuk umum. Sehingga menggunakan hasil metering dari E-TTL membutuhkan pengalaman dan coba-coba di berbagai kondisi. Karena bisa jadi di kondisi ekstrem E-TTL tidak menghasilkan efek seperti yang diinginkan.

Pada sistem E-TTL II dan dengan beberapa lensa yang kompatibel (biasanya adalah lensa Canon dengan Ring USM, untuk melihat lebih detil apakah lensa tertentu support E-TTL II bisa lihat disini) maka informasi mengenai jarak flash dan obyek akan di perhitungkan juga. Hal ini akan meningkatkan akurasi flash metering.

Sistem flash Nikon (Speedlight) memang sejak dulu lebih unggul. Selain sudah sejak lama menggunakan data jarak flash – obyek dalam perhitungan, maka Nikon juga sejak lama memasukkan wireless flash trigger di flash built in-nya, sesuatu yang baru Canon lakukan di Canon EOS 7D yang baru. Dalam hal ini (dan body ergonomics) memang Canon kalah telak.

MOTO YUK !!!

—————————————-

Reference :

10 thoughts on “Flash Metering”

  1. kalau kamera canon 600d, compatible nggak sama speedlite yong nuo 467,
    karena di manual book tertulis support TTL.
    sedangkan dari kamera support all EX Series..mohon bantuannya

  2. ia sudah di coba, bisa bekerja dengan baik..
    tapi sekarang masalah lain muncul lagi, kalau mau di pasang saya harus
    1. on speedlite nya…tnggu 1 menitan ok lampu indikator udah siap kan
    2. tunggu sekitar 5 menit baru on kamera… baru bisa nyala flash nya.
    kalau ngaak begitu flash nya ngak mau nyala… kalau perangkat udah off kan semua untuk on kan lagi harus gitu lagi… malah kalau udah banyak kali shoot trus di off kan lalu on kan kembali saya menunggu sampai 10 menitan mas…

  3. apa mungkin karena saya pakai baterai alkaline biasa mas…?
    apa mungkin untuk pakai flash baterai “harus” yg bisa di charge lagi gitu..?
    terima kasih pencerahanya….

  4. biasa batere recharge NiMH hanya mempercepat proses nyala & recharge sesaat sesudah digunakan. Tapi perbedaannya tidak sampai yang batere biasa ampe bermenit menit sih. Lebih kompatibel nya aja kayaknya

Leave a Reply MY-ers ...