Evolusi Memotret

Ini sedikit cerita mengenai evolusi (pribadi) saat proses belajar motret. Semenjak awalnya belajar pakai kamera pocket di kisaran tahun 2006. Siapa tahu bisa jadi bahan refleksi buat teman-teman motoyuk selama proses belajarnya. Semoga bisa menyemangati untuk terus belajar dan tak pernah merasa jago / cukup / hebat … sehingga juga bisa terus bisa sharing di motoyuk bersama rekan-rekan yang lain.

Tahap Anxious

Ini adalah tahap yang dijalani oleh semua pemula yang baru beli kamera, “Gatel Motret”. Cirinya adalah kemana mana kamera dibawa, segala macam barang dan kejadian mau di foto. Mulai dari bunga, meja, orang, kertas koran ampe pagar rumah semua di foto. Hasil foto? Kacau … hahaha, maklum baru belajar dan pegang kamera. Pedulinya cuma ama teknik (yang notabene juga belon jago), bukan komposisi.

Liat aja tuh foto bunga yang dipotong gak jelas, dengan depth of field yang gak jelas pula. Selain itu kamera disayang-sayanggggg banget, tiap kali di lap, gak mau ada debu, kalo ada debu bingung perlu dibersihinnya gimana. Pake blower lah, tissue khusus lah, apalah … ribet.com

Semangat 45 deh pada fase ini. Baca artikel juga buanyak banget, segala macam artikel dari web atau buku dibaca dan di diskusikan. Mulai dari yang penting ampe gak penting sama sekali hahaha. Kayaknya sebagian besar pembaca motoyuk.com juga datang dari kalangan ini deh hahahaha.

 

 

 

Tahap Cool Down

Nah tahapan ini biasa hasrat mulai berkurang … udah mulai bosen, tapi tetep belon pinter juga pake kamera. Ada yang kamera jadi nganggur (dengan segala macam alasan sibuk, gak sempat, belon punya ini itu, dll). Adaaaaa aja alasan yang membuat gak motret, intinya kamera mulai nganggur. Beberapa bulan juga kamera cuma menghasilkan beberapa buah foto doang.

Yah, kayak saya, ada juga yang masih tetap baca artikel dan aktif diskusi. Tapi beneran motret mulai berkurang. Merasa udah mentok / bingung mau belajar gimana lagi. Kayaknya hasil foto ya segitu-gitu saja, gak jadi tambah pinter.

(Ya iyalah, siapa bilang baca artikel doang bisa jadi pinter motret … stupid me … hahahaha)

Kalau ada duit berlebih mulai juga beli – beli peralatan gak jelas (dan gak dipake karna gak motret motret juga). Kadang ada juga yang dampaknya adalah beli lensa / body yang mahal-mahal (harus L Series dong ….) tapi teuteuppppp gak dipake juga. Cuma sesekali pergi dan memotret.

Intinya … Cool Down

 

 

 

 

Tahap Gila Teknik

Syukur-syukur kamera gak dijual pada tahap cool down maka memungkinkan untuk masuk ke fase ini. Fase ini belajar niat bener dari temen, buku, majalah, internet soal teknik. Baik teknik motret umum, rumit, super rumit (dan gak penting), teknik post-processing, dll. Semua informasi dilihat dan dipelajari.

Motretnya sendiri? Jadi semangat dong … tapi semangat untuk menghasilkan foto yang “perfect” … exposure harus perfect, komposisi perfect, lighting, warna, bokeh, dll … semua deh dikomentarin dan dijajal.

Peralatan baru juga dibeli demi hasil yang sempurna ini (walau tuh peralatan gak perlu dan gak kepake). Mulai dari tripod super mahal, lensa super mahal (yah mahal deh buat yang duit cekak …), body kamera di upgrade (dan upgrade dan upgrade dan upgrade dan ….. yah gitu deh).

Hasil foto? Improve lah … kasihan amat udah niat begini gak improve juga. Mendekati perfection (semu) ? Ya tentunya …

Tapi seringkali yang hilang adalah soul / jiwa dari foto. Kalau liat fotonya indah tapi gak ada soul nya, gak ada cerita, gak ada sesuatu yang unik dan berbeda.

 

Tahap Pencerahan

Di tahap ini mulai paham bahwa foto itu harus ada jiwanya. Harus ada pesan yang mau disampaikan. Bukan sekedar gambar yang indah dan perfect secara teknis dan komposisi. Tapi ada cerita, ada pesan, ada keunikan yang mau disampaikan. Inilah yang membuat foto dari para maestro foto sejak jaman dulu berbeda. Inilah yang membuat sebuah foto bisa diceritakan dengan berlembar-lembar cerita (buku Galen Rowell misalnya), lebih dari sekedar data teknis foto itu. Foto adalah cerita.

Disini pula fotografer (dan saya secara pribadi) mulai paham bahwa alat ya sekedar alat bantu. Mau merek apapun, type apapun, semuanya bisa digunakan. Cuma masalah efisiensi saja, tidak lebih. Disini pula saya belajar untuk berani memilih peralatan yang memang sesuai dengan style fotografi saya (masih belajar … susah bener secara gue orang IT yang suka ngoprek barang baru).

Tahap ini pula saya baru berani cuek dengan peralatan yang saya punya, kalau momen mengharuskan saya agak ujan-ujanan saya tidak masalah. Saya tahu benar limitasi peralatan saya. Saya tahu benar momen dan cerita seperti apa yang ingin saya ceritakan. Lebih dari sekedar “sayang peralatan”. Lebih dari sekedar “teknik harus benar”.

Saya masih belajar … mungkin suatu saat akan saya temukan tahap yang lebih lagi dari tahap ini. Tapi one thing for sure … I’ll never stop learning 🙂

 

Sekaligus ingin mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri kepada semua motoyuk-ers yang merayakan, semoga ibadahnya selama bulan puasa diterima Allah SWT. Happy Ied …..

 


23 thoughts on “Evolusi Memotret”

  1. Hbs baca ini, maluuuuuuu
    Pastinya msk d tahap pertama, beralih ke tahap kedua. Smua blog ttg fotografi dibaca. Tp klo gak gitu, gak bakalan tau ada artikel ini yg serasa “nampar” pipi hehehehehe,,,,,,,

  2. Hahahahahahhaha ☺
    Beruntung sekali saya (level anxious stage one / kemaruk) langsung ketemu blog ini….
    Terima kasih mas edo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *