Curug Cikaso – Slow Speed Photography – Ujung Genteng Jan 2011 #4

Ujung genteng tidak hanya terkenal dengan pantainya yang indah (dan seafood murah-meriah enak nya), tetapi juga dengan banyak curug / air terjun-nya. Air terjun ini terletak sekitar 1-2 jam dari pantai ujung genteng. Salah satu curug yang berhasil saya datangi adalah curug cikaso.

5dMarkII + 17-40 f4 L | Av Mode | 19mm | f22 | 0.8 secs | ISO50 | EV0 | Daylight WB | Standard Pics Style | ND 6 stop | Tripod | Canon DPP for Raw Convertion

Pemotretan air terjun atau air yang mengalir (misalnya di tepi pantai) identik dengan teknik slow shutter. Teknik ini membuat parameter exposure sedemikian rupa sehingga mendapat slow shutter speed (umumnya di atas 1 detik). Misalnya menggunakan apperture sangat kecil (f22 atau bahkan f32) atau ISO sangat rendah (misalnya ISO100 atau bahkan ISO200). Dengan setting seperti ini kadang kita bisa mendapatkan shutter speed mencapai lebih dari 1 detik. Dengan slow shutter speed seperti ini maka kita bisa memperoleh aliran air yang halus seperti kapas.

Tripod adalah keharusan karena tanpanya maka kita akan mendapatkan foto yang tidak tajam karena shake.

Kadang kala menggunakan apperture sempit + ISO rendah pun tetap tidak menghasilkan shutter speed yang diinginkan. Hal ini karena memang kondisi relatif terik & berlimpah cahaya. Oleh sebab itulah kita membutuhkan filter khusus, Neutral Density atau ND. Filter ini ibaratnya kacamata hitam / “RayBan” buat lensa & kamera kita. Menghalangi sejumlah cahaya masuk ke dalam kamera. Oleh sebab itu bentuknya pun seperti kaca / plastik hitam. Makin hitam makin banyak jumlah cahaya yang dicegah masuk, makin lambat pula shutter speed yang dihasilkan.

Ada 2 jenis filter ND kalau dilihat dari bentuknya, Ring & Square. Yang Ring ada ukuran filter thread nya, mirip dengan CPL & UV. Sedangkan yang kotak umumnya bisa digunakan di hampir semua ukuran filter thread. Keunggulan yang bulat adalah umumnya dibuat dari kaca yang kualitas optiknya lebih baik dibandingkan bahan resin yang digunakan oleh filter kotak.

Dari tingkat gelap-nya ada banyak sekali jenis ND, mulai dari bisa menahan 2 stop cahaya hingga bahkan 12 stop (lihat penjelasan mengenai exposure & f-stop). Mana yang dibutuhkan? Tergantung dengan kondisi tentunya, jika kita memotret di pagi hari kemungkinan hanya butuh 3-4 stop ND. Tapi lebih siang tentunya butuh makin gelap.

Selain menggunakan format landscape kita bisa menggunakan format portrait juga untuk pemotretan air terjun. Hal ini sering dilakukan karena air terjun umumnya tinggi, sehingga format portrait sering lebih cocok digunakan. Coba gunakan elemen “people” untuk memberikan gambaran mengenai skala / ukuran air terjun tersebut. Selain itu foto juga akan terasa lebih hidup dengan adanya elemen manusia dalam foto landscape kita.

Parameter pemotretan untuk foto diatas : 5dMarkII + 17-40 f4 L | Av Mode | 21mm | f22 | 0.6 secs | ISO50 | EV0 | Daylight WB | Standard Pics Style | ND 6 stop | Tripod | Canon DPP for Raw Convertion + Adobe Photoshop for cleaning the watermark

Salah satu kendala utama pemotretan di air terjun adalah angin yang berhembus + bintik air dikarenakan hempasan air terjun-nya. Tidak ada “obat” untuk hal ini, mau tidak mau memang harus sabar menunggu angin sedikit lebih bersahabat. Jangan lupa untuk lap lensa anda segera setelah selesai pemotretan, kadang noda-nya tidak mau hilang.

Air terjun tidak selalu harus ditampilkan dalam “color photography”. Pilihan BW pun juga bisa diambil untuk menekankan aspek dimensi & bentuk air terjun.

Parameter pemotretan untuk foto diatas : 5dMarkII + 17-40 f4 L | Av Mode | 23mm | f22 | 1/3 secs | ISO50 | EV0 | Daylight WB | Standard Pics Style | ND 6 stop | Tripod | Canon DPP for Raw Convertion + Adobe Photoshop for BW convertion (using also layering for BW adjustment)


4 thoughts on “Curug Cikaso – Slow Speed Photography – Ujung Genteng Jan 2011 #4”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *