Curug Cikaso on May 2011

Sekali lagi saya mendatangi curug cikaso yang sebelumnya sudah saya datangi di bulan Januari 2011. Tetap saja curug ini mempesona. Tetap saja memotretnya membutuhkan effort lebih karena deburan air yang dibawa oleh angin membasahi permukaan lensa. Saya sih tidak khawatir kamera / lensa rusak karena air seperti itu tidak akan bisa masuk, apalagi dengan perangkat yang memang sudah di desain weatherproof. Tetapi membasahi permukaan lensa = hasil yang kurang optimal.

Curug cikaso terletak sekitar 1 jam perjalanan dari pantai Ujung Genteng. Berbelok di pertigaan mengarah ke Tegal Beuleud, tak jauh dari kota kecamatan Surade. Perjalanan setelah pertigaan itu sih jalannya malah relatif lebih mulus. Ada sebagian jalan yang agak rusak saat itu sedang di perbaiki, semoga sih lekas beres ya. Di Curug Cikaso sebenarnya berjalan kaki dari parkiran tidaklah jauh, akan tetapi saya rasa ada baiknya memberi “nafkah” penduduk disana dengan naik perahu yang ada. Saya rasa karcis perahu nya tidak seberapa dibanding kopi Starbucks yang biasa diminum tiap weekend.

Parameter : Canon 5d Mark II + 70-200 f2.8 L IS @ 195mm | Av @ f16 EV+1/3 | 1/20 secs | ISO100 | Tripod | Daylight WB | Standard 7040 Picture Style

Kali ini saya memutuskan memotret curug cikaso berbeda, menggunakan lensa tele. Penggunaan lensa tele membuat kita bisa mengambil bagian tertentu dari air terjun. Apabila seperti di curug cikaso yang memiliki bagian-bagian yang ditumbuhi lumut maka foto akan berwarna. Saya tidak membutuhkan shutter speed terlalu lama karena sifat aliran air di curug yang cukup deras membuat air sudah cukup blur hanya dengan 1/20 secs. Tripod? Sudah pasti. ND filter? buat apa – kalau shutter speed sudah memadahi.

Salah satu trik lain menghindari percikan air adalah mencari lokasi lain yang tidak kena hembusan langsung. Biasanya terletak di samping air terjun tersebut. Sama halnya dengan di curug cikaso ini, kita bisa mengarah ke bagian kanan air terjun untuk menemui area yang relatif lebih “kering”.

Parameter : Canon 5d Mark II + 17-40 f4 L @ 17mm | Av @ f16 EV0 | 1/8 secs | ISO200 | GND soft edge 0.9x | CPL | Tripod | Daylight WB | Faithfull 7020 Picture Style

Motoyuk-ers bisa berjalan kaki saat pulang dari Curug Cikaso ini. Selain jaraknya tidak jauh, juga banyak obyek yang bisa di foto. Mulai dari makro (karena dekat persawahan), ataupun landscape persawahan yang indah. Saya sebenarnya sangat menyayangkan area jalan pulang ini tidak digarap dengan serius. Apabila kita membuat jalan setapak yang bersih dan mudah dilewati, ditambah dengan beberapa saung untuk berhenti sejenak menikmati sawah-sawah yang ada, pastilah akan sangat menarik bagi turis. Selain itu dapat juga dibuat tempat makan tradisional sunda dengan musik mengalun. Dijamin pasti laku keras. Semoga kelak inisiatif UGTrip segera dapat memberi dampak.

Parameter : Canon 5d Mark II + 70-200 f2.8 L IS @ 200mm | Av @ f8 EV-2/3 | 1/400 secs | ISO400 | Tripod |Daylight WB | Standard 7040 Picture Style | Post-Processing with Adobe Photoshop & ColorEffect Plugin

Sata melihat jajaran sawah disana yang sangat menarik untuk di abadikan. Layers yang ada + gubug di tengah sawah membuat foto yang sangat menarik buat saya. Sayang memang pencahayaan sudah tidak optimal, sehingga untuk mendapatkan dampak dramatis foto ini saya harus menggunakan post-processing di Adobe Photoshop & ColorEffect Plugin.

Next time berkunjung ke Ujung Genteng jangan lupa mampir ke Curug Cikaso. Apabila sampai disana, jangan lupa untuk berkontribusi dengan naik perahu dan pulang berjalan kaki menyusuri pinggir sawah yang menghijau / menguning.

MOTO YUK!!!




6 thoughts on “Curug Cikaso on May 2011”

  1. terima kasih atas info selama ini, saya akhirnya membeli 17-40 dan 5D mark 2 atas saran dari kak edo.. ada sedikit pertanyaan.. saya suka sekali dengan Landscape, skrng yang saya bingung filter2 apa yg harus dibutuhkan.. saya kedepan ingin saya pasang holder filter tapi dengan ukuran berapa apabila memakai 17-40 dan merk apa serta filter jenis apa dan merk apa ? maaf sebelumnya krn banyak pertanyaan..

    1. Selamat atas pembelian 17-40 nya hehehe. Semoga puas yak. Untuk filter lanskap 3 yg paling kepakai dari yg paling penting : gradual netral density, circuit polarizer, neutral density. Bisa search di motoyuk untuk detil.
      Kalau gnd + mau pasang holder maka saran saya : lee holder + gnd hitech 100 set soft dan hard
      cpl bisa pakai hoya hd cpl
      nd bisa pakai hoya atau lightcraft workshop vari ND

    1. Untuk cpl lebih baik ring dan harus slim kalau tidak vignette.
      Kalau gnd sudah pasti kotak
      kalau nd boleh ring atau kotak. Saya recommend ring yg jenis fader / variND. Tapi pilih yg kualitasnya bagus. Kalau tidak dampaknya akan langsung ke sharpness foto.

  2. sebelumnya, maaf klo kebanyakan tanya mas edo..
    1. Klo CPL + ND jenis fader apa nanti tidak vignette di 17mm.. karena mungkin agak tebal..
    2. Klo CPL + Holder apakah tidak vignette ?
    3. Merk ND fader apa yang bagus..
    4. Untuk holder lee atau cokin ? info sama2 bagus cuman beda merk dan harga.

    1. Tidak masalah Mas 🙂
      Fader kemungkinan besar vignette, oleh sebab itu cari jenis fader yang naik satu step. Jadi untuk ring 77mm dia punya bagian depannya 82mm – lihat Lightcraftworkshop fader ND
      CPL + holder gak vignette asalkan pakai type holder Z series, bukan P series buat GND nya
      Holder saya prefer Lee, cobain pasti ngerti maksudnya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *