Category Archives: Architecture

HDR Process menggunakan AuroraHDR

Dalam pemotretan lanskap dan arsitektur salah satu kendala utama adalah memaksimalkan dynamic range. Artinya menjaga agar bagian foto yang terang tidak menjadi terlalu terang (over expose, sehingga tinggal putih doang) dan bagian foto yang gelap tidak terlalu gelap (under expose, sehingga hitam doang).

Sama halnya dengan ada banyak jalan menuju roma, ada banyak jalan untuk mencapai hal tersebut.

  • Ada yang memastikan kamera nya memiliki dynamic range yang tinggi (DXOMark adalah salah satu website yang jadi referensi kalau mau cek hal ini). Cara ini memiliki keterbatasan menangkap dynamic range, karena bagaimanapun kamera digital memiliki keterbatasan. Plus, foto harus di ambil dalam format RAW dan di olah lebih lanjut.
  • Ada juga yang menggunakan filter (Gradual Neutral Density adalah salah satu filter andalan saya untuk mengatasi masalah dynamic range di pemotretan lanskap). Cara ini termasuk paling efektif dalam menjaga dynamic range. Kendala utama cara ini adalah repotnya pada saat pemotretan dan apabila horizon tidak bersih (misalnya ada gedung gedung atau perbukitan) maka bagian itu bisa ikut ikutan gelap/under expose. Selain itu filter juga tambahan optik di depan lensa, so Image quality juga sedikit banyak terpengaruh.
  • Selain itu pengolahan pasca pemotretan (post processing) menggunakan software HDR (high dynamic range) juga bisa dilakukan. Software ini menggunakan beberapa foto dengan exposure yang berbeda, dan secara “otomatis” melakukan proses blending. Misalnya menggunakan foto paling gelap untuk area langit (supaya tidak over expose) dan foto paling terang untuk area foreground (supaya tidak under expose). Cara ini sangat efektif untuk area dengan horizon tidak bersih. Kendala nya adalah tambahan waktu untuk memproses foto, ketergantungan dengan algoritma software dan apabila tidak hati-hati munculnya artefact (halo, dll).

Salah satu software pemroses HDR yang mencuri perhatian saya adalah AuroraHDR. Tersedia untuk MacOS dan Windows (versi 2018) dengan harga sekitar Rp 1jt. Mahal? Well … filter GND kualitas bagus 1 buah dan holder nya harganya sama.

Sebelum ada yang tanya ada bajakannya gak … sekedar reminder kalau sebagai fotografer mau dihargai karyanya, maka hargai juga hasil karya programmer.

Continue reading HDR Process menggunakan AuroraHDR

(AU) Sydney Opera House, HDR Tips

Salah satu lokasi ikon kota Sydney adalah Opera House. Begitu melihat bangunan ini semua orang tahu bahwa ini adalah Australia, tepatnya Sydney.

Ada banyak lokasi untuk memotret ikon ini. Baik dari area Sydney Opera House sendiri, Killibilli, Luna Park, Cremorne, Botanical Garden, dll. Semuanya punya karakter pemotretan tersendiri, unik dan patut dicoba.

Sydney Opera HouseDari arah Cremorne Wharf - dengan lensa tele (twilight menjelang malam)
Harbour BridgeDari arah Luna Park - after Twilight sunset
SydneyDari arah Botanical Garden - sunset
Sydney Opera HouseDari arah Circular Quay - menuju Sydney Opera House (twilight pagi hari)

Kali ini saya akan membahas teknik pemotretan HDR yang digunakan untuk foto  di atas.

Continue reading (AU) Sydney Opera House, HDR Tips

(AU) Cremorne Wharf, Sydney

Salah satu lokasi untuk memotret pemandangan kota Sydney yang tidak banyak orang tahu terletak hanya sekitar 15 menit perjalanan menggunakan Ferry dari Circular Quay. Lokasinya ada di dekat dermaga Cremorne (Google Map Coordinate : -33.847853, 151.230895).

Cremorne - Burning SunsetDari Circular Quay kita bisa ambil ferry di dermaga 6, menuju Cremorne. Kendalanya cuma ferry ini agak jarang, satu jam sekali. So hati hati dalam merencanakan perjalanan. Lebih baik berangkat lebih awal daripada telat. Ada 2 lokasi pemotretan, satu ada di sebelah kanan begitu kita keluar dari dermaga (Google Map Coordinate : -33.848655, 151.232875). Kendala dengan lokasi ini adalah terhalang dengan beberapa batang pohon dan juga agak sulit memotret di tebing nya. Bonus nya : Ada mercusuar kecil yang bisa jadi obyek menarik. Continue reading (AU) Cremorne Wharf, Sydney

(AU) Hornby Lighthouse, Watson bay, Sydney

Ini adalah salah satu tempat yang menarik di Sydney, komplit dengan pemandangan mercusuar nya, laut dan tebing yang indah, city view dan juga park. Lokasinya sendiri (Google map : -33.833315, 151.280584agak jauh dari pusat kota, tetapi masih terjangkau dengan mudah via kendaraan umum.

Hornby Lighthouse

Kita bisa naik ferry dari Circular Quay menuju Watson Bay. Setelahnya berjalan kaki melalui Cliff Street (sekitar 10-15 menit) dan masuk ke cagar alam di Camp Cove. Saran : bawa senter, karena begitu lewat sunset maka jalan di cagar alam ini gelap sekali.

Traveller

Tidak ada biaya masuk, biaya motret dan biaya preman lainnya. So murni hanya biaya transport menggunakan Ferry. Kalau mau murah ya pergi di hari minggu menggunakan OPAL Card. Karena untuk hari minggu maksimum charge adalah AUD 2.5. So mau sampai ujung dunia juga bayar maksimal segitu.

Pantai di Camp Cove sendiri cukup menarik untuk di eksplore. Juga dengan city view sepanjang perjalanan ke Hornby Lighthouse. Sayang saya tidak punya banyak waktu saat itu, sehingga langsung menuju area mercusuar.

Mercusuar nya sendiri sangat menarik dengan warna merah putih nya. Eye Catching.

Angle pemotretan bisa dilakukan persis di area bawah mercusuar, tetapi agak statis dan kurang menarik. Lebih menarik adalah dari tebing tidak jauh dari mercusuar itu (sekitar 20-30 meter). Tetapi kita perlu ekstra hati hati karena tebingnya sangat curam dan tidak memiliki pagar pembatas. Continue reading (AU) Hornby Lighthouse, Watson bay, Sydney

(AU) Fairfax Lookout – North Head – Manly, Sydney

Ada banyak lokasi untuk menikmati city view dari Central Business District (CBD) Sydney. Salah satu diantara nya yang relatif cukup jauh, tapi juga cukup spektakuler adalah di Fairfax Lookout, North Head, Manly (Google Map coordinate : -33.823307, 151.300276)

Lokasinya sebenarnya berseberangan dengan South Head, lokasi dimana Hornsby Lighthouse berada (saya tuliskan di artikel lain nanti). Tetapi untuk mencapainya memang agak lebih “PR” … karena kita perlu naik ferry ke Manly, lalu naik bis dan berjalan sekitar 10 menit untuk mencapai area nya. Google map di Android / iOS dengan mudah bisa menunjukkannya.

Ada 2 lokasi yang menarik di area ini. Satu lokasi adalah di -33.821828, 151.300845, di lokasi ini kita bisa melihat laut lepas dengan pemandangan tebing yang indah.

Lokasi kedua adalah Fairfax Lookout sendiri. Untuk memotret disini Sunset adalah waktu yang disarankan, karena menghadap ke Barat.

Pink Sunset

Pemotretan membutuhkan lensa medium – tele, sekitar 50mm – 200mm (APS-C). Kalau menggunakan lensa wide maka obyek utama sulit untuk di peroleh detilnya. Tentu saja tripod juga dibutuhkan untuk detilnya, karena begitu sunset + lensa tele maka shake sangatlah besar kemungkinannya.

Salah satu trik pemotretan di lokasi ini adalah menggunakan ISO rendah dan aperture sempit (misalnya f16-22) untuk mendapatkan slow shutter dan halus permukaan laut. Tanpa slow shutter sekitar 10 detik atau lebih maka permukaan laut sulit dihaluskan, dan akibatnya akan sedikit menganggu.

Tentunya ini perlu di adjust apabila ada kapal / cruise lewat (lumayan sering) dan kita ingin detilnya sebagai foreground, supaya speednya cukup dan tidak blur karena pergerakan si kapal.


(AU) Tasmania, Launceston & Bay of Fire

Kebetulan baru seminggu di Ausie sudah long weekend (Queen’s BDay). Awalnya mau berangkat ke Melbourne, memanfaatkan long weekend nya. Tapi setelah dipikir lagi kayaknya area Melbourne bisa di cover di weekend biasa, so akhirnya memilih ke Tasmania.

Bay of Fire

Tasmania adalah pulau “kecil” di ujung bawah Australia. Kota kota nya tidak terlalu besar. Hobart adalah kota terbesarnya, tapi saya memilih untuk ke kota kedua terbesar, yaitu Launceston, yang ada di Utara Tasmania (Hobart ada di Selatan). Tasmania terkenal dengan alam nya dan pertanian – peternakannya. So tentunya landscape adalah tujuan utama saya.

Scottsdale
St helen

Biaya perjalanan kesana dari Sydney not bad. Saya naik budget airlines Jetstar untuk berangkat (AUD 128), dan pulang dengan Virgin Australia (transit Melbourne – lupa biayanya, tapi kurang lebih sama). Harga agak tinggi karena saya pesannya mepet.

Setelah mencoba nya saya rekomendasikan untuk naik Virgin saja, jarak antar kursi lebih lega, ada snack dan minuman, bagasi bisa naik plus bisa akses film via aplikasi di iPad pribadi.

Penginapan di Launceston saya gunakan ArtHouse Hostel – dormitory isi 6 orang (AUD 40an untuk 2 malam). Saya terbiasa menggunakan hostel selain lebih murah, juga lebih banyak kemungkinan ngobrol dengan traveller lain. Hostel yang ini lokasi cukup strategis, walau tidak di pusat kota, tapi tenang dan cozy. Bangunannya sendiri sudah tua, tapi kamar dan toilet dll relatif bersih dan nyaman.

Launceston

Sedangkan untuk transportasi mau tidak mau saya sewa mobil di sana. Saya pesan di Bargain Car Rental, Hyundai i20. Kapasitas sebenarnya 4 orang, tapi saya hanya pakai sendiri hahaha. Biaya total 3 hari tidaklah terlalu mahal, AUD 93. Akan tetapi bensin cukup mahal, untuk perjalanan saya sehari saya menghabiskan sekitar AUD 40 untuk bensin unleaded.

Continue reading (AU) Tasmania, Launceston & Bay of Fire

(AU) Vivid Sydney

—– new update di bagian bawah —–

Sepanjang beberapa minggu di akhir musim gugur sampai dengan awal musim dingin pemerintah kota Sydney mengadakan festival yang unik. Festival yang berfokus pada permainan cahaya dan juga bunyi ini dikenal dengan nama Vivid Sydney.

Saya sendiri tidak sempat kebagian banyak, selain karena belum terlalu pengalaman ber navigasi di area Sydney, juga karena pada penghujung Vivid Sydney saya kebetulan sudah menjadwalkan trip ke Tasmania. So saya hanya kebagian melihat dan motret di area Circular Quay.

Vivid Sydney

Saya hanya ingin berbagi sedikit pengalaman memotret Vivid Sydney ini. Yang saya baru ketahui pada saat sudah berada di tempat adalah proyeksi cahaya dilakukan secara dinamis. Jadi misalnya pada kasus Opera House di atas, dinding opera house menjadi selayaknya layar proyeksi. Ibarat film maka gambarnya terus berganti.

Continue reading (AU) Vivid Sydney

Sony RX1 — a user perspective

Sony RX1 adalah kamera pro-sumers berukuran sedikit lebih besar dari kamera pocket dengan lensa fix 35mm f2, tidak bisa ganti lensa. Yang unik adalah kamera ukuran mungil ini memiliki sensor full frame, yang menjanjikan foto bersih noise di iso tinggi dan juga DOF yang mantap.

Penggunaan lensa Carl Zeiss 35mm f2 juga menjanjikan warna yang warm khas zeiss, dan 3d pop. Tentunya ketajaman prima juga.

Tapi bagi saya sebenarnya notes di atas good saja, bagi saya yang penting adalah mungil + mumpuni sehingga bisa di bawa setiap hari. Ya, kamera ini memang saya bawa setiap hari, kerja dan jalan. Karena saya yakin ada saja momen yang saya bisa foto.

checking my schedule

Momen di atas misalnya saya foto saat keluar dari kamar kecil di airport setelah landing di Changi. Momen yang hanya split second rasanya. Kalau kamera masih di tas, atau bahkan di rumah, ya jelas gak dapat momen ini.

Atau momen di bawah yang di dapat pas jalan mau makan malam. Walau bawa mirrorless pun saya malas bawa kamera kalau cuma rencana mau makan malam saja hahaha. Tentunya ini semua tidak berlaku buat MY-ers yang pada rajin bawa kamera setiap hari walau itu DSLR atau mirrorless ya.

Romantic Chat

So, bagaimana kesan saya tentang kamera RX1 ini? Apakah worthed? Sebagai kesimpulan saja …. kalau dapat harga second diskon an lumayan + memang niat di bawa bawa setiap hari sih worthed banget. Tapi kalau beli baru dengan harga yang ajigile itu sih gak worthed … banget !!

Ergonomi : kamera ini mungil, so grip memang terbatas. Bisa kita tambahkan grip tambahan yang jelas akan bikin pegangan jadi enak banget, tapi ya jadi gendut. Saya sendiri pakai apa adanya, gak pakai grip tambahan. Gak senyaman mirrorless apalagi dslr, tapi work alright dengan mungilnya.

Continue reading Sony RX1 — a user perspective

Slow Shutter Anyone?

Kebetulan minggu lalu dapat kesempatan untuk business trip ke Singapore. Saya sudah ke singapore beberapa kali, so agak bingung mau motret apalagi. Tapi kebetulan teman dari Ausie belum pernah, so pikir pikir tidak ada salahnya ke tempat yang “sama”. Alhasil kita menuju area Marina Sands Bay (lagi).

Nature vs Man MadeVery low angle ... hampir nempel ke air dan si bunga teratai | Fuji XT1 dan Samyang Fish Eye 8mm

Yang unik dari Singapore adalah mereka selalu memperbaharui hiasan di lokasi wisata mereka. Seperti di museum di dekat Marina Sands Bay ini, kali ini mereka baru saja menanam banyak sekali bunga teratai dan sedang berbunga. Terpikirlah untuk mengambil angle seperti di atas. Fish Eye membantu karena tanpa fish eye bangunan nya terpotong, atau bunganya kecil (kalau agak jauh).

Kebetulan kita bisa masuk sampai di bawah museum, dan kita mendapatkan view yang sangat menarik. Sudah kita bayangkan pada saat sunset pasti menarik, so sembari jalan jalan kita menunggu sunset yang baru datang sekitar jam 19.00 local time.

Saat akhirnya sunset datang saya gunakan posisi low angle untuk mendapatkan posisi bunga teratai yang pas. Tripod tentunya diperlukan, dan GND Soft Edge 0.9x juga.

Nature vs Man MadeFuji XT1 + XF 10-24mm - f11 iso200 1/50secs - Velvia

Berkarakter dengan awan awannya, tapi saya ingin riak air di permukaan kolam hilang, dan juga awan lebih lembut. So teknik slow shutter saya coba. Karena saya gunakan Big Stopper ND (10 stop) maka saya bisa push sampai 6 menit exposure (cara hitung lihat cara penggunaan ND filter di web ini juga). Tapi ND filter kadang agak under kalau pas dengan hitungan, so saya lebihkan menjadi 340 detik.

Continue reading Slow Shutter Anyone?

Fuji XT1 + Samyang Fish Eye 8mm Mk2 (Fuji Mount)

Berikut beberapa hasil foto menggunakan lensa third party merek Samyang (dengan mounting Fuji X). Lensa ini termasuk kategori murmergus —- murah, dengan kualitas yang juga bagus.

Hilton Hotel Bandung, Indonesia

Tidak perlu terlalu khawatir dengan manual focusnya, pada kondisi fish eye dan pengguaan f8 ke atas maka DOF nya relatif sangat luas. So AF dan MF tidaklah berbeda signifikan.

Hilton Hotel Bandung, Indonesia

Keseluruhan foto di ambil dengan menggunakan XT1 yang di setting pada f8 iso6400 (ya, noise nya memang cukup minimal di Fuji … so agak malas menggunakan tripod). Provia film simulation dengan AWB digunakan.

Hilton Hotel Bandung, Indonesia

Hilton Hotel Bandung, Indonesia

Padma Bandung

Hilton Hotel Bandung, Indonesia