Category Archives: 97 – Photoshop & Post Editing Tutorial

HDR Process menggunakan AuroraHDR

Dalam pemotretan lanskap dan arsitektur salah satu kendala utama adalah memaksimalkan dynamic range. Artinya menjaga agar bagian foto yang terang tidak menjadi terlalu terang (over expose, sehingga tinggal putih doang) dan bagian foto yang gelap tidak terlalu gelap (under expose, sehingga hitam doang).

Sama halnya dengan ada banyak jalan menuju roma, ada banyak jalan untuk mencapai hal tersebut.

  • Ada yang memastikan kamera nya memiliki dynamic range yang tinggi (DXOMark adalah salah satu website yang jadi referensi kalau mau cek hal ini). Cara ini memiliki keterbatasan menangkap dynamic range, karena bagaimanapun kamera digital memiliki keterbatasan. Plus, foto harus di ambil dalam format RAW dan di olah lebih lanjut.
  • Ada juga yang menggunakan filter (Gradual Neutral Density adalah salah satu filter andalan saya untuk mengatasi masalah dynamic range di pemotretan lanskap). Cara ini termasuk paling efektif dalam menjaga dynamic range. Kendala utama cara ini adalah repotnya pada saat pemotretan dan apabila horizon tidak bersih (misalnya ada gedung gedung atau perbukitan) maka bagian itu bisa ikut ikutan gelap/under expose. Selain itu filter juga tambahan optik di depan lensa, so Image quality juga sedikit banyak terpengaruh.
  • Selain itu pengolahan pasca pemotretan (post processing) menggunakan software HDR (high dynamic range) juga bisa dilakukan. Software ini menggunakan beberapa foto dengan exposure yang berbeda, dan secara “otomatis” melakukan proses blending. Misalnya menggunakan foto paling gelap untuk area langit (supaya tidak over expose) dan foto paling terang untuk area foreground (supaya tidak under expose). Cara ini sangat efektif untuk area dengan horizon tidak bersih. Kendala nya adalah tambahan waktu untuk memproses foto, ketergantungan dengan algoritma software dan apabila tidak hati-hati munculnya artefact (halo, dll).

Salah satu software pemroses HDR yang mencuri perhatian saya adalah AuroraHDR. Tersedia untuk MacOS dan Windows (versi 2018) dengan harga sekitar Rp 1jt. Mahal? Well … filter GND kualitas bagus 1 buah dan holder nya harganya sama.

Sebelum ada yang tanya ada bajakannya gak … sekedar reminder kalau sebagai fotografer mau dihargai karyanya, maka hargai juga hasil karya programmer.

Continue reading HDR Process menggunakan AuroraHDR

Pentingnya kontras dalam fotografi lanskap

Ada beberapa rekan menanyakan bagaimana membuat foto lanskap yang tajam/sharp menggigit. Apakah ini berhubungan dengan perangkat yang digunakan? … hemmmm … ya, sedikit banyak berpengaruh, tapi faktor yang utama adalah teknik yang benar dan kontras yang cukup.

Teknik yang benar sudah dibahas dalam buku fotografi lanskap motoyuk (bisa di beli di Gramedia). Ini berhubungan dengan penggunaan aperture, shutter speed dan iso yang tepat. Berhubungan pula dengan penggunaan tripod untuk shutter speed yang lambat.

Nah, kalau kontras? Coba lihat foto di bawah ini :

NORAH HEAD_HDR_BEFORE
Norah-Head-HDR-FINAL

Foto yang bawah nampak lebih tajam? Ya, salah satunya karena kontras yang memadahi.

Tonal contrast adalah seberapa jauh berbeda antara area paling terang dan paling gelap di foto. Foto dengan contrast rendah akan terlihat seperti memiliki selaput, dan akibatnya di persepsikan kurang tajam. Foto dengan kontras terlalu tinggi juga tidak bagus karena terlihat kasar. Kontras harus pas.

Continue reading Pentingnya kontras dalam fotografi lanskap

Steel Wool under the Milky Way

Bombo Quarry

Ini adalah salah satu hasil percobaan saya yang berhasil dan sesuai dengan yang saya imajinasikan awalnya.

Secara garis besar ini adalah foto hasil composite dari 2 foto di lokasi yang persis sama dengan exposure yang jauh berbeda. Milky way (background) membutuhkan exposure yang jauh lebih lama dengan iso dan aperture yang lebih sensitif. Sementara steel wool (foreground) membutuhkan exposure yang lebih sebentar.

Continue reading Steel Wool under the Milky Way

Burning and Dodging

Saya seringkali menggunakan proses burning dan dodging dalam post pro saya. Ini semacam preference, karena saya suka foto dengan dynamic range (cakupan terang gelap) yang luas. Kemampuan kamera memang makin lama makin dahsyat, dynamic range yang di cakup makin luas. Tapi tetap saja masih ada keterbatasan, sehingga proses burning (menggelapkan) dan dodging (memperterang) tetap saya lakukan.

Dodge-Burn-3-Comparison

Dalam foto di atas misalnya, sulit untuk menghasilkan dynamic range yang saya mau langsung dari kamera. Karena area di bawah atap kiri gelap, sedangkan kanan terkena matahari langsung. Kalau saya kompensasi EV positif maka bagian kiri akan terang, tapi kanan akan terlalu terang. Sebaliknya jika saya EV negatif maka kanan akan pas, tapi kiri akan terlalu gelap.

HDR / photo merging dengan beda exposure memang tools yang ok untuk menghasilkan dynamic range yang super. Tapi kendala nya biasanya kontras dan detil agak hilang.

So, yang saya lakukan untuk selisih dynamic range yang sedikit (tidak terlalu parah) adalah menggunakan mekanisme burn and dodge.

Ada 2 cara di Photoshop untuk melakukan ini.

  1. Menggunakan tools burn and dodge – saya tidak suka yang ini karena seringkali jadi belang sana sini dan susah mau cancel kalau tidak sreg.
  2. Menggunakan level / curve + layer masking – ini yang biasa saya lakukan dan saya coba ilustrasikan. Buat yang kurang jelas selalu bisa cari di YouTube.

Dodge-Burn-1-Before

Setelah kita membuka foto di photoshop, maka kita kita harus bayangkan mana yang mau kita bereskan. Saya memilih untuk dodging area kiri atas dahulu. So, saya gunakan level di adjustment layer, dan geser sehingga area kiri atas sesuai dengan exposure yang saya mau – saya abaikan dampaknya terhadap area yang lain.

Screen Shot 2014-06-29 at 9.23.06 AM

Continue reading Burning and Dodging

My-ers Articles : Macro Editing, By : Villy Pramudya

Sehabis mengikuti workshop macro beberapa waktu yang lalu saya banyak mendapatkan pencerahan tentang Macro Photography, baik itu teknik, pencahayaan natural dan editing.

Tapi bukan itu yang saya mau share disini,melainkan bagaimana mendapatkan pencahayaan yang bagus dan juga berkesan sehangat mentari pagi melalui olah digital di Adobe Photoshop.

Mari kita lihat foto dibawah,

_DSC8755

Langkah pertama saya saat ambil foto macro, objek/POI selalu saya letakkan di tengah-tengah frame,atau paling tidak saya ambil 2/3 dari bidang frame kamera. Mengapa? karena foto macro membutuhkan cropping dan pengaturan angle terbaik pada akhirnya.

Nah, daripada bingung nantinya lebih baik letakkan objek di tengah-tengah (gunakan point focus paling sensitive di viewfinder yaitu di titik tengah).

 

Continue reading My-ers Articles : Macro Editing, By : Villy Pramudya

Beauty Edit

Menemukan satu video (dan penjelasan singkatnya) mengenai beauty edit. Feel free to visit the original site.

Video ini menjelaskan mengenai step by step (yang g harus cerna berulang ulang wkwkwk) untuk beauty post processing

MY Weekly Editor Choice – Anak-anak Mengening, By : Candy, Bandung

Foto ini saya ambil sewaktu hunting bersama Motoyuk, tanggal 4 November 2013 di Pantai mangening Bali. Saya ambil foto ini menggunakan camera Canon 5D mark II, dengan lensa canon 16 – 35 di F8,  iso 200, FL 16 mm, speed 1/60 detik dengan EV + 2/3.

Pada waktu itu saya sampai di Pantai Mangening kurang lebih jam 4.20 sore dan langsung menuju pantai bagian kanan. Disitu saya melihat ada beberapa anak anak kecil lagi bermain air, melihat moment itu langsung saya coba mendekati mereka, ternyata setelah saya mendekat  mereka minta di foto. Langsung saya ambil beberapa foto anak anak ini, dengan pencahayaan dari arah belakang ( backlighting ).

_MG_3433 ( E )

Saya atur camera dengan menggunakan partial metering, WB pada 5200 kelvin, pic style Faithfull ( sesuai anjuran dari mentor Edo ), dan foto saya rekam  dalam format RAW + M.

Continue reading MY Weekly Editor Choice – Anak-anak Mengening, By : Candy, Bandung

Wild Flower Photography

Salah satu hobby saya saat moto makro (dan gak dapat2 …) adalah memotret bunga liar. Menurut saya bunga liar lebih punya karakter dibanding bunga komersial biasa. Yang ini ukuran diameternya 3mm saja, super kecil

Wild-Flower_IMG_8057-web

Canon 5dm2 + Sigma 180mm f3.5 DG Macro @ f6.3 – di coba coba untuk mendapatkan kuncup bunga yang depannya agak blur

Cahaya datang dari depan atas (agak backlight), saya menunggu matahari menyinari dengan pas sebelum jepret.
Tonal sengaja saya pilih agak lembut / pastel, untuk mencocokkan dengan karakter bunga nya. Pencahayaan yang lembut sangat penting untuk memperoleh detil bunga liar nya. Apabila matahari sudah terlalu tinggi / langsung maka cenderung detilnya tidak bisa terlihat dengan baik.

Kenapa bunga menghadap belakang? Karena saat dicoba yang menghadap depan ternyata kurang menarik, somehow bunga ini lebih menarik kelopak belakangnya.

Sedikit vignette saya berikan juga di sisi kanan, hal ini untuk memperkuat POI yaitu si bunga. Sedangkan untuk watermark saya merasa watermark “standar” yang biasa saya gunakan kurang cocok. Jadi saya gunakan watermark berupa tulisan saja. Walau demikian memilih font nya juga tidak sembarangan, kalau asal maka bisa tidak senada dengan fotonya.

Selain itu saya juga tambahkan sedikit efek glamour glow (NIK Plugin). Kenapa? Karena dari awal saya ingin efek anggun dan lembut dari si bunga liar ini. Glamour glow saya rasa bisa menguatkan efek ini, dan setelah saya coba ternyata memang benar.

So, selain moto serangga, bunga liar bisa jadi obyek yang menarik bukan?

motoyuk signature white

 

The InfraRed ….

Semenjak dulu mau nyemplung ke ranah fotografi infrared selalu ragu dan gak jadi-jadi. Tapi akhirnya hari ini kesampaian juga, karena pas kebetulan ada yang jual Canon 50d versi 9.3 IR (yang memang g mau) dengan harga lumayan ok.

Saya baru nyemplung, so mungkin belum bisa banyak share. Tapi sedikit tentang fotografi IR, fotografi ini tidak memotret dengan cahaya yang kita lihat dengan mata kita. Seperti kita pernah belajar di SMP / SMA bahwa mata kita hanya bisa melihat sampai spektrum mejikuhibiniu … tidak spektrum sesudah (UV) atau sebelum (IR).

Infrared sesuai dengan namanya ya warnanya hanya merah … tapi dengan gradasi. Jadi kayak BW tapi bukan grey di antaranya, melainkan merah. Berikut contoh foto yang dihasilkan langsung tanpa post processing :

Sample_Leaf_IMG_9000

Setelah kita melakukan post processing (dalam hal ini saya ubah menjadi normal BW) maka hasilnya terlihat normal. Bedanya adalah sebenarnya yang kita lihat di foto bukanlah yang kita lihat dengan mata kita. Daun ini kalau di foto dengan kamera normal maka hasilnya dia tidak akan putih terang begini, melainkan agak grey bahkan cenderung hitam karena warnanya. Dia menjadi putih karena dia memantulkan IR lebih banyak daripada backgroundnya.

Leaf_IMG_9000_web

Apakah camera yang sudah di oprek IR sama dengan menggunakan filter IR di depan lensa?

Ya dan tidak. Pada prinsipnya kamera kita sudah dipasang suatu filter di depan sensor nya oleh produsen kamera untuk memblock IR mengenai sensor. Tujuannya adalah supaya hasil foto dengan visible spektrum (mejikuhibiniu) lebih tajam. Jadi sinar IR yang mampu mengenai sensor sangat sangat terbatas.

Filter IR pada prinsipnya adalah untuk memblock visible spectrum, sehingga sinar yang diteruskan hanyalah sinar IR. Karena IR yang diterima sensor kamera biasa sangat sedikit, maka kamera biasa + filter IR membutuhkan shutter speed luar biasa panjang. Kadang saat siang hari bolong saja butuh sampai lebih dari 30 detik (tergantung jenis IR filter nya).

Continue reading The InfraRed ….

Post Processing for Landscape

Sabtu lalu beberapa my-ers berkumpul di starbucks MKG Jakarta untuk ngobrol soal post processing untuk foto lanskap. Berikut adalah beberapa summary yang berhubungan. Tetapi sebelumnya ini contoh post processing untuk foto milik Robert Matthews.

Berikut adalah foto awal dan setelah di post processing menggunakan Adobe Photoshop :

943049_10151562272506827_853801606_n

sample-web

Continue reading Post Processing for Landscape