Category Archives: 09 – Phoneography

“Shadow & Reflection” Learning Challenge

Pada learning challenge sebelumnya “Fresh 50” Yohanes Sanjaya memegang tampuk juara. Fotonya memang unik sekali dan “kuat” sekali sebagai foto terpilih.

Foto yang dibuat dengan Sony NEX6 ini menggunakan benang transparan untuk menggantung mainan-nya. Menggunakan shallow DOF sehingga memfokuskan POI hanya pada obyek utama.

Parameter : 1/640s f/4.0 ISO100
FL 50mm on NEX6

Nah sebagai learning challenge minggu ini kita ditantang Yohanes untuk bermain dengan bayangan dan pantulan. Wah ini topik yang sangat menarik ya, silahkan lihat referensi berikut ini untuk bayangan dan pantulan :

Have fun learning.




Phoneography … the “best” camera is the one with you

Kali ini saya akan share sedikit ilmu soal phoneography yang saya “kumpulkan” setelah mencoba coba beberapa bulan. Namanya juga baru beberapa bulan, so mohon maaf kalau belum maksimal ya :). Buat yang ingin informasi yang lebih detil bisa browse di google, atau Photojojo via instagram mereka juga share banyak tips menarik. Komunitas seperti iPhonesia juga sangat suportif dalam memberikan ilmu, coba saja dekati membernya secara personal. Mereka tidak pelit ilmu kok.

* Disclaimer : Tidak semua langkah memproses dalam contoh-contoh di bawah saya ingat betul. Jadi ada kemungkinan langkahnya kurang / terbalik. Tapi cukup untuk memberikan gambaran mengenai apa yang saya lakukan.
** Kebanyakan foto aslinya sudah saya hapus, jadi jangan nanya aslinya gimana ya. Kalau ada aslinya pasti sudah saya ikutkan.

Device yang digunakan :

Pertanyaan yang tricky haha. Saya sendiri menggunakan (dulu) Samsung Galaxy Notes dan (sekarang) iPhone 4s. Jadi saya review berdasarkan kedua device ini ya.

Pada prinsipnya secara hardware keduanya cukup mumpuni. Karena sudah 8 MP maka keduanya menghasilkan foto yang sama cemerlang. Detilnya sangat memadahi buat dicetak bahkan sampai ukuran 6-8R. Lensa iPhone 4s sedikit lebih baik dengan hasil yang lebih nge-DOF (depth-of-field – background blur). Tapi rasanya tidak sampai signifikan sekali.

Yang membedakan keduanya (dan membuat saya akhirnya beralih) sebenarnya lebih ke software nya. Aplikasi di Android untuk phoneography masih terbatas jumlah dan variasinya. Sedangkan di iPhone sudah sangat banyak. Di masa depan bisa jadi aplikasi di Android sama bahkan lebih banyak? Who know? – Tapi yang jelas saat ini aplikasi di android terbatas. Jadi kalau hanya buat phoneography asal-asal bisa android tidaklah masalah. Tapi kalau mau “serius” dan mendapatkan hasil yang lebih baik, kondisi saat ini iGadget adalah pilihan yang lebih baik.

Kelebihan Android adalah banyak tersedia aplikasi bajakan yang dapat di install dengan mudah. Memang iPhone bisa juga di “jailbreak” agar bisa menggunakan aplikasi bajakan. Tapi prosesnya jauh lebih ribet dibandingkan di Android.

Note : saya tidak merekomendasikan pakai bajakan. Ya ampun harganya tidaklah seberapa (lain dengan Adobe Photoshop yang berjuta juta). So, berpartisipasilah dalam membuat aplikasi lain nantinya yang lebih canggih dengan membeli aplikasi yang ada.

Captured on iPhone4s di jendela kantor
1. Foto diambil menggunakan camera apps biasa
2. Lalu kontras langit dikuatkan dengan menggunakan aplikasi camera+ (Clarity)
3. Setelahnya warna diberikan menggunakan effect Purple Haze di camera+
4. Saya kemudian gunakan aplikasi Snapseed untuk meningkatkan sharpness dari hasil akhirnya

 

 

 

Aplikasi yang digunakan (saya review yang iOS ya) :

Ada banyak sekali aplikasi di apple market, mungkin ratusan-ribuan. Masing masing punya kelebihan tersendiri, walau banyak juga yang “sama sama saja”. Saya belum bisa mencoba semua aplikasi (ada beberapa aplikasi bahkan masih di daftar beli saya hahaha). Berikut adalah beberapa aplikasi dan kegunaannya secara umum :

Continue reading Phoneography … the “best” camera is the one with you




Joke of the Day about Phoneography

Beberapa waktu lalu saya memperoleh pengalaman yang sangat lucu mengenai phoneography. Salah satu my-ers kebetulan share foto (dengan dslr-nya) ke instagram, dan dapat “award”. Lalu mulai muncul komentar-komentar miring (Red: yang sirik tanda tak mampu) mengenai foto tersebut. Berikut beberapa yang menurut saya lucu untuk di pikirkan bersama  :

“Foto DSLR itu membosankan, seperti tahun 2000-an … kuno”

Lha ya wajar kalau DSLR nya dipakai seperti layaknya kamera pocket. Berharap pakai DSLR jepret langsung bagus mah susah, desain awalnya DSLR untuk kualitas … bukan hasil langsung jadi (tidak seperti smartphone). Jadi untuk bisa menggunakan DSLR ya wajar harus tahu sedikit soal photography – tidak perlu sampai ahli, paling tidak tahu cara pakainya yang benar. Harus paham sedikit soal post processing (yang notabene sebenarnya dilakukan juga di phoneography) – yah tidak usah photoshop yang kompleks lah, pakai aplikasi Picasa juga boleh. Tanpa itu, ya wajar kalau hasilnya flat dan membosankan.

Captured on iPhone4s
menggunakan apps color effects jauh lebih simple dalam membuat efek isolasi warna, daripada menggunakan layer masking di photoshop

Saya pernah baca salah satu artikel yang bilang bahwa : “Kalau berharap fotomu jadi lebih bagus dengan upgrade ke DSLR dari pocket, lupakan …” Tanpa penggunaan yang benar DSLR bahkan menghasilkan hasil yang lebih jelek dibandingkan dengan kamera pocket yang sudah di optimasi. Apalagi dibandingkan dengan smartphone moderen dengan se-gambreng aplikasi yang di desain khusus memperindah.

Continue reading Joke of the Day about Phoneography

Phoneography – Preview

Gara-gara dibukanya instagram di Android, beberapa waktu ini saya tertarik mencoba dan “ngulik” mengenai phoneography, alias fotografi menggunakan kamera handphone. Mulai dari mencoba-coba di samsung galaxy notes yang saya miliki, sampai akhirnya (karena BB saya perlu diganti anyway) saya beli juga apple iPhone 4s buat melengkapi.

Apakah hasilnya bagus? Well, sangat tergantung cara pandang kalau menurut saya. Kalau dari segi image quality real / detil tentunya phoneography belum bisa mengalahkan DSLR dan mirrorless yang sensornya jauh lebih besar dan kompleks. Ini suatu hal yang sangat wajar.

Tetapi smartphone moderen makin lama makin canggih. Sehingga dalam ukuran cetak kecil atau di view di layar kecil hasilnya sangat baik. Bahkan di beberapa kondisi dengan kondisi pencahayaan yang bagus sulit dibedakan dengan hasil kamera profesional. Kecuali di zoom sampai detil tentunya. Tentunya ini sangat tergantung dari tipe handphone yang digunakan. Ada yang memang kamera nya kualitasnya bagus, ada pula yang hanya seadanya.

Kelebihan phoneography adalah availability nya. Kemana mana kita bawa handphone, dan tidak kamera DSLR kita. Jadi seringkali momen lucu / unik justru muncul saat kita memegang HP. Jadi buat saya mempelajari phoneography bukanlah “haram” … dan tentu saja tidak semudah yang orang bayangkan. Sama seperti kamera profesional, handphone juga punya karakter nya sendiri. Kondisi bagaimana yang mampu dia tangkap, dan kondisi bagaimana yang dia menyerah. Itu perlu kita pahami.

Belum lagi phoneography membutuhkan kesabaran untuk mencoba coba berbagai aplikasi yang bisa di download di market.

Berikut ini adalah beberapa sample hasil yang saya peroleh dengan menggunakan handphone iPhone 4s. Enjoy ….

PS : Saya akan share beberapa aplikasi dan teknik yang saya gunakan di post berikutnya, silahkan tunggu

Continue reading Phoneography – Preview

Mirrorless & Phoneography .. is it a Fad ?

Ada beberapa teman nanya ke saya, kenapa sih jadi seneng motret pake mirrorless dan iPhone? Apa sudah bosan ama DSLR? Hemmm … post ini merupakan buah pemikiran saya mengenai pertanyaan ini.

Buat saya, hobby saya itu fotografi, dan bukan hobby menggunakan DSLR.

Sama halnya waktu dulu para pengguna kamera film enggan pindah ke digital itu yang terjadi kini. Alasan mereka segudang, mulai dari detil yang tidak mampu dikejar oleh kamera digital (waktu itu masih kisaran 3-4 MegaPixel). Ada pula yang mengulas mengenai kelebihan mekanik kamera film. Intinya : manusia itu malas berubah, itu sudah jadi hakekat manusia sejak dahulu.

Buat para fotografer sekarang rasanya aneh masih menggunakan kamera film. Terlepas dari semua kelebihan dari kamera film para fotografer muda sekarang dibesarkan di era DSLR. Buat mereka DSLR adalah kamera film jaman sekarang. Untuk pindah dari DSLR itu? Ya sama juga … segudang alasannya. Sama persis dasar kenapa nya, manusia itu enggan berubah. Selalu bisa kita mencari alasan supaya tidak perlu berubah. Ada yang merasa tidak perlu mencoba, ada yang merasa gak kelas mencoba, ada yang merasa “direndahkan” dengan mencobanya. Aneh?

Kebetulan saya ini orang IT. Saya dituntut untuk berani mencoba teknologi baru dari waktu ke waktu. Perubahan di IT sangat cepat. Ambil contoh laptop saja obsolete dalam kurun waktu 6 bulan. Luar biasa. Tapi lama-lama saya jadi terbiasa juga. Dan saya bisa melihat bahwa future nya “bisa jadi” (siapa sih yang bisa meramalkan masa depan) ada di mirrorless dan smartphone.

Mirrorless akan mengganti DSLR terutama yang ditujukan buat entry level. Kenapa? Ya lihat saja, apa sih yang bisa dikembangkan lagi oleh produsen? Lebih banyak lagi Mega Pixel? Siapa yang butuh? Apa harganya akan ekonomis dengan terus mempersempit jajaran pixel di sensor dengan ukuran yang sama? … atau mau memberikan fitur pengolah gambar yang sudah built in di dalam kamera, seperti filter, dll ? Come on …. bahkan iPhone memiliki aplikasi yang lebih baik daripada DSLR entry level sekarang.

Dengan mempertimbangkan mirrorless yang ukurannya lebih kecil, AF yang makin cepat, sensor dan fitur yang sama, jelas konsumen akan terus mengarah ke mirrorless. Apa yang terjadi dengan pasar yang ditinggalkan pembeli? Mati …

Ya, saya setuju bahwa DSLR profesional (full frame – pro body) masih butuh waktu untuk digantikan. Tapi cerita yang sama dengan dulu kamera film digantikan digital. Begitu peralihan terjadi, peralihannya terjadi sangat cepat. Bahkan kabar burungnya tak lama lagi Canon akan mengikuti Nikon meluncurkan mirrorless series nya. Walau masih setengah hati dengan ukuran sensor sedikit lebih kecil dari entry level DSLR nya.

Continue reading Mirrorless & Phoneography .. is it a Fad ?