Category Archives: 07 – Advance knowledge (Human Interest)

Kategori ini untuk belajar mengenai human interest, mulai dari model sampai dengan orang umum

Film Simulation

Sama halnya dengan Picture Style di Canon dan Picture Control di Nikon, adalah Film Simulation di Fuji. Prinsipnya sama, mengatur warna, kontras dll sehingga JPEG yang dihasilkan sudah setengah jadi post pro nya.

Ini merupakan kumpulan dari artikel di FB FujiWorld mengenai Film simulation … saya bukan penterjemah, jadi silahkan gunakan google translate buat yang bingung dengan bahasa inggris nya 🙂


If you shoot with a digital camera and are serious about photography, chances are that you shoot in RAW format. RAW is flexible and therefore undeniably a very attractive option. But if you own a FUJIFILM camera, put that thought on the side for a second. You may be wasting just about half of the camera’s potential.

First of all, the color reproduction is not just a “tendency” for FUJIFILM cameras, but rather a “world of its own” to put it more correctly. It does not just look “vivid” or “soft”. They are in their own world of color reproduction of “Velvia” and “ASTIA”.

When you shoot a photo, you would first look at the subject. It can be anything from “autumn leaves” to “person”. And you would set it to “Vivid” or “Soft” depending on the subject. You may be happy with the result if the autumn leaves appear vivid or the skin appears soft.  At the same time, you may be unsatisfied with the result, but think that “it can be edited later” if they were shot in RAW.

If you use FUJIFILM camera, your style of photography can be a bit different. How would the autumn leaves or the person appear if they were shot in Velvia? How would they appear if they were shot in ASTIA?

11046604_839072869498851_6621604002451851846_n

This is the fundamental idea of FUJIFILM’s approach to color reproduction and photography. We regard the time you spend shooting very important.

And as the FUJIFILM cameras are mirrorless, you can check the final image before the shot is taken. You can preview the world of Velvia and ASTIA.

Continue reading Film Simulation →

Cara cepat Post Pro

Salah satu artikel yang paling banyak di baca dan di cari di motoyuk adalah mengenai picture style. Sampai saat ini saya juga tidak paham kenapa. Saya sendiri tidak menggunakan picture style terlalu banyak di Canon. Picture style yang saya gunakan ujungnya cuma Faithful dan kadang IR wanna-be.

Tebakan saya (berdasarkan pengalaman pribadi) adalah karena sebagian fotografer sebenarnya malas / tidak tahu harus bagaimana melakukan post pro. Yah, belajar teknik foto (bukan bagian komposisi / ide ya) memang lebih cepat dan mudah jika dibandingkan post processing menggunakan photoshop. Butuh ratusan jam di depan komputer untuk menguasai sebagian besar teknik di photoshop. So, picture style mungkin adalah shortcut nya.

Clairine
Dengan menggunakan Plugin kita dapat mendapatkan tonal yang kita inginkan dalam waktu yang relatif sangat cepat – foto di ambil dengan menggunakan XPro1 dan Lensa 56/1.2 – Post pro menggunakan VSCO Kodak Portra 160.

Ya, memang picture style membantu, memberikan shortcut. Tetapi rasanya Canon maupun Nikon tidak terlalu variatif dalam hal picture style, so hanya membantu sedikit. Fuji memiliki film simulation, walaupun buat saya terasa lebih berdampak, tetapi tetap tidak menggantikan tonal buatan di photoshop. So, another dead-end. Sebenarnya ada banyak tools yang dapat digunakan di photoshop. Biasa di kenal sebagai plug-in. Dengan menggunakan plug-in ini kita bisa memilih tonal yang kita inginkan, lalu langsung melihat hasilnya di foto kita. One click dan beres deh urusan tonal.

Continue reading Cara cepat Post Pro →

Quick Setting Fuji Saya

Ada beberapa pertanyaan mengenai bagaimana saya men-setting quick setting di Fuji saya. Buat yang belum paham, quick setting adalah semacam custom setting di canon. Dimana kita bisa atur preset berbagai setting yang kita mau, so pada saat kita mau motret human interest tinggal pilih quick menu ttt dan ganti dengan quick setting lain untuk pemotretan BW misalnya. Ini jauh mempercepat reaksi kita terhadap berbagai kondisi.

Di Canon ini juga tersedia, biasanya ada 3 custom setting. Sedangkan di Fuji pilihan menu yang bisa disetting lebih terbatas, tetapi ada 7 slot quick setting yang tersedia.

FullSizeRender1
Custom setting 1 ini saya gunakan untuk pemotretan human interest non model – dengan film simulation Astia yang lembut warnanya. Noise reduction saya kurangi karena Fuji agak terlalu kejam dengan proses noise reduction, jadi saya kurangi sedikit.
Custom setting 2 adalah mode black and white yang saya sering gunakan dalam pemotretan street. Saya memilih jenis film simulation BW dengan yellow filter. Kontras nya lebih kuat sedikit daripada yang tanpa filter, tetapi tidak separah Red. Sharpness saya tambahkan karena umumnya untuk yang BW saya tidak proses lagi – SOOC. Sedangkan highlight tone saya tambahkan untuk memperluas dynamic range nya sedikit.

DPDHL GVD 2014
Continue reading Quick Setting Fuji Saya →

Poster CSR

Kebetulan ikutan program CSR kantor untuk membantu sekolah di daerah “tertinggal” di Marunda. Walau lokasinya sangat dekat dengan Tanjung Priuk (dan kelapa gading, sunter, dll) tetapi sekolah ini relatif berkekurangan. Memprihatinkan sebenarnya melihat kesenjangan sosial yang ada.

DPDHL GVD 2014
Fuji X Pro1 + XF 56mm f1.2 – wide open @ f1.2 – iso & shutter speed auto – film simulation : BW with Yellow Filter.

 

Foto di atas di peroleh dengan tidak sengaja / candid. Pada intinya kita harus siap beraksi … dalam acara ini saya mendapatkan tidak kurang dari 50 foto, tapi yang beneran pas ya cuma 1 ini.

Salah satu trik saya supaya siap adalah melakukan setting sebelum kita memasuki area. Terbayang dulu scene utama yang bakal di hadapi apa, lensa apa yang cocok, setting seperti apa yang cocok. Jadi pada saat momen terjadi kita tidak sibuk setting.

Menggunakan auto iso juga bisa membantu, dengan auto iso maka kamera akan memastikan shutter speed yang dibutuhkan di capai. Walau dengan harga iso tinggi = noise. Tapi saya lebih baik noise daripada gak dapat momen. Di beberapa kamera auto iso juga bisa dibatasi minimal shutter speed mau berapa, ini sangat membantu untuk mendapatkan human interest photo yang sharp. Paling tidak set supaya mendapatkan speed 1/125 secs.


Fotografi adalah seni …. ide ….

Di artikel ini saya ingin membawa my-ers satu langkah ke depan dari sekedar teknik fotografi.

Fotografi adalah satu di antara sedikit bidang yang menggabungkan teknik (otak kanan) dan art (otak kiri). Keduanya tentu saja harus balance, foto yang secara teknik sempurna tetapi tidak ada ide orisinil nya akan terasa kurang jiwa nya. Sementara foto dengan ide yang sangat orisinil tetapi tidak di bawakan dengan teknik yang benar akan terasa dodol juga, gak jelas apa sebenarnya ide nya malahan bisa bisa.

Saya menulis ini bukan karena saya sudah jago … saya masih jauh dari jago. Saya menulis ini sekedar share saja bahwa belajar dengan tidak balance juga tidak akan membuatmu jadi lebih bagus dalam fotografi. Saya sendiri orang teknik, saya bekerja sebagai kuli IT, so saya sadar betul mungkin teknik saya cukup kuat tetapi art belum. Makanya saya terus mengasah bagian itu.

Segara Anak Mt. Rinjani

Soal teknik mungkin sudah sering dibahas. Bicara mengenai teknik dasar exposure, color, post processing dan banyak teknik + tips lain. Cari saja di google bejibun. Tinggal bagaimana kita mengasahnya dari waktu ke waktu.

Continue reading Fotografi adalah seni …. ide …. →

Fuji XT1 – Canon FL 55/1.2 – Metabone SpeedBooster

Lethal Combination !!!! ….. buat yang belum paham soal metabone speed booster, silahkan baca dulu ini.

Canon FL 55mm f1.2 adalah lensa canon DSLR jaman film yang sangat tua. Sebelum Canon FD yang sekarang banyak digunakan sebagai lensa alternatif. Jenis mounting ini bisa dibilang sama dengan canon FD, bedanya adalah pada mount FL lensa tidak diputar ke body, melainkan ada semacam ring di pantat lensa yang di putar untuk mengencangkan.

FL5512

 

Karakter lensa ini tidaklah setajam dan sesempurna lensa moderen. Ada glow yang khas, selain itu lensa ini juga sedikit less contrast dibandingkan lensa moderen. So buat yang sudah terbiasa melihat lensa moderen akan agak shock melihat hasil lensa ini yang kurang “menggigit” – tapi setelah terbiasa dan tahu mengatasinya saya rasa tidaklah menjadi masalah, malah menjadi nilai tambah untuk pemotretan portrait.

Beauty in the old city

DIkarenakan saya menggunakan Fuji X yang ada crop factor (1.5x) nya, maka jelas f1,2 tidaklah se-bokehlicious f1.2 di kamera full frame. Untuk memanfaatkan f1.2 sepenuhnya saya menggunakan metabone speedBooster untuk lensa FD ke body Fuji X. Apabila saya menggunakan adapter biasa maka lensa ini akan menjadi seperti lensa XF 56 f1.2 yang saya miliki – duplikasi + “hanya” setara f1.8.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pertimbangan saya memilih lensa FD adalah karena pilihan lensa yang cukup beragam, tetapi harganya tetap masih terjangkau. Selain itu lensa FD cenderung flaw (kurang sharp, less contrast, tidak tahan flare, vignette, dll), mengimbangi lensa XF yang cenderung sangat moderen / technically excellent. Continue reading Fuji XT1 – Canon FL 55/1.2 – Metabone SpeedBooster →

Beauty Edit

Menemukan satu video (dan penjelasan singkatnya) mengenai beauty edit. Feel free to visit the original site.

Video ini menjelaskan mengenai step by step (yang g harus cerna berulang ulang wkwkwk) untuk beauty post processing

My Weekly Editor Choice – By : Ilcharama

Foto ini merupakan stage photography kesekian saya, beberapa kali saya diajak temen yang jadi band pembuka dari artis artis yang manggung di kota saya, Pekalongan.

Di kesempatan kali ini, adalah geisha yang manggung, karena posisi saya cuma sebagai kru saja, maka saya nggak bisa dapet tempat didepan panggung, FYI, ini acara indoor, jadilah saya ada di samping panggung.

Pada kesempatan tersebut, saya berbekal satu lensa kit 18-55 dan satu lensa tele jadul 70-210. Setelah capek pake manual fokus dengan tele, akhirnya saya pasang lensa kit, dengan hitungan para artis pasti bakal ke samping panggung juga. Jadilah saya gambling dengan kondisi itu. 

Gambling saya hampir terbayar ketika beberapa kali momo dkk berjalan ke area samping panggung, namun tetap saja saya susah dapet momen yang pas. Namun ketika saya sejenak menghadap ke area penonton, saya liat ada lampu sorot berkekuatan besar dari atas yang pasti bakal ngikutin kemana sang artis gerak, disinilah ide untuk membuat foto ini muncul.

Continue reading My Weekly Editor Choice – By : Ilcharama →

JKT – Bogor PP with Fuji X Pro1

Hasil jalan jalan bersama rekan-rekan my-ers naik kereta api dari Jakarta Kota ke Bogor. Sayang sekali di bogor hujan seharian *nangis bombay

Tapi ini layak di ulang. Experience nya asyik dan obyek human interest maupun street nya banyak.

 

MY Weekly Editor Choice – Anak-anak Mengening, By : Candy, Bandung

Foto ini saya ambil sewaktu hunting bersama Motoyuk, tanggal 4 November 2013 di Pantai mangening Bali. Saya ambil foto ini menggunakan camera Canon 5D mark II, dengan lensa canon 16 – 35 di F8,  iso 200, FL 16 mm, speed 1/60 detik dengan EV + 2/3.

Pada waktu itu saya sampai di Pantai Mangening kurang lebih jam 4.20 sore dan langsung menuju pantai bagian kanan. Disitu saya melihat ada beberapa anak anak kecil lagi bermain air, melihat moment itu langsung saya coba mendekati mereka, ternyata setelah saya mendekat  mereka minta di foto. Langsung saya ambil beberapa foto anak anak ini, dengan pencahayaan dari arah belakang ( backlighting ).

_MG_3433 ( E )

Saya atur camera dengan menggunakan partial metering, WB pada 5200 kelvin, pic style Faithfull ( sesuai anjuran dari mentor Edo ), dan foto saya rekam  dalam format RAW + M.

Continue reading MY Weekly Editor Choice – Anak-anak Mengening, By : Candy, Bandung →