Category Archives: 02 – Basic knowledge

Kategori ini memuat info mengenai 3 komponen utama dalam fotografi, apperture – shutter speed dan iso

Lensa Fuji yang Mana?

Setelah post body kamera Fuji yang mana, saya mau ulas sedikit mengenai lensa yang mana untuk kamera fuji yang di beli. Ini tentunya bukan rekomendasi teknis berdasarkan chart dll, lebih ke pengalaman saya dengan beberapa lensa Fuji yang saya gunakan dan juga genre saya. So kalau MY-ers beda genre tentu saja bisa punya preference yang berbeda.

Sejauh ini lensa dengan X Mount yang saya miliki (hasil konversi dari seluruh koleksi Canon saya sebelumnya) :

  • Fuji XF 10-24mm f4 R OIS
  • Fuji XF 18-55mm f2.8-4 R LM OIS
  • Fuji XF 55-200mm f2.5-4.9 R LM OIS
  • Fuji XF 18mm f2 R
  • Fuji XF 23mm f1.4 R
  • Fuji XF 35mm f1.4 R
  • Fuji XF 56mm f1.2 R
  • Samyang Fish Eye 8mm f2.8 MK2
  • Samyang 12mm f2

Sedangkan koleksi lensa tua untuk keperluan moto manual focus dengan metabone speed booster saya fokuskan pada lensa Canon FD. Hal ini supaya saya cukup punya 1 adapter speed booster saja. Lebih hemat. Sejauh ini ada 3 lensa : FL 55mm f1.2, FD 50mm f1.4 SSC dan FD 135mm f2.

new-fuji-lenses

Ada juga lensa Zeiss Flektogon 35mm f2.4.

Continue reading Lensa Fuji yang Mana?

NISI Filter GND Review

Seperti telah di sebutkan di tulisan sebelumnya, ini adalah review sistem filter NISI. Kali ini saya akan membahas bagaimana performa NISI GND Filter. Kebetulan saya memiliki NISI GND Hard 0.9 (dan sebagai perbandingan Hitech GND Hard 0.9) dan juga NISI GND Reverse 0.9 — sebelum mulai pada nanya gimana perbandingan dengan Lee dan Hitech Firecrest / Haida, saya jawab dulu : GAK TAHU !!! gak punya perbandingannya soalnya 🙂

Like mentioned before in the previous post, this is a review on NISI filter system. This time around I will review how’s the performance of NISI GND Filter. I got NISI GND Hard 0.9 (and as a comparison Hitech GND Hard 0.9) and also NISI GND Reverse 0.9 — before people start to ask me how’s the comparison with Lee and Hitech firecrest / Haida, i answer it first : I DON’T KNOW !!! I don’t have the filter as comparison.

Saya menggunakan filter ini dengan sistem fuji XT1 dan XF 10-24mm ultra wide angle. Saya tidak menggunakan UV filter. Dan kebanyakan paramater saya set konstan dalam perbandingan ini (misalnya white balance dan film simulation). Pada kondisi non filter saya kadang menurunkan exposure agar terlihat warna langit asli seperti apa. Tanpa melakukan ini seringkali langitnya putih doang, gimana mau dibandingkan?

I review this filter using Fuji XT1 and XF 10-24 ultra wide angle lens. I do not use UV filter. Most of the parameter I setup to be constant, e.g. white balance and film simulation. In the non filter condition sometime I change the exposure to be slightly under exposed. This is to accomodate so that the color of the sky can be seen. Else it will be just plain white. Then you can’t compare it.

gnd nisi

 

MATERIAL / QUALITY

Tidak seperti filter GND umumnya, NISI filter adalah sepenuhnya kaca. Ya. Kaca, bukan resin. Melainkan kaca dengan coating khusus. Saya sendiri sebenarnya memang dari beberapa waktu lalu mencari filter dengan bahan kaca dengan tujuan agar lebih tahan terhadap goresan (terutama bagian kanan kiri yang masuk ke holder) dan juga lebih mudah dibersihkan.

Unlike other GND filter, NISI filter is fully glass. Yes. Glass, not resin. It’s a special glass with coating. I actually try to find GND with glass material from couple months ago. My objective is to get a filter that have more resistant to scratch (especially on right-left part of the filter that goes into holder system) and also easier to clean.

Little BayUsing NISI GND Hard 0.9x

Continue reading NISI Filter GND Review

NISI Filter System — Overview & Holder System

Beberapa waktu lalu saya mengalami musibah dimana Reverse GND milik g pecah karena kepleset pas hunting landscape. Tidak hanya itu, Lee Holder yang saya gunakan juga pecah sebagian karenanya. Tapi nampaknya memang untung atau malang siapa yang tahu … saya dapat tawaran untuk mereview produk NISI filter.

A while ago i have an incident whereby my Reverse GND filter shattered into pieces when I slipped during one of my landscape photo session. Not only that, my Lee Holder also partly damaged because of it. But well, lucky or unlucky who know … I get an offer to review NISI filter products.

Terus terang saya baru dengar nama system ini, sebelumnya yang muncul di permukaan cuma : Hitech Firecrest dan Haida. Tapi review review awal nampaknya menjanjikan, so saya setuju untuk melakukan review. Dengan catatan bahwa saya tidak mau ada setiran, saya mau review apa adanya (sejujurnya saya sudah punya list komplain minor begitu barang datang lol). Pihak NISI nampaknya percaya diri dengan produknya, so mereka setuju juga. Deal !!!!

To be honest, that’s the first time I heard the brand. All this time all I know is alternative brand like Hitech Firecrest and Haida. But based on the early reviews it seems promising. So I agree to conduct the review, with a strong note that I will not be governed on what I will about to say. I will review what I experienced (well to be honest, the moment the product arrived I already made several minor complaint). NISI seems confident with their product, so they are agree. Deal !!!!

11011258_10205793395088699_8204864443649281343_n

Saya memperoleh kesempatan mereview holder system mereka, GND Reverse 0.9x, GND Hard 0.9x dan ND 10 stop mereka. Review ini akan membahas pendapat saya mengenai system ini, apakah memang bagus. Saya tidak akan bahas detil Image Quality (misalnya dengan crop 100%)  … saya akan melihat dari sudut pandang saya sebagai landscaper apakah system ini memang bagus. Termasuk beberapa komparasi dengan Hitech filter & Lee ND + Holder yang kebetulan saya punya. Review ini juga akan di sampaikan dalam dua bahasa, karena sesuai request dari pihak NISI, yah walau mungkin Inggris g sih gak bagus bagus amat LOL

I have the opportunity to review their holder system, GND Reverse 0.9x, GND Hard 0.9x and ND 10 stop. This review will be based on my opinion on this system, whether it’s good enough. I will not go down to detail like Image Quality comparison using 100% crop kinda thing. I will take a look from my perspective as a landscaper whether this system is good. Included is some comparison with Hitech Filters and Lee ND + Holder system, that I own. This review will be delivered in 2 languages, although my English is not that good LOL

Pada bagian pertama ini saya akan membahas mengenai holder system NISI, jika dibandingkan dengan Lee Foundation Kit. Kebetulan saya punya nya itu.

What I Get

  • Metal NISI Filter Holder 100mm system (3 good quality plastic slots) – fits lens with 86mm, come together with the package : 77 to 86mm wide angle ring adapter
  • Ultra wide angle ring adapter 72-86mm
11828572_10205793394768691_111321609529812165_n11831699_10205793395008697_325278912659082873_n

Kualitas produknya sangat bagus. Ringan dan terbuat dari metal yang saya yakin tahan lama. Filter sedikit seret waktu di masuk keluarkan. Tetapi rotasi holder relatif mulus dan nyaman. Holder juga disertai dengan mur untuk mengunci — yang menurut saya tidak terpakai untuk praktis penggunaan di lapangan.

Product quality is very good. Lightweight and all metal that I’m pretty sure will be durable. Filter is a bit stiff when going in and out the slots. But holder rotation is quite smooth. Holder also equipped with safety pin, that I don’t think it’s usable due to practical reason in the field. 

Continue reading NISI Filter System — Overview & Holder System

(AU) Fairfax Lookout – North Head – Manly, Sydney

Ada banyak lokasi untuk menikmati city view dari Central Business District (CBD) Sydney. Salah satu diantara nya yang relatif cukup jauh, tapi juga cukup spektakuler adalah di Fairfax Lookout, North Head, Manly (Google Map coordinate : -33.823307, 151.300276)

Lokasinya sebenarnya berseberangan dengan South Head, lokasi dimana Hornsby Lighthouse berada (saya tuliskan di artikel lain nanti). Tetapi untuk mencapainya memang agak lebih “PR” … karena kita perlu naik ferry ke Manly, lalu naik bis dan berjalan sekitar 10 menit untuk mencapai area nya. Google map di Android / iOS dengan mudah bisa menunjukkannya.

Ada 2 lokasi yang menarik di area ini. Satu lokasi adalah di -33.821828, 151.300845, di lokasi ini kita bisa melihat laut lepas dengan pemandangan tebing yang indah.

Lokasi kedua adalah Fairfax Lookout sendiri. Untuk memotret disini Sunset adalah waktu yang disarankan, karena menghadap ke Barat.

Pink Sunset

Pemotretan membutuhkan lensa medium – tele, sekitar 50mm – 200mm (APS-C). Kalau menggunakan lensa wide maka obyek utama sulit untuk di peroleh detilnya. Tentu saja tripod juga dibutuhkan untuk detilnya, karena begitu sunset + lensa tele maka shake sangatlah besar kemungkinannya.

Salah satu trik pemotretan di lokasi ini adalah menggunakan ISO rendah dan aperture sempit (misalnya f16-22) untuk mendapatkan slow shutter dan halus permukaan laut. Tanpa slow shutter sekitar 10 detik atau lebih maka permukaan laut sulit dihaluskan, dan akibatnya akan sedikit menganggu.

Tentunya ini perlu di adjust apabila ada kapal / cruise lewat (lumayan sering) dan kita ingin detilnya sebagai foreground, supaya speednya cukup dan tidak blur karena pergerakan si kapal.


Peralatan Yang Terlupakan — Tas Kamera : Mindshift 180 Panorama Review

Kita sering fokus (banget) pada peralatan utama, kamera – lensa – filter, dan menganggap sepele urusan tas kamera. Padahal tas kamera yang gak nyaman menimbulkan banyak masalah :

  • Tas yang kurang kuat lalu mengakibatkan peralatan jatuh dan rusak
  • Padding (bagian empuk di dalam) yang kurang juga menimbulkan resiko terbentur
  • Ergonomi tas yang kurang nyaman membuat tas tidak nyaman di sanding, akhirnya motret juga tidak nyaman

Saya sudah 8 tahun lebih sepertinya tidak mengganti tas kamera. Saya menggunakan Lowepro MiniTrekker sejak jaman DSLR, dan menambah dengan lowepro Fastpack 100 pada saat mulai travel dan pakai mirrorless.

$T2eC16ZHJGUFFhz0LPGvBSKChojz9!~~60_35

Fastpack_100_Stuffed

Merek lowepro ini tahan banting, sudah terbukti 8 tahun menemani saya ke berbagai penjuru. Tapi saya punya kendala dengan nya :

  • Minitrekker walau kapasitas cukup besar dan lumayan ergonomis, tapi ukuran besar dan kalau mau ambil peralatan maka tas perlu di taruh di bawah. Sangat beresiko kalau mengambil lensa dan peralatan yang ada di bagian agak bawah dari tas tanpa tas di taruh di bawah. Akibatnya repot banget kalau motret landscape di laut, atau travel yang sering kamera keluar masuk.
  • Kendala lain dengan minitrekker adalah tripod terletak di depan, sehingga kalau tripod tergantung akan sangat repot buat buka tas nya.
  • Fastpack adalah andalan saya sebelumnya untuk travel, mungil, cukup untuk mirrorless saya dan beberapa tambahan lain (filter, topi, dll). Tas ini juga praktis karena ambil barang dari samping, so tinggal di miringkan maka kita bisa ambil peralatan.
  • Kendala dengan si fastpack ini adalah ergonomi, kalau di bawa jalan jauh maka gendongannya akan menekan sisi lengan dan bikin tangan pegal dan kebas lama lama. Gak nyaman.

Itu sebabnya pas naik ke Rinjani saya masukkan XT1 dan XF 10-24mm saya ke padding tambahan, lalu masuk ke daypack Deuter Futura saya. Tas gunung. Bukan tas kamera. Karena gak ada tas kamera yang enak buat naik gunung, percaya deh.

Tapi dengan begitu saya repot juga, karena keluar masukin repot, dan juga padding nya gak maksimal.

Saya selalu mikir, ini gak ada produsen tas kamera yang mikir untuk menggabungkan ergonomi daypack (misalnya Deuter Futura) dengan tas kamera apa ya? Kenapa semua tas kamera gak di desain untuk trekking dan “landscape”

5035-762_FRE18_view1_1000x1000

Beberapa bulan lalu akhirnya saya ketemu satu artikel yang menyarankan untuk melihat merek MindShift. Produsen ini adalah anak perusahaan ThinkTank. Mereka spesialisasi nya adalah tas kamera untuk trekking / travel / landscape. So, gendongan dan segala macam desainnya dipikirkan untuk bawa kamera + travel / trekking.

Saya tertarik dengan seri Panorama, yang ukurannya kecil. Tidak sebesar dan seberat seri Pro nya.

Yang menarik adalah semua seri MindShift memiliki mekanisme 180, dimana kita bisa meraih sisi kanan dari tas, melepas kaitan magnet, dan menarik semacam tas pinggang berisi kamera kita. GENIUS !!!!!

muench-workshops-mindshift-panorama-1default_09-03471-2014PD-1 Untuk ambil kamera jadinya tas bahkan tidak perlu turun dari punggung, tidak kotor dengan tanah / air. Kerennya lagi adalah buat ganti lensa jadi sangat mudah, karena ada tempat kita menaruh lensa ganti dll. I LOVE IT !!!!

Continue reading Peralatan Yang Terlupakan — Tas Kamera : Mindshift 180 Panorama Review

Electronic Shutter

Pada firmware terbaru Fuji XT1 diluncurkan satu fitur dimana kamera ini bisa menggunakan “electronic shutter“. Sebelumnya Fuji XT1 hanya memiliki mechanical shutter sehingga speed paling cepat yang bisa dicapai hanyalah 1/4.000 seconds. Ini menyulitkan pada pemotretan dengan lensa bukaan super lebar di outdoor + terang.

Selama ini saya mengakali dengan menggunakan ND filter. It works, tetapi ya lebih repot karena harus ada ND filter plus juga lebih mahal karena harus beli filter tambahan. Belum lagi penurunan kualitas karena adanya filter (bagaimanapun pasti ada walau mungkin tidak terlihat).

Dengan electronic shutter ini maka kamera XT1 mampu mencapai kecepatan 1/32.000 seconds. Sehingga menghilangkan kebutuhan akan filter ND saat pemotretan outdoor dengan lensa bukaan lebar. Sangat convinient.

Putri Indonesia 2015Dalam pemotretan studio ini saya sempat kesulitan karena trigger tidak mau menyala sama sekali. Setelah otak atik baru saya paham kalau electronic shutter menghalangi penggunaan flash, sama dengan silent mode

Keuntungan lain dari electronic shutter adalah tidak ada suara sama sekali saat shutter di tekan. Ini tentunya sangat ideal bagi pemotretan street yang berusaha mengurangi gangguan di jalan.

Continue reading Electronic Shutter

Custom White Balance

Buat yang belum paham soal white balance dan pengaruhnya, silahkan baca dulu artikel di motoyuk berikut ini.

Nah buat yang sudah paham … ini sekedar sharing singkat mengenai situasi yang sering kita hadapi di lapangan. Di lapangan sering kita ketemu masalah di mana pencahayaan terlalu ekstrem warnanya. Misalnya pada saat saya memotret di event Manchester United Live beberapa waktu lalu di dalam dome nya digunakan lampu merah. Akibatnya kalau kita motret pakai daylight white balance pasti hancur lebur.

Menggunakan Auto White Balance sifatnya ya untung2an. Ada kamera yang AWB nya relatif cukup canggih untuk kompensasi, tapi karena saking ekstrem nya ya relatif susah memang untuk dapat tonal yang netral.

IMG_0702

Foto di atas di ambil menggunakan XT1 dan XF 18mm f2 dengan menggunakan AWB. Lihat warnanya masih parah merah nya. Ya wajar, karena tidak ada cahaya lain di lokasi tersebut.

Salah satu trik yang bisa digunakan adalah menggunakan Custom White Balance.

Custom WB ada di setiap kamera, hanya saja cara aplikasinya agak berbeda-beda. Saya ambil contoh kamera canon, yang perlu dilakukan adalah :

  1. Foto kertas abu-abu / putih menggunakan AWB
  2. Lalu masuk ke menu dan pilih custom white balance
  3. Pilih foto yang tadi sebagai referensi nya

Sedangkan di Fuji XT1 agak berbeda :

  1. Pilih custom white balance, Fuji akan menampilkan kamera siap jepret
  2. Foto kertas abu-abu / bidang putih – otomatis maka custom white balance akan di setting berdasarkan foto tadi

Hasil penggunaan custom white balance bisa dilihat di bawah ini :

IMG_0699

Kalau kita lihat warnanya sudah jauh lebih netral. Skin tone sudah lebih betul walau belum sempurna (karena keterbatasan cahaya nya).

Kita dapat mengulang proses registrasi custom white balance ini beberapa kali untuk mendapatkan acuan yang paling pas.





Cara cepat Post Pro

Salah satu artikel yang paling banyak di baca dan di cari di motoyuk adalah mengenai picture style. Sampai saat ini saya juga tidak paham kenapa. Saya sendiri tidak menggunakan picture style terlalu banyak di Canon. Picture style yang saya gunakan ujungnya cuma Faithful dan kadang IR wanna-be.

Tebakan saya (berdasarkan pengalaman pribadi) adalah karena sebagian fotografer sebenarnya malas / tidak tahu harus bagaimana melakukan post pro. Yah, belajar teknik foto (bukan bagian komposisi / ide ya) memang lebih cepat dan mudah jika dibandingkan post processing menggunakan photoshop. Butuh ratusan jam di depan komputer untuk menguasai sebagian besar teknik di photoshop. So, picture style mungkin adalah shortcut nya.

Clairine
Dengan menggunakan Plugin kita dapat mendapatkan tonal yang kita inginkan dalam waktu yang relatif sangat cepat – foto di ambil dengan menggunakan XPro1 dan Lensa 56/1.2 – Post pro menggunakan VSCO Kodak Portra 160.

Ya, memang picture style membantu, memberikan shortcut. Tetapi rasanya Canon maupun Nikon tidak terlalu variatif dalam hal picture style, so hanya membantu sedikit. Fuji memiliki film simulation, walaupun buat saya terasa lebih berdampak, tetapi tetap tidak menggantikan tonal buatan di photoshop. So, another dead-end. Sebenarnya ada banyak tools yang dapat digunakan di photoshop. Biasa di kenal sebagai plug-in. Dengan menggunakan plug-in ini kita bisa memilih tonal yang kita inginkan, lalu langsung melihat hasilnya di foto kita. One click dan beres deh urusan tonal.

Continue reading Cara cepat Post Pro

Apakah Fuji Mirrorless bisa pakai lensa Canon DSLR ?

Ok most frequent question berikutnya berkaitan dengan lensa fuji yang sering saya dapatkan dari pengguna baru. Pertanyaan wajar karena pengguna DSLR (tidak hanya Canon, tapi Nikon dll) ingin menggunakan lensa koleksinya sementara mencoba coba menggunakan sistem yang baru ini. Kan sayang sudah keburu beli. Lagipula masak harus punya 2 lensa dengan range sama, satu buat DSLR satu lagi buat mirrorless.

Lensa Moderen

Sebelum menjawab saya jelaskan dulu bahwa lensa DSLR moderen tidak di lengkapi dengan pengatur bilah aperture di badan lensa.

aperture ring

Hal ini karena lensa di desain untuk diatur aperture nya via body kamera. Jauh lebih praktis dibandingkan jaman dulu dimana aperture harus di buka manual ke posisi paling lebar untuk focusing, baru di ubah lagi manual ke aperture yang diinginkan sebelum jepret.

Lensa moderen di desain selalu terbuka dalam kondisi aperture maksimalnya. Jadi kalau lensa Canon 16-35 f2.8 L saat tidak digunakan akan berada dalam aperture f2.8 setiap saat. Sedangkan misalnya lensa 17-40 f4 L akan berada dalam kondisi f4 setiap saat.

Continue reading Apakah Fuji Mirrorless bisa pakai lensa Canon DSLR ?

Mendefinisikan ulang hobi fotografi …

Libur lebaran memberikan kesempatan buat saya buat belajar lagi mengenai fotografi. Salah satunya adalah membaca buku baru dan menonton video-video mengenai fotografi.

Satu video yang menarik adalah video mengenai analisa foto berikut ini. Mengapa menarik, kalau MY-ers lihat, video ini tidak ngobrol mengenai exposure setting bagaimana, alatnya apa, teknik nya apa … tapi bercerita mengenai detil apa yang perlu dilihat.

Chloe Jasmine Whichello – The book deconstructed from Damien Lovegrove on Vimeo.

(karena ketololan kementrian kita, maka Vimeo kadang di block, itu sebabnya kalau MY-ers tidak bisa melihat video di atas – silahkan cari akses internet lainnya untuk akses : http://vimeo.com/98443337 – atau download dari dropbox saya)

Detil, dan cerita, dan jiwa dari satu foto. Ini adalah hal yang sering sekali terlupakan oleh para hobiist. Karena kita para hobiist senang yang rumit, maka seringkali teknis pemotretan dan peralatan lebih menjadi fokus utama.

Padahal setelah melewati pembelajaran maka segala teknik ini akan membosankan. Karena setelah dicoba dan bisa lalu mau apa?

Saatnya mendefinisikan ulang hobi fotografi mu. Bukan lagi untuk mencoba teknik. Tapi untuk menciptakan karya seni (dengan teknik yang sudah dipahami). Pahami dan ciptakan detilnya. Ciptakan cerita. Ciptakan karya seni.

Semoga dengan demikian hobi ini tidak lalu membosankan ….