Category Archives: 01 – How to start it….

Kategori ini berisi informasi-informasi untuk memulai hobi fotografi. Termasuk di dalamnya bagaimana memilih peralatan yang tepat

Lensa Fuji yang Mana?

Setelah post body kamera Fuji yang mana, saya mau ulas sedikit mengenai lensa yang mana untuk kamera fuji yang di beli. Ini tentunya bukan rekomendasi teknis berdasarkan chart dll, lebih ke pengalaman saya dengan beberapa lensa Fuji yang saya gunakan dan juga genre saya. So kalau MY-ers beda genre tentu saja bisa punya preference yang berbeda.

Sejauh ini lensa dengan X Mount yang saya miliki (hasil konversi dari seluruh koleksi Canon saya sebelumnya) :

  • Fuji XF 10-24mm f4 R OIS
  • Fuji XF 18-55mm f2.8-4 R LM OIS
  • Fuji XF 55-200mm f2.5-4.9 R LM OIS
  • Fuji XF 18mm f2 R
  • Fuji XF 23mm f1.4 R
  • Fuji XF 35mm f1.4 R
  • Fuji XF 56mm f1.2 R
  • Samyang Fish Eye 8mm f2.8 MK2
  • Samyang 12mm f2

Sedangkan koleksi lensa tua untuk keperluan moto manual focus dengan metabone speed booster saya fokuskan pada lensa Canon FD. Hal ini supaya saya cukup punya 1 adapter speed booster saja. Lebih hemat. Sejauh ini ada 3 lensa : FL 55mm f1.2, FD 50mm f1.4 SSC dan FD 135mm f2.

new-fuji-lenses

Ada juga lensa Zeiss Flektogon 35mm f2.4.

Continue reading Lensa Fuji yang Mana?

NISI Filter System — Overview & Holder System

Beberapa waktu lalu saya mengalami musibah dimana Reverse GND milik g pecah karena kepleset pas hunting landscape. Tidak hanya itu, Lee Holder yang saya gunakan juga pecah sebagian karenanya. Tapi nampaknya memang untung atau malang siapa yang tahu … saya dapat tawaran untuk mereview produk NISI filter.

A while ago i have an incident whereby my Reverse GND filter shattered into pieces when I slipped during one of my landscape photo session. Not only that, my Lee Holder also partly damaged because of it. But well, lucky or unlucky who know … I get an offer to review NISI filter products.

Terus terang saya baru dengar nama system ini, sebelumnya yang muncul di permukaan cuma : Hitech Firecrest dan Haida. Tapi review review awal nampaknya menjanjikan, so saya setuju untuk melakukan review. Dengan catatan bahwa saya tidak mau ada setiran, saya mau review apa adanya (sejujurnya saya sudah punya list komplain minor begitu barang datang lol). Pihak NISI nampaknya percaya diri dengan produknya, so mereka setuju juga. Deal !!!!

To be honest, that’s the first time I heard the brand. All this time all I know is alternative brand like Hitech Firecrest and Haida. But based on the early reviews it seems promising. So I agree to conduct the review, with a strong note that I will not be governed on what I will about to say. I will review what I experienced (well to be honest, the moment the product arrived I already made several minor complaint). NISI seems confident with their product, so they are agree. Deal !!!!

11011258_10205793395088699_8204864443649281343_n

Saya memperoleh kesempatan mereview holder system mereka, GND Reverse 0.9x, GND Hard 0.9x dan ND 10 stop mereka. Review ini akan membahas pendapat saya mengenai system ini, apakah memang bagus. Saya tidak akan bahas detil Image Quality (misalnya dengan crop 100%)  … saya akan melihat dari sudut pandang saya sebagai landscaper apakah system ini memang bagus. Termasuk beberapa komparasi dengan Hitech filter & Lee ND + Holder yang kebetulan saya punya. Review ini juga akan di sampaikan dalam dua bahasa, karena sesuai request dari pihak NISI, yah walau mungkin Inggris g sih gak bagus bagus amat LOL

I have the opportunity to review their holder system, GND Reverse 0.9x, GND Hard 0.9x and ND 10 stop. This review will be based on my opinion on this system, whether it’s good enough. I will not go down to detail like Image Quality comparison using 100% crop kinda thing. I will take a look from my perspective as a landscaper whether this system is good. Included is some comparison with Hitech Filters and Lee ND + Holder system, that I own. This review will be delivered in 2 languages, although my English is not that good LOL

Pada bagian pertama ini saya akan membahas mengenai holder system NISI, jika dibandingkan dengan Lee Foundation Kit. Kebetulan saya punya nya itu.

What I Get

  • Metal NISI Filter Holder 100mm system (3 good quality plastic slots) – fits lens with 86mm, come together with the package : 77 to 86mm wide angle ring adapter
  • Ultra wide angle ring adapter 72-86mm
11828572_10205793394768691_111321609529812165_n11831699_10205793395008697_325278912659082873_n

Kualitas produknya sangat bagus. Ringan dan terbuat dari metal yang saya yakin tahan lama. Filter sedikit seret waktu di masuk keluarkan. Tetapi rotasi holder relatif mulus dan nyaman. Holder juga disertai dengan mur untuk mengunci — yang menurut saya tidak terpakai untuk praktis penggunaan di lapangan.

Product quality is very good. Lightweight and all metal that I’m pretty sure will be durable. Filter is a bit stiff when going in and out the slots. But holder rotation is quite smooth. Holder also equipped with safety pin, that I don’t think it’s usable due to practical reason in the field. 

Continue reading NISI Filter System — Overview & Holder System

Peralatan Yang Terlupakan — Tas Kamera : Mindshift 180 Panorama Review

Kita sering fokus (banget) pada peralatan utama, kamera – lensa – filter, dan menganggap sepele urusan tas kamera. Padahal tas kamera yang gak nyaman menimbulkan banyak masalah :

  • Tas yang kurang kuat lalu mengakibatkan peralatan jatuh dan rusak
  • Padding (bagian empuk di dalam) yang kurang juga menimbulkan resiko terbentur
  • Ergonomi tas yang kurang nyaman membuat tas tidak nyaman di sanding, akhirnya motret juga tidak nyaman

Saya sudah 8 tahun lebih sepertinya tidak mengganti tas kamera. Saya menggunakan Lowepro MiniTrekker sejak jaman DSLR, dan menambah dengan lowepro Fastpack 100 pada saat mulai travel dan pakai mirrorless.

$T2eC16ZHJGUFFhz0LPGvBSKChojz9!~~60_35

Fastpack_100_Stuffed

Merek lowepro ini tahan banting, sudah terbukti 8 tahun menemani saya ke berbagai penjuru. Tapi saya punya kendala dengan nya :

  • Minitrekker walau kapasitas cukup besar dan lumayan ergonomis, tapi ukuran besar dan kalau mau ambil peralatan maka tas perlu di taruh di bawah. Sangat beresiko kalau mengambil lensa dan peralatan yang ada di bagian agak bawah dari tas tanpa tas di taruh di bawah. Akibatnya repot banget kalau motret landscape di laut, atau travel yang sering kamera keluar masuk.
  • Kendala lain dengan minitrekker adalah tripod terletak di depan, sehingga kalau tripod tergantung akan sangat repot buat buka tas nya.
  • Fastpack adalah andalan saya sebelumnya untuk travel, mungil, cukup untuk mirrorless saya dan beberapa tambahan lain (filter, topi, dll). Tas ini juga praktis karena ambil barang dari samping, so tinggal di miringkan maka kita bisa ambil peralatan.
  • Kendala dengan si fastpack ini adalah ergonomi, kalau di bawa jalan jauh maka gendongannya akan menekan sisi lengan dan bikin tangan pegal dan kebas lama lama. Gak nyaman.

Itu sebabnya pas naik ke Rinjani saya masukkan XT1 dan XF 10-24mm saya ke padding tambahan, lalu masuk ke daypack Deuter Futura saya. Tas gunung. Bukan tas kamera. Karena gak ada tas kamera yang enak buat naik gunung, percaya deh.

Tapi dengan begitu saya repot juga, karena keluar masukin repot, dan juga padding nya gak maksimal.

Saya selalu mikir, ini gak ada produsen tas kamera yang mikir untuk menggabungkan ergonomi daypack (misalnya Deuter Futura) dengan tas kamera apa ya? Kenapa semua tas kamera gak di desain untuk trekking dan “landscape”

5035-762_FRE18_view1_1000x1000

Beberapa bulan lalu akhirnya saya ketemu satu artikel yang menyarankan untuk melihat merek MindShift. Produsen ini adalah anak perusahaan ThinkTank. Mereka spesialisasi nya adalah tas kamera untuk trekking / travel / landscape. So, gendongan dan segala macam desainnya dipikirkan untuk bawa kamera + travel / trekking.

Saya tertarik dengan seri Panorama, yang ukurannya kecil. Tidak sebesar dan seberat seri Pro nya.

Yang menarik adalah semua seri MindShift memiliki mekanisme 180, dimana kita bisa meraih sisi kanan dari tas, melepas kaitan magnet, dan menarik semacam tas pinggang berisi kamera kita. GENIUS !!!!!

muench-workshops-mindshift-panorama-1default_09-03471-2014PD-1 Untuk ambil kamera jadinya tas bahkan tidak perlu turun dari punggung, tidak kotor dengan tanah / air. Kerennya lagi adalah buat ganti lensa jadi sangat mudah, karena ada tempat kita menaruh lensa ganti dll. I LOVE IT !!!!

Continue reading Peralatan Yang Terlupakan — Tas Kamera : Mindshift 180 Panorama Review

Custom White Balance

Buat yang belum paham soal white balance dan pengaruhnya, silahkan baca dulu artikel di motoyuk berikut ini.

Nah buat yang sudah paham … ini sekedar sharing singkat mengenai situasi yang sering kita hadapi di lapangan. Di lapangan sering kita ketemu masalah di mana pencahayaan terlalu ekstrem warnanya. Misalnya pada saat saya memotret di event Manchester United Live beberapa waktu lalu di dalam dome nya digunakan lampu merah. Akibatnya kalau kita motret pakai daylight white balance pasti hancur lebur.

Menggunakan Auto White Balance sifatnya ya untung2an. Ada kamera yang AWB nya relatif cukup canggih untuk kompensasi, tapi karena saking ekstrem nya ya relatif susah memang untuk dapat tonal yang netral.

IMG_0702

Foto di atas di ambil menggunakan XT1 dan XF 18mm f2 dengan menggunakan AWB. Lihat warnanya masih parah merah nya. Ya wajar, karena tidak ada cahaya lain di lokasi tersebut.

Salah satu trik yang bisa digunakan adalah menggunakan Custom White Balance.

Custom WB ada di setiap kamera, hanya saja cara aplikasinya agak berbeda-beda. Saya ambil contoh kamera canon, yang perlu dilakukan adalah :

  1. Foto kertas abu-abu / putih menggunakan AWB
  2. Lalu masuk ke menu dan pilih custom white balance
  3. Pilih foto yang tadi sebagai referensi nya

Sedangkan di Fuji XT1 agak berbeda :

  1. Pilih custom white balance, Fuji akan menampilkan kamera siap jepret
  2. Foto kertas abu-abu / bidang putih – otomatis maka custom white balance akan di setting berdasarkan foto tadi

Hasil penggunaan custom white balance bisa dilihat di bawah ini :

IMG_0699

Kalau kita lihat warnanya sudah jauh lebih netral. Skin tone sudah lebih betul walau belum sempurna (karena keterbatasan cahaya nya).

Kita dapat mengulang proses registrasi custom white balance ini beberapa kali untuk mendapatkan acuan yang paling pas.





Mendefinisikan ulang hobi fotografi …

Libur lebaran memberikan kesempatan buat saya buat belajar lagi mengenai fotografi. Salah satunya adalah membaca buku baru dan menonton video-video mengenai fotografi.

Satu video yang menarik adalah video mengenai analisa foto berikut ini. Mengapa menarik, kalau MY-ers lihat, video ini tidak ngobrol mengenai exposure setting bagaimana, alatnya apa, teknik nya apa … tapi bercerita mengenai detil apa yang perlu dilihat.

Chloe Jasmine Whichello – The book deconstructed from Damien Lovegrove on Vimeo.

(karena ketololan kementrian kita, maka Vimeo kadang di block, itu sebabnya kalau MY-ers tidak bisa melihat video di atas – silahkan cari akses internet lainnya untuk akses : http://vimeo.com/98443337 – atau download dari dropbox saya)

Detil, dan cerita, dan jiwa dari satu foto. Ini adalah hal yang sering sekali terlupakan oleh para hobiist. Karena kita para hobiist senang yang rumit, maka seringkali teknis pemotretan dan peralatan lebih menjadi fokus utama.

Padahal setelah melewati pembelajaran maka segala teknik ini akan membosankan. Karena setelah dicoba dan bisa lalu mau apa?

Saatnya mendefinisikan ulang hobi fotografi mu. Bukan lagi untuk mencoba teknik. Tapi untuk menciptakan karya seni (dengan teknik yang sudah dipahami). Pahami dan ciptakan detilnya. Ciptakan cerita. Ciptakan karya seni.

Semoga dengan demikian hobi ini tidak lalu membosankan ….


Servis Lensa Manual

Beberapa waktu lalu saya beli lensa manual di eBay. Lensa tua Canon FD 50mm f1.4 S.S.C. Dalam iklannya dinyatakan bagus dan mulus.

5778074077_43b5e612a0

Setelah menunggu sekitar 3-4 minggu akhirnya barang datang. Saya bayar pajaknya (warga negara yang baik ya kan) dan saya ambil. Body lensa nya sendiri mulus, tetapi saat diterawang ternyata ada sedikit haze dan jamur. Mulailah saya proses komplain. Apalagi setelah dicoba dan ternyata blade nya ada minyaknya. Penyakit-penyakit lensa manual tua lah.

SXT10709-web

Sebenarnya saya bisa kembalikan lensa ini karena eBay menyiapkan proteksi atas penjualan ini. Tapi masalahnya biaya kirim balik dan pajak yang sudah saya bayarkan tidak bisa di refund. Hanya biaya beli dan kirim dari sana yang bisa di refund. Rugi nih kalau kirim lagi kesana.

Akhirnya saya putuskan untuk melakukan servis. Buat rekan rekan yang mau servis bisa coba kontak langganan saya ini, Pak Rudy namanya – HP : 0813 806 20146 – toko nya ada di Pasar Baru, Jakarta. Tetapi saya biasa datang ke rumahnya di kawasan Cempaka Putih.

Setelah servis selama 3 hari, dengan biaya Rp 150rb, lensa saya kembali dengan performa maksimal. Bersih dari jamur, haze dan minyak. Untungnya kondisi awal tidak terlalu parah, sehingga tidak ada cleaning mark juga. So, buat yang berminat bebersih lensa manualnya, silahkan hubungi beliau 🙂

Mengenai lensa ini sendiri? Drawing nya cukup menarik, harganya relatif murmer (kisaran 1-1.5jt), tajam mulai di f2, kontras dan saturasi juga bagus (foto sample di atas di f2)

Di wide open tentunya ada chroma dan masih kurang maksimal ketajamannya, tapi better daripada FL 55/1.2 yang saya pakai sebelumnya. Saya coba coba dulu lebih jauh ya – ini sih koleksi, so bukan mengejar superioritas lensa juga.


Fotografi adalah seni …. ide ….

Di artikel ini saya ingin membawa my-ers satu langkah ke depan dari sekedar teknik fotografi.

Fotografi adalah satu di antara sedikit bidang yang menggabungkan teknik (otak kanan) dan art (otak kiri). Keduanya tentu saja harus balance, foto yang secara teknik sempurna tetapi tidak ada ide orisinil nya akan terasa kurang jiwa nya. Sementara foto dengan ide yang sangat orisinil tetapi tidak di bawakan dengan teknik yang benar akan terasa dodol juga, gak jelas apa sebenarnya ide nya malahan bisa bisa.

Saya menulis ini bukan karena saya sudah jago … saya masih jauh dari jago. Saya menulis ini sekedar share saja bahwa belajar dengan tidak balance juga tidak akan membuatmu jadi lebih bagus dalam fotografi. Saya sendiri orang teknik, saya bekerja sebagai kuli IT, so saya sadar betul mungkin teknik saya cukup kuat tetapi art belum. Makanya saya terus mengasah bagian itu.

Segara Anak Mt. Rinjani

Soal teknik mungkin sudah sering dibahas. Bicara mengenai teknik dasar exposure, color, post processing dan banyak teknik + tips lain. Cari saja di google bejibun. Tinggal bagaimana kita mengasahnya dari waktu ke waktu.

Continue reading Fotografi adalah seni …. ide ….

Mirrorless bukan Panacea

Panacea

Tergelitik dengan beberapa tulisan mengenai mirrorless dan juga pertanyaan dari MY-ers yang kontak saya langsung, saya jadi ingin menuliskan bahwa pandangan bahwa mirrorless Panacea itu keliru. So kalau MY-ers berpendapat dengan pindah ke mirrorless akan mendapatkan foto yang lebih bagus, lebih ringan, lebih enak digunakan, dst dst , ya siap siap saja kecele dan kecewa.

Mirrorless hasil fotonya lebih bagusfoto bagus apa nggak itu hanya dipengaruhi sedikit oleh alat. Lebih banyak oleh orang yang menggunakannya, bukan sampai taraf jepret saja, tapi sampai akhir (post-pro juga terlibat). Alat yang bagus akan mempermudah mencapai hasil, mempersingkat workflow, mengurangi keribetan, mempercepat reaksi, dll. Tapi tidak secara siginifikan meningkatkan hasil.

Kita sering tertipu dengan pandangan bahwa si A sejak upgrade alat fotonya menjadi makin bagus. Coba dipikir ulang, itu karena upgrade alat nya, atau karena dia makin lama pengalamannya?

Foto saya lebih baik dibandingkan saat saya pakai canon 350d bukan karena sekarang saya pakai Fuji, tapi karena saya makin tinggi jam terbang nya saja. Yak, saya sangat terbantu dengan teknologi baru di kamera baru, tapi bukan berarti saya 100% tidak akan bisa menghasilkan karya yang sama dengan menggunakan kamera lama.

Spring is Coming

Ada banyak orang yang menggunakan kamera seharga puluhan juta di mode Auto – bukan karena ingin, tapi karena gak paham gimana mengaturnya – gak paham juga soal komposisi dll. Kamera puluhan juta digunakan selayaknya kamera pocket. Mereka bangga dengan hasil yang tajam, resolusi yang detil, dll. Tapi pada akhirnya? Ya foto liputan kayak kamera handphone.

Continue reading Mirrorless bukan Panacea

I’m New To Fuji … what should I do ?

Sengaja di tulis buat teman-teman yang (ngaku-nya) keracunan Fuji dan akhirnya membeli. Ini adalah beberapa hal yang saya lakukan dengan Fuji X Pro1 milik saya. Siapa tahu bisa digunakan.

 

Operasional Exposure & Warna

Fuji tidak memiliki menu / tombol untuk memilih mode, misalnya Av, Tv atau manual. Tetapi Fuji memusatkannya pada kontrol luar :

  • Untuk mengatur aperture, putar ring aperture yang ada di lensa. Angka yang dipilih adalah angka aperture yang akan digunakan. A adalah untuk Auto aperture – alias nilai aperture dipilih oleh kamera.
  • Apabila lensa mu adalah lensa zoom (misalnya 18-55) maka tidak ada angka di ring aperture lensa ini. Ring ini merupakan ring yang berputar 360 derajat – setiap putaran memberikan sinyal pada kamera untuk mengubah aperture 1/3 stop. So, putar dan lihat aperture yang terbentuk di viewfinder / LCD. Ada tombol tersendiri untuk memilih Auto (A).
  • Di bagian atas kamera ada pilihan shutter speed. Kembali A adalah untuk Auto.
  • Jadi apabila :
    • Aperture dipilih, shutter speed Auto = Mode Av
    • Shutter speed dipilih, aperture Auto = Mode Tv
    • Kedua aperture dan shutter speed dipilih = Mode M
    • Kedua aperture dan shutter speed Auto = Mode P

fuji xt1

Selain itu ada tombol untuk kita memilih Exposure Compensation (EV) – dimana Ev negatif artinya akan mengkompensasi metering dan membuat foto lebih gelap, dan sebaliknya.

Continue reading I’m New To Fuji … what should I do ?

Fuji X Comparison made simple

Ada banyak pertanyaan mengenai Fuji X series mana yang tepat untuk dibeli. Sayang nya tidak ada jawaban yang pas buat semua orang. Semua kembali lagi tergantung pada mau digunakan seperti apa.

Saya akan summary sedikit mengenai perbedaan – perbedaan yang ada dalam artikel ini. Tetapi saya tidak membahas super detil mengenai specs comparison, untuk itu silahkan googling atau cek website Fuji berikut ini.

Comparison3

Continue reading Fuji X Comparison made simple