Bunga – Bunga Liar

Jum’at lalu saat berangkat ke kantor saya bawa kamera. Kebetulan ada keperluan yang membuat harus membawa peralatan ini. Sesaat melewati rumah saya, pas di belokan, saya melihat kumpulan bunga liar yang sedang mulai bersemi (karena hujan mulai turun). Kebetulan pula langit sedang agak mendung. Aihhhh, lightingnya cukup bagus, diffused dan lembut. Jadi mikir, berhenti motret gak ya.

Tapi akhirnya saya putuskan untuk berhenti juga motret barang 5 menit. Soalnya teringat  beberapa waktu lalu saya ketemu tempat yang sangat indah dengan lighting yang indah, waktu itu saya skip, tidak motret. Eh waktu diulang lagi ke lokasi yang sama dan kira-kira jam yang sama ternyata sudah tidak sama dan tidak bisa deh ambil foto yang saya mau. Jadi saya berpikir daripada nanti menyesal, lebih baik saya berhenti sebentar deh.

Foto ini diambil menggunakan lensa manual Carl Zeiss Flektogon 35mm f2.4. Lensa ini jangan dipikir mahal sekali, ini lensa tua tahun 1980an … tapi masih dalam kondisi yang sangat bagus. Salah satu kelebihan lensa ini adalah minimum focus distance yang dekat, membuat bunga liar yang diameter nya tak lebih dari 1 cm ini bisa terlihat cukup detil. Sembari menghasilkan bokeh yang indah. Saya sangat menyukai lensa ini, salah satu lensa favorit saya.

Setting yang digunakan tidaklah aneh-aneh. Hanya menggunakan aperture terlebar (f2.4) dipadu dengan auto ISO & Faithfull picture style + Daylight WB. Salah satu karakter yang berbeda dengan lensa Canon adalah lensa manual CZ & Leica cenderung lebih asyik warnanya jika menggunakan picture style Faithfull (selera saya ya) dibandingkan Standard.

Post processing juga tidak ada aneh-aneh, hanya naikin saturasi sampai +3 dan buat S-Curve di Canon DPP. Di Photoshop untuk foto diatas hanya menambahkan vignette sedikit. Sedangkan foto disamping tidak di olah lebih lanjut. Nyaman memang bekerja dengan lensa manual buat saya, post processing nya tidak banyak karena tonalnya sesuai dengan yang saya mau.

Tentunya saya perlu melakukan sharpening pada foto setelah proses resized. Tapi walaupun demikian lensa CZ Flek 2.4/35 ini memang sudah menghasilkan foto yang tajam. Sehingga sedikit saja sharpening sudah memadahi.

Yang ingin digaris-bawahi di post ini adalah bahwa melatih mata (A Photographer’s Eyes) sangatlah penting. Dan apabila ada momen yang menurutmu layak dan bagus buat di foto, jangan ragu dan jangan tunda. Ambil foto pada saat itu juga. Dan yang terakhir :

Nothing happens when you sit at home. I always make it a point to carry a camera with me at all times…I just shoot at what interests me at that moment. – Elliott Erwitt

13 thoughts on “Bunga – Bunga Liar”

    1. Justru sharpen adalah langkah terakhir setelah resized … jadi setelah sharpen jangan ada resized lagi. Simpan file JPEG yang belum di sharpen, resized as required, sharpen. Lalu kalau butuh ukuran lain, start dari yang belum di sharpen lagi. Dengan demikian kualitas image paling maksimal

    1. Aku pakai NIK software sharpener dengan power kisaran 20-25 … bisa digantikan juga dengan unsharp mask filter, tapi harus maen2 3 parameter yang ada supaya pas

  1. wah makasih tutorialnya, resized dulu baru sharpen.Lalu pertanyaan WF ttg metodenya apa? apakah pakai DPP dengan memaksimalkan sharpness?. aku coba sharpness dg DPP lalu aku sesuaikan lagi dengan Iphoto selama ini cukup menolong …

  2. NIK Software sharpener emang keren ,pantesan fotonya Edo dah mateng.
    Kulihat di reviewnya bisa U point … tapi mahal juga ya. Gimana caranya dapat sofware semacam ini tapi murah …he he he(maunya seh) dan apakah harus pake aperture atau photoshop baru bisa digunakan?

  3. Yup, NIK sharpener emang mudah .. cuma ya itu, harus nge cr**k deh 🙁 soalnya mahal sekali #jujur. Alternatif lain adalah GIMP, tapi gak terlalu ok dan sulit user interface nya

  4. hi hi hi …ini dia suhu yg baik, #jujur.
    Insyaallah klo ikutan kursusnya nanti minta diajarin “c***k 🙂
    Btw untuk post processing software sudah ada artikel yg bahas khusus itu belum ya?…maksudnya bandingin mana yang termudah dan terbaik(user friendly gitchuuu… 🙂

    1. Hahaha gak #jujur ketahuan juga, fotografer non profesional mana mampu beli nya, harganya kayak orang gila gitu haha. Belum pernah membandingkan karena selama ini baru menggunakan GIMP (not recommended) dan Photoshop. Toh selama ini tidak banyak post processing juga sih

  5. ha ha ha ..ini dia fotografer yang “manusiawi”, apa adanya, ga ditutup2in … dari mula lihat artikel2nya nyenengin n ngebantu banget buat yg ga ngerti foto atau baru tahap awal di teori “EVOLUSI Edo”… semakin nyimak semakin suka, apalagi filosofinya yang ” saling berbagi & kekeluargaan”…suatu “karakter yang sulit” di jaman yang apa apa serba diukur dg materi …
    Sukses ya mas Edo “MotoYuk” !…semoga berhasil visi dan misi berbagi di MotoYuk ini dan selalu bermanfaat untuk kebaikan, amin

    1. Wow thanks buat word of encouragement nya. Really put smile on my face tahu ada yg merasa terbantu dan se pemikiran dengan saya. Semoga bisa terus berbagi ya 🙂

Leave a Reply MY-ers ...