Berapa ISO optimal untuk dynamic range maksimal ?

Dalam sensor kamera kita ketahui tiap pixel di wakili oleh photosite (dibahas lebih detil di buku 1 motoyuk). Bayangkan photosite ini seperti ember yang menampung foton cahaya. Apabila foton cahaya nya sedikit maka akan jadi pixel gelap (low luminance) dan apabila banyak akan menjadi pixel terang (high luminance). Perbedaan antara pixel gelap dan terang inilah dynamic range dari satu foto.

Photosite memiliki batas daya tampung, sama halnya dengan ember yang dijadikan bahan perumpaannya. Apabila foton cahaya yang mengenai photosite tersebut sudah melebihi daya tampungnya (tumpah dalam perumpaan ember) maka titik tersebut akan dianggap putih saja, tidak ada informasi detil lebih lanjut. Inilah titik yang biasa disebut highlight clipping. Contohnya adalah pixel yang menangkap area matahari – umumnya sudah jadi putih dan tidak bisa di recover lagi detilnya.

Karena pixel terang sudah ada batas atasnya, maka umumnya dynamic range tergantung pada kemampuan pixel gelap. Sampai seberapa rendah jumlah foton yang mampu di tangkap photosite dan masih di interpretasikan benar (tidak jadi pixel noise). Karena ISO rendah lebih berhati hati dalam hal noise, maka ISO rendah umumnya mampu menangkap lebih akurat area shadow. Dengan demikian ISO rendah akan memiliki dynamic range lebih baik dibandingkan ISO tinggi.

Lesson Learned :  ISO rendah akan memiliki dynamic range yang lebih baik dikarenakan lebih akurat dalam memprediksi pixel di area shadow (less noise)

Di beberapa kamera tersedia pilihan untuk memilih extended Low-ISO. Misalnya ISO 50 pada Canon 5d Mark II. Tetapi sebenarnya apa yang dilakukan oleh pilihan ini ?

  1. Disebut extended karena sebenarnya sensor kamera tersebut tidak benar benar memiliki kemampuan ISO 50 secara teknis.
  2. Yang dilakukan oleh kamera adalah melakukan metering seakan – akan kamera memiliki sensor dengan ISO 50. Tetapi kemudian tetap memotret dengan kemampuan ISO native (ISO 100 untuk Canon 5d). Hal ini akibatnya over-expose sebanyak 1 stop.
  3. Kemudian kamera akan melakukan perhitungan untuk memotong exposure sebanyak 1 stop. Tetapi masalahnya photosite (pixel) dimana sudah terjadi clipping sudah tidak bisa dikembalikan detilnya. Sehingga overall area clipping akan lebih banyak.
  4. Dengan demikian dynamic range akan lebih rendah cakupannya.

Lalu kapan kita boleh menggunakan ISO 50 ini? Misalnya adalah apabila kita tidak memiliki ND filter di tangan, sementara kita butuh shutter speed yang lebih rendah lagi. Tentunya dengan paham resiko nya bahwa dynamic range akan lebih rendah.

Lesson Learned :  Jangan gunakan extended low-ISO kecuali sangat dibutuhkan. Sebisa mungkin gunakanlah native ISO kamera yang anda miliki.

Leave a Reply MY-ers ...