Bali … #2

Masih di kisaran Bali, tepatnya Tenganan, Pantai Candidasa dan Pantai di Nikko Hotel

“Tenganan Lontar Carving” | 28mm | Av @ f5 | 1/100 secs | ISO400 | EV0

Pilihan warna sephia digunakan untuk menguatkan kesan etnik yang ada. Angle dipilih untuk menambahkan kesan dinamis pada foto. Sedangkan apperture dan iso menyesuaikan dengan kebutuhan depth of field dan juga pencahayaan yang ada (ingat rule of thumbs shutter speed adalah 1/focal length – atau minimal 1/60 secs untuk still life dan 1/125 secs untuk human interest).

“Mendung di candidasa” | 55mm | Av @ f11 | 1/125 secs | ISO400 | EV-1/3 | Warm custom White Balance

Kondisi pemotretan cukup menantang, karena hujan rintik-rintik dari arah muka. Sehingga potensi lensa kena rintik hujan menjadi sangat besar. Pada saat seperti inilah Lens Hood sangat berguna. Hood membuat rintik hujan tertahan sedikit.

f11 digunakan untuk memastikan depth of field maksimum. Tapi sebenarnya pada kasus dimana focal length tele yang digunakan kita bisa menggunakan f8 atau bahkan f6.3. Tapi untuk amannya maka gunakan apperture sempit seperti f11.

Custom white balance dengan nuansa warm digunakan untuk menguatkan efek sore hari yang memang terasa disana pada sore itu. Apabila kita menggunakan auto white balance maka nuansanya akan cenderung cold. Hal ini dikarenakan banyaknya porsi awan pada foto, mengakibatkan perhitungan auto white balance menjadi meleset.

Saat keluar dari kamar hotel untuk berburu sunrise ternyata langit pagi sudah begitu indahnya. Tergopoh gopoh saya berlari. Di kepala saya yang terbayang adalah siluet nyiur (pohon kelapa) yang berjejer menjadi foreground dari langit yang indah ini. Sayang sekali, tengok kanan kiri maka barisan nyiur dengan siluet payung-payung pantai ini adalah spot terdekat dan terbaik saat itu. Oleh sebab itu saya putuskan ambil saja foto disini, mengingat momen twilight sunrise hanya berlangsung 10-15 menit saja.

Image Stabilizer yang ada pada lensa EF-S 17-55 f2.8 IS milik saya sangat berguna dalam kondisi ini. ISO tidak mungkin saya push lebih jauh lagi karena batasan kamera saya untuk hasil yang masih considerably noise free adalah ISO400. Sedangkan apperture saya tidak berani push lebih lebar lagi misalnya di f5.6 (sebenarnya kalau sekarang mikir2 lagi sih harusnya berani aja, siluet ini kan ya?). Jadi pilihannya adalah mengandalkan IS yang bisa menahan getaran sampai dengan 2-3 stop.

Exposure compensation harus diturunkan (dalam kasus ini -1). Hal ini dikarenakan langit dan siluet yang cenderung gelap akan mengacaukan kalkulasi metering kamera. Akibatnya jika kita tidak turunkan EV nya maka kamera akan berusaha membawa overall tone ke gray 18%, alias menjadi over exposure.

“Reflection of sunrise” | 17mm | Av @ f22 | 0.6 secs | ISO100 | EV0 | Tripod

Sudah jelas ini adalah refleksi awan-awan yang ada di pantai hotel Nikko. Untuk mendapatkannya tentunya tripod adalah mutlak. Hal ini dikarenakan kita menyertakan foreground s/d background. Sehingga kita perlu memaksimalkan depth of field kita, misalnya dengan menggunakan f22, dan dibantu tripod untuk menjaga tingkat goyang dari kamera.

Selamat menikmati….

0 thoughts on “Bali … #2”

  1. jadi gue gan apa om nih? LOL

    f nya masih butuh agak gede Go, tapi ga sampai kayak kalau full landscape. Karena kalau terlalu kecil di bagian tepi dari siluet bisa agak berbayang/gak sharp. Atau kalau siluetnya tajam sampai ke tepi maka di background yang kurang sharp.

    Jadi kalau full landscape butuh at least f11 maka ini f8 cukuplah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *