Auto Focus – How it work? (Part 2)

Dalam artikel minggu lalu saya menjelaskan mengenai bagaimana auto focus bekerja. Baik sistem passive – active, menggunakan contrast detection dan phase detection. Artikel tersebut menjelaskan mengapa mirrorless walaupun sudah sangat nyaman digunakan belum bisa mengalahkan DSLR. Para profesional masih tetap membutuhkan sistem auto focus yang cepat. Misalnya sports dan wildlife photography akan kesulitan jika harus menggunakan contrast detection saja tanpa phase detection.

Di artikel ini saya akan menambahkan informasi mengenai sensor AF itu sendiri. Umumnya sensor yang digunakan dalam kamera adalah jenis sensor vertikal. Hal ini karena kontras umumnya memang terjadi di area yang posisinya horizontal.

Lihat sensor – sensor berwarna biru itu adalah sensor yang paling banyak digunakan di DSLR pada umumnya. Sensor vertikal ini murah, akurasinya cukup baik untuk kondisi dimana banyak garis horizontal yang kontras nya bisa di analisa. Hanya saja sensor jenis ini kesulitan apabila menemui garis-garis vertikal.

Oleh sebab itu para desainer kamera menggunaan “cross sensor”. Sensor jenis ini bisa mendeteksi kontras di garis horizontal maupun vertikal. Sehingga lebih cepat dan akurat. Ini adalah sensor yang di gambar diatas di gambarkan dengan warna merah / hijau.

Sensor ini lebih mahal, sehingga di high end DSLR saja hanya sebagian adalah cross sensor. Sedangkan di DSLR kelas pemula umumnya cross sensor hanya diletakkan di sensor tengah. Itu sebabnya apabila kita ingin menggunakan teknik focus recompose kita lebih baik memilih menggunakan sensor yang tengah. Karena hampir pasti sensor tengah itu adalah jenis cross sensor.

Selain itu … kalau beli kamera jangan sekedar mengejar yang jumlah sensor AF nya banyak. Carilah yang memiliki cross sensor paling banyak jika membutuhkan banyak titik AF. Saya pribadi pengguna center … jadi tidak terlalu peduli dengan berapa banyak titik AF yang dimiliki, buat saya yang penting center sensor nya kualitasnya bagus.

 

Pilih DSLR atau Mirrorless?

Dilihat dari segi kecepatan AF nya maka mirrorless tidak akan menang dibandingkan DSLR (at least sampai detik ini). Walau sistem AF Olympus EP3 sudah jauh lebih cepat dibandingkan pendahulunya, tetap saja tanpa phase detection pasti ada jeda. Jadi apabila MY-ers adalah penghobi fotografi dengan kecepatan tinggi (misalnya sports, wildlife, macro – dengan AF, candid) maka DSLR tetap menjadi pilihan terbaik.

Buat mereka yang tidak terlalu concern dengan kecepatan AF maka mirrorless memberikan banyak keuntungan :

  • Ukuran yang lebih kecil (body dan lensa) sehingga lebih ringan dibawa
  • Karena ukurannya lebih kecil dan bentuknya yang mirip kamera pocket maka mirrorless lebih tidak mengganggu – kita bisa menghindari satpam indonesia yang rese, atau motret street dengan lebih nyaman

Memang ini hanya satu aspek dari pemilihan mirrorless dan DSLR. Masih ada banyak aspek yang lainnya seperti harga, ketersediaan lensa dan aksesoris, kualitas sensor, ketiadaan sensor full frame di mirrorless, dll. Tapi saya tetap merasa the future will be mirrorless ….

 


3 thoughts on “Auto Focus – How it work? (Part 2)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *