A Photographer’s Eyes

Belajar teknik itu penting, tanpa teknik fotografi yang benar maka foto yang dihasilkan antara : hoki (kadang bagus, kadang nggak – atau yang diinginkan gimana, hasilnya gimana, kalau hoki ya bagus deh jadinya) atau plain (foto kayak pemula motret pake kamera pocket – biasa aja dan tidak ada yang unik) atau kacau (terang dan gelap tidak teratur, acak-acakan).

Belajar komposisi juga penting, tanpa komposisi yang menarik maka foto juga akan jadi “just another photo“. Fotonya biasa saja, tidak unik, tidak menggugah, tidak menarik untuk dibicarakan pula. Komposisi bahkan merupakan salah satu komponen yang paling penting dalam belajar fotografi (dan seni pada umumnya). Kenapa? Karena kalau teknik si kamera bisa di otomatis kan (mode otomatis, auto iso, auto aperture, auto segala macam dah), tapi tidak dengan komposisi. Pernah dengar kamera yang auto compose? Tidak rasanya hahaha.

Tapi tahu teknik komposisi dan tahu mengaplikasikannya di lapangan adalah 2 hal yang sangat berbeda. Seringkali obyek yang bisa menjadi foto yang indah tidaklah ber-label FOTO AKU!!! SEKARANG!!! . Obyek yang seperti ini seringkali tersembunyi dari pandangan mata biasa. Lihat foto bunga di atas … obyek foto ini ada di kerumunan bunga yang jadi hiasan di sepanjang travelator di bandara soekarno hatta. Dilihat dengan cara pandang biasa? Tidak ada yang spesial … SUMPAH!!!

Atau foto berbagai macam bangku (dan bagian-nya) ini, foto pertama adalah jajaran bangku di bandara changi, singapore. Memang bangku ini baru, tapi sungguh tidak ada menariknya kalau dilihat biasa, seringkali malah kita kelewatan tidak melihatnya karena buru-buru ingin ke imigrasi dan ambil bagasi (demi foto di kota singapura-nya ….)

Foto kedua adalah lekuk bagian belakang dari sebuah kursi meja di restoran. Spesial? Tidak sama sekali … restorannya juga biasa saja koq. Hanya saja lekuknya yang menarik dengan cahaya dari samping, ditambah dengan penggunaan lensa yang “menyembunyikan” bagian kursi lainnya yang kurang menarik membuatnya spesial.

Semuanya tersembunyi dari mata biasa. Tapi justru karena tersembunyi seringkali foto-nya bisa menjadi menonjol, terasa “wah”, terasa berbeda, dll. Jadi yang dibutuhkan oleh seorang fotografer bukan hanya teknik, bukan hanya teori komposisi, tapi terlebih adalah “A Photographer’s Eyes“.

“Mata” seperti ini tidak bisa diperoleh dengan cara belajar teori. Apalagi dengan transplantasi mata. Karena mata disini adalah kombinasi dari banyak hal :

Pikiran Kreatif

Ujung awal-nya tidak lain adalah otak kita. Apa yang kita bayangkan, yang ingin kita sampaikan, yang ingin kita tampilkan.

Misalnya foto disamping ingin menyampaikan pesan bahwa si turis mengagumi foto yang di foto-nya. Eh kebetulan pula turis tersebut memakai topi ala koboi amerika dan yang di foto adalah foto Barrack Obama dengan hiasan wajah bendera Amerika. Suatu kebetulan? Ya mungkin, tapi itulah cara fotografer menyampaikan pikirannya.

Bagaimana melatih pikiran kreatif? Sama halnya dengan melatih kreatifitas … mencoba terbuka dengan segala macam hal baru. Mencicipi dan mengalami berbagai pengalaman baru akan membuka pikiran kita sehingga lebih berani untuk berpikir di luar “norma” dan menjadi “thinking out of the box”.

Jadi awalilah fotografi dengan berusaha menjadi kreatif juga. Coba berbagai hal baru, termasuk berbagai genre fotografi. Serap dan cerna semua pengalaman baru, niscaya kreatifitas akan masuk ke dalam dirimu. Coba lihat dan nikmati puluhan foto tiap hari demi menambah “database” keindahan dan komposisi di otak mu. Kunjungi website seperti fotografer.net, fineart-portugal.com, 500px.com, 1x.com dll demi perbendaharaan komposisi dan keindahan foto. Jangan takut pula menghamburkan shutter count dari kamera-mu, pelajaran yang diperoleh akan jauh lebih berharga dibandingkan harga ganti shutter.

Pemahaman Alat

Hal kedua yang harus dimiliki adalah pemahaman mengenai alat yang dimilikinya, dalam hal ini saya mengacu pada lensa dan peralatan lainnya. Tiap lensa memiliki karakter yang berbeda di tiap focal length dan aperture nya. Seorang fotografer harus paling tidak bisa membayangkan kalau ingin menyampaikan suatu pesan lebih baik menggunakan lensa yang mana dengan teknik yang bagaimana (pilihan focal length dan aperture).

Foto bunga disamping bisa diperoleh karena saya paham lensa 35mm saya memiliki minimum focus distance cukup dekat. Sehingga saya bisa memotret bunga dalam jarak yang dekat dan di background saya tetap memperoleh bidang yang luas (wide lens). Sedangkan bokeh nya tetap bisa halus karena lensa ini memiliki aperture sampai dengan f2.4

Pemahaman mengenai lensa dan peralatan lainnya memang bisa dibantu dengan membaca puluhan bahkan ratusan review di web. Tapi pada akhirnya, berdasarkan pengalaman saya, membaca + mencoba adalah yang paling efektif. Seringkali review di web itu “lebay” dan tidak sesuai dengan “gaya memotret” kita. Coba bayangkan apa yang akan seorang landscaper tulis untuk lensa yang digunakan untuk pemotretan human interest ? Atau apa yang akan ditulis oleh seseorang ahli mengenai satu lensa ekonomis yang murah ? Apakah opini mereka seluruhnya bisa kita pegang?

Coba gunakan, gunakan, gunakan dan gunakan tools yang kamu miliki. Eksplore sampai bahkan kita bisa membayangkan hasilnya sebelum tombol shutter itu ditekan. Jika motoyuk-ers belum bisa membayangkannya, artinya tools itu belum dipahami benar.

Keberanian

Keberanian juga mempengaruhi kualitas “mata seorang fotografer”.

Motoyuk-ers bisa memulai keberanian ini dengan memotret menggunakan angle yang tak biasa. Entah misalnya very low angle (frog eye) – atau sangat tinggi (bird eye). Saya kadang jongkok bahkan tiduran untuk suatu angle tertentu. Kadang saya setting kamera otomatis dan mengangkatnya jauh di atas kepala saya (kalau saya tidak menemukan cara untuk berada di ketinggian, atau terbang hehehe). Menurut Thomas Leuthard dalam eBook nya foto akan kurang menarik apabila di foto dengan posisi fotografer berdiri, mengapa? Karena demikianlah cara semua orang melihat sesuatu … dengan berdiri. Angle foto itu tidak akan jadi istimewa karena ya sama saja dengan cara orang lain melihat.

Berani juga berarti mencoba cara memotong yang baru (cropping), atau cara pandang yang baru. Foto mini cooper dibawah ini di crop dengan cara yang diprotes oleh banyak orang .. tapi buat saya pribadi ini adalah cara saya, ini adalah eksperimen saya. Kenapa saya harus mengikuti cara mengambil gambar atau angle dari majalah otomotif misalnya?

Keberanian juga berarti berani untuk mengambil resiko, apapun itu, demi satu foto yang diyakini menarik. Well, sebagai landscaper salah satu resiko yang saya ambil adalah mengambil low angle (so low that the ocean wave could just hit my lens) demi foto yang saya inginkan. Hasilnya? Buat saya sih berbeda …

Atau saat saya mencoba street photo … hajar saja ngambil foto walau orang tua si anak udah melotot …

Atau ya keberanian untuk mengambil foto yang obyeknya benar-benar biasa saja … (PS : olah digital yang dilakukan di foto ini sudah saya bayangkan sesaat sebelum foto ini diambil, bukan coba – coba di depan komputer demi foto yang lebih “nendang”, tapi memang sudah dibayangkan sebelumnya)

 

A Photographer’s Eyes bisa untuk dimiliki oleh semua orang yang berniat memiliki nya. Hanya perlu berlatih dengan tekun dan sabar menunggu prosesnya. Bagi saya yang orang IT (dan artinya sangat logis dan hanya memiliki sedikit sense of art) kesabaran itu artinya 5 tahun lebih berlatih … dan masih terus berlatih sampai sekarang. Let’s start today 🙂

 


27 thoughts on “A Photographer’s Eyes”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *