A Flowery Year ….

Selamat tahun baru once again … semoga hobby fotografi nya makin maju, makin mewangi seperti bunga-bunga, makin indah dilihat dan dinikmati juga tentunya.

Tulisan kali ini membahas mengenai beberapa foto bunga yang diambil beberapa waktu belakangan ini dan teknik yang menyertainya. Foto diambil di berbagai lokasi dengan berbagai jenis lensa yang digunakan. Semoga bisa jadi reference juga.

 

A Yellow On Table Top

Well, tidak sepenuhnya bunga, tapi at least ada komponen bunga nya kan?

Ini adalah hiasan meja di Hotel Padma, Bali. Kebetulan melihatnya pas makan pagi. Di bagian belakangnya ada daun dan area yang terkena matahari pagi (itu sebabnya menciptakan bokeh seperti di foto ini). Arrangement, warna, kontur, bentuk semuanya buata saya just fit together. Saling bersinergi menjadi komposisi yang enak dipandang.

Saya sengaja memotong bentuk di cangkir. Apabila tidak saya potong maka cangkir tersebut akan sangat dominan dan menutupi komposisi yang lain – karena terlalu kuat. Sementara saya ingin bunga berwarna kuning juga menonjol, barengan dengan bokeh di belakang dan komponen yang lainnya.

Pemotretan model seperti ini hanya bisa dilakukan dengan lensa wide + MFD (minimum focus distance) yang sangat dekat. Kalau lensanya tele maka banyak elemen komposisi yang tidak bisa ditampilkan karena sudut pandang yang lebih terbatas. Kalau saya menggunakan lensa dengan MFD yang jauh maka bokeh tidak bisa dapat + ukuran di cangkir juga tidak bisa sebesar ini.

Teknis : 5d Mark II + Carl Zeiss Flektogon 35mm f2.4 @ f2.4 | Av Mode | Faithfull 9020 Picture Style

 

 

 

 

A Wild Flower

Lain dengan pemotretan di atas yang menonjolkan ke komposisi dan permainan warna, maka pemotretan ini lebih menonjolkan detil.

Bunga yang di foto ini adalah bunga liar, ditemukan hampir di seluruh tanah kosong di sekitar rumah. Apalagi pada saat musim hujan seperti ini. Mereka “mewabah” dimana mana. PS : Asalkan belum dipotong oleh para perawat taman kompleks yang “terlalu rajin”.

Penggunaan lensa makro memungkinkan MFD yang sangat dekat. Kombinasi focal length 100mm dengan MFD yang sangat dekat membuat bokeh yang silky smooth. Khas Canon – creamy bokeh.

Memastikan agar tidak shake saya mengaktifkan fitur Image Stabilizer (IS) pada lensa + menggunakan bukaan f5.6 dengan iso400. Dengan demikian speed yang diperoleh 1/100 seconds. Cukup untuk mendapatkan detil ketajaman – karena tidak shake. Akibat dari f5.6 tentunya terlihat, dof yang agak sempit. Tapi tidak apa-apa karena detil yang ingin ditonjolkan adalah ujung si bunga liar, bukan batangnya.

Teknis 5d Mark II + EF 100mm f2.8 L IS Macro | Av Mode @ f5.6 | Faithfull 9020 Picture Style

 

 

 

 

 

Crowd of Wild Flower

Kali ini area bunga liar yang sama, lensa yang sama (EF 100mm f2.8 L IS Macro) tetapi dengan jarak pandang berbeda. Apabila foto sebelumnya menggunakan fungsi makro dari lensa 100mm ini, maka foto ini menggunakannya sebagai lensa standard.

Lensa makro terkenal karena memiliki MFD yang sangat dekat. Bisa mencapai kisaran 20cm. Artinya, lensa ini bisa tetap focus walau sudah sangat dekat sekali dengan obyek. Artinya lagi, obyek yang di foto bisa terlihat besar sekali – seperti foto yang sebelumnya.

Tapi lensa makro tidak hanya bisa digunakan sebagai lensa makro. Dia bisa digunakan sebagai lensa biasa dengan focal length 100mm. Akibatnya bunga yang ukurannya kecil ya terlihat tambah kecil.

Tapi dalam foto ini ukuran kecil ini dimanfaatkan sebagai area komposisi. Susunan mereka diatur dan dof juga diatur (depan agak blur + belakang blur abis) supaya menonjolkan sekelompok bunga liar di bagian tengah foto. Ini akan menguatkan kesan 3d pada foto.

Teknis : 5d Mark II + EF 100mm f2.8 L IS | Av Mode @ f2.8 – focus ke bagian tengah, bukan bunga paling depan | Faithfull 9020 Picture Style

 

Yellow on Black

Agak berbeda dengan foto yang lain, foto ini dibuat tidak di alam bebas. Bunga potong ini diletakkan di botol AQUA dengan latar belakang kain beludru berwarna hitam.

Kenapa kain beludru? Kain ini menyerap cahaya dengan sangat baik, hampir tidak ada refleksi cahaya. Sehingga kalau dijadikan background akan “perfect” – tidak ada pantulan. Berbeda dengan jenis kain lain. Untuk memperolehnya juga mudah, tinggal pergi ke toko kain sebelah rumah / pasar. Umumnya kain jenis ini selalu ada.

Saya meletakkan kain ini di sandaran kursi, menjepitnya supaya tidak jatuh. Lalu meletakkan kursi pada posisi dimana cahaya datang menyamping. Cahaya yang digunakan adalah cahaya dari outdoor langsung (window light). Saya tidak menambahkan flash / cahaya tambahan lainnya. Tentunya langit saat itu sedang agak mendung, sehingga direct window light ok saja.

Apabila kondisi tidak mendung / terik, letakkan bunga agak ke dalam. Atau gunakan kertas kalkir atau tirai tembus pandang sebagai diffuser. Dengan demikian cahayanya akan lebih lembut. Tanpa diffuser maka kontras cahaya yang jatuh pada bunga akan sangat tinggi. Akibatnya karakter bunga yang lembut jadi kurang bisa menonjol.

Karena kondisi saat itu hanya membawa lensa wide maka saya gunakan teknik seperti foto pertama. Lensa wide + MFD sangat dekat. Saya sudah agak lupa dengan aperture yang saya gunakan, maklum lensa manual tidak mencatat aperture yang digunakan di exif foto. Tebakan dan ingatan saya nampaknya saya gunakan antara f2.4 – f4

Teknis 5d Mark II + Carl Zeiss Flektogon 35mm f2.4 @ f2.4 | Av Mode | Faithfull 9020 Picture Style | Daylight White Balance

 

The Lotus

Ini adalah salah satu foto favorit saya so far. I’m very lucky to get the lighting, Yes.

Foto ini dibuat juga di Padma Resort Bali. Tapi yang unik dari foto ini sebenarnya adalah kondisi lighting pada saat itu. Cahaya matahari pagi (sekitar jam 7 pagi) bersinar miring sekali, sehingga mengenai bunga dengan sempurna (lihat bayangan putik bunga pada kelopaknya), tetapi tidak di area kolamnya.

Hal ini membuat bunga ter-exposed sempurna, sementara bagian background gelap. Yup, gelapnya bukan karena burning di photoshop, melainkan karena kondisi pada saat itu memang demikian adanya.

Selain itu sinar matahari yang sangat miring di pagi hari ini membuat cahaya sangat lembut. Seperti saya sebutkan sebelumnya, bunga butuh cahaya yang sangat diffused dan lembut untuk mengeluarkan karakternya. Terlalu terik / direct akan membuat bunga terasa kurang lembut. Dan dengan demikian kurang terasa sebagai bunga layaknya.

Teknis 5d Mark II + Carl Zeiss Flektogon 35mm f2.4 @ f2.4 | Av Mode | Faithfull 9020 Picture Style | Daylight White Balance

 

The Last Small Flower

Bisa menebak lensa yang digunakan? Bukannn, bukan CZ lagi. Ini di ambil pakai lensa 100mm macro. Lensa CZ 35mm hanya bisa melakukan pembesaran makro sampai dengan 1:2 .. sementara lensa makro canon bisa sampai 1:1 – salah satu sebab belum pindah ke CZ dalam hal lensa makro.

Ini sebabnya bunga yang diameternya hanya sekitar 1 cm ini bisa di foto dengan ukuran yang terlihat besar. Tapi memotret makro mengakibatkan dof yang sangat sempit. Salah sudut sedikit maka bunga ini tidak bisa tajam sempurna seluruh bagiannya. Walau sudah menggunakan f16 sekalipun.

Jadi cara yang diambil adalah dengan memotretnya dalam posisi sejajar. Artinya, bidang yang akan di foto (bunga tampak atas) sejajar sepenuhnya dengan bidang sensor. Ini pula sebabnya kenapa bunga ini diambil dari posisi tegak lurus di atas seperti ini. Demi memaksimalkan dof nya.

Akibatnya? Seluruh putih dan kelopak bunga bisa tampil sempurna tajamnya. Tidak out-of-focus.

Teknis 5d Mark II + EF 100mm f2.8 L IS Macro | Av Mode @ f7.1 | Faithfull 9020 Picture Style | Daylight White Balance 

 

Selamat tahun baru … selamat membuat karya baru di tahun ini MY-ers


3 thoughts on “A Flowery Year ….”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *