Breaking News …

Saat ini web motoyuk dijalankan dengan dana pribadi karena tidak adanya donasi dan kas. Google advertising juga tidak memadahi karena hanya sekitar Rp 3.000 / hari. Shortage yang terjadi sampai dengan hari ini mencapai Rp 900.000, oleh sebab itu setelah masa hosting berakhir ada kemungkinan website ini akan di tutup. Komunikasi akan berlanjut via FB Group, offline dan buku.

Sumbang saran dipersilahkan.

Lensa Fuji yang Mana?

Setelah post body kamera Fuji yang mana, saya mau ulas sedikit mengenai lensa yang mana untuk kamera fuji yang di beli. Ini tentunya bukan rekomendasi teknis berdasarkan chart dll, lebih ke pengalaman saya dengan beberapa lensa Fuji yang saya gunakan dan juga genre saya. So kalau MY-ers beda genre tentu saja bisa punya preference yang berbeda.

Sejauh ini lensa dengan X Mount yang saya miliki (hasil konversi dari seluruh koleksi Canon saya sebelumnya) :

  • Fuji XF 10-24mm f4 R OIS
  • Fuji XF 18-55mm f2.8-4 R LM OIS
  • Fuji XF 55-200mm f2.5-4.9 R LM OIS
  • Fuji XF 23mm f1.4 R
  • Fuji XF 27mm f2.8
  • Fuji XF 35mm f1.4 R
  • Fuji XF 56mm f1.2 R
  • Samyang Fish Eye 8mm f2.8 MK2

Sedangkan koleksi lensa tua untuk keperluan moto manual focus dengan metabone speed booster saya fokuskan pada lensa Canon FD. Hal ini supaya saya cukup punya 1 adapter speed booster saja. Lebih hemat. Sejauh ini ada 3 lensa : FL 55mm f1.2, FD 50mm f1.4 SSC dan FD 135mm f2.

new fuji lenses Lensa Fuji yang Mana?

Ada juga lensa makro dengan adapter biasa, Nikon 105mm f2.8 Micro (seri yang lama, dimana bilah aperture di atur di body lensa), dan lensa Zeiss Flektogon 35mm f2.4.

Continue reading

Kamera Fuji yang mana?

Ada banyak MY-ers yang nanya ke saya mengenai kamera Fuji yang mana yang sebaiknya dipilih kalau mau coba / hijrah. Daripada mengulang berulang kali, so lebih baik saya tulis saja mungkin ya.

Ganti lensa vs Gak Ganti Lensa

Fuji punya 2 kategori besar terlebih dahulu, yaitu kamera yang bisa ganti lensa dan yang gak bisa ganti lensa. Ini tergantung kebutuhan, kalau suka yang enteng ya gak ganti lensa, karena sudah pasti ukuran lebih kecil. Tapi kalau mau fleksibel ya cari yang bisa ganti lensa.

Yang gak bisa ganti lensa ada yang ukuran sensor kecil : X10, X20 dan X30 – dan ada yang ukuran sensor mirip DSLR : X100, X100s dan X100T. Gua gak akan bahas yang kelompok ini.

Buat yang ganti lensa contohnya adalah : XA1, XM1, XPro1, XE1, XE2, XT1

X index Kamera Fuji yang mana?

 

Image Quality & Tonal

Image quality tergantung pada sensor yang digunakan. Sampai saat ini ada 3 kelompok sensor yang digunakan oleh Fuji :

  1. CMOS : digunakan di XA1
  2. XTrans1 : digunakan di XM1, XPro1, XE1 – adalah sensor khas fuji dengan ketajaman yang mumpuni karena di hilangkannya anti alias filter. Ini adalah sensor fuji yang terkenal itu.
  3. XTrans2 : digunakan di XE2 dan XT1 – ini image quality sih sama dengan XTrans1, kurang lebih lah, perbedaan utama bukan di tonal ataupun image quality. Tetapi XTrans2 sudah menggunakan teknologi yang membuat auto focus lebih cepat.

So dari segi image quality bisa dibilang kecuali XA1 (which is also good) kurang lebih sama saja. Tonal bahkan tidak bisa dibedakan antara menggunakan XE1 atau XT1. Buat saya ini sebenarnya nilai tambah, karena saya bisa motret dengan 2 body berbeda tetapi menghasilkan signature tone dan sharpness yang kurang lebih sama.

Continue reading

Poster CSR

Kebetulan ikutan program CSR kantor untuk membantu sekolah di daerah “tertinggal” di Marunda. Walau lokasinya sangat dekat dengan Tanjung Priuk (dan kelapa gading, sunter, dll) tetapi sekolah ini relatif berkekurangan. Memprihatinkan sebenarnya melihat kesenjangan sosial yang ada.

15036926347 83e28cf69d z Poster CSR
Fuji X Pro1 + XF 56mm f1.2 – wide open @ f1.2 – iso & shutter speed auto – film simulation : BW with Yellow Filter.

 

Foto di atas di peroleh dengan tidak sengaja / candid. Pada intinya kita harus siap beraksi … dalam acara ini saya mendapatkan tidak kurang dari 50 foto, tapi yang beneran pas ya cuma 1 ini.

Salah satu trik saya supaya siap adalah melakukan setting sebelum kita memasuki area. Terbayang dulu scene utama yang bakal di hadapi apa, lensa apa yang cocok, setting seperti apa yang cocok. Jadi pada saat momen terjadi kita tidak sibuk setting.

Menggunakan auto iso juga bisa membantu, dengan auto iso maka kamera akan memastikan shutter speed yang dibutuhkan di capai. Walau dengan harga iso tinggi = noise. Tapi saya lebih baik noise daripada gak dapat momen. Di beberapa kamera auto iso juga bisa dibatasi minimal shutter speed mau berapa, ini sangat membantu untuk mendapatkan human interest photo yang sharp. Paling tidak set supaya mendapatkan speed 1/125 secs.


Banner

Travel Photography : Takayama-Shirakawa Go, Japan

Kebetulan saya memperoleh kesempatan untuk sekali lagi travel ke Jepang, Osaka lebih tepatnya, karena urusan pekerjaan. Tentunya sebelum ngurusin kerjaan saya senggangkan waktu untuk mengunjungi area yang belum saya sempat kunjungi dalam trip ke Osaka-Kyoto-Nara di bulan Maret-April lalu.

14966413327 d66f65ae00 z Travel Photography : Takayama Shirakawa Go, Japan
Pemandangan yang bisa dinikmati dari Hotel Intercontinental Osaka – tempat saya kebetulan menginap. Ini di jepret dengan menempelkan kamera ke kaca dan tentunya mematikan semua lampu di kamar.

 

Dalam tulisan ini saya akan bahas beberapa tips yang mengiringi perjalanan kali ini. Berhubung singkat, maka tips ini bisa digabungkan dengan perjalanan yang lebih panjang.

 

Penginapan & Tur

Untuk penginapan saya memesan jauh jauh hari Hostel yang sempat saya gunakan sebelumnya (buat yang belum paham bedanya hostel dan hotel, tolong googling dulu). Saya gunakan J-Hoopers Hostel di Osaka sebagai base, dan J-Hooper Takayama sebagai tempat singgah saat di Takayama.

Saran saya adalah pesan langsung via email jauh jauh hari. Selain lebih murah, ini juga mempermudah komunikasi dengan pihak hostel. Pembayaran dilakukan saat kita sampai di hostel, baik menggunakan cash maupun credit card.

15079183642 473d204ab7 z Travel Photography : Takayama Shirakawa Go, Japan
Benteng Osaka selalu asyik untuk dinikmati – saya gunakan Lee Big Stopper ND Filter (9 stop) untuk menambah dramatisasi area ini. MY-ers bisa menemukan lokasi ini di pintu utama (depan) dari Osaka Castle.

 

Saya travel sendirian, oleh sebab itu saya gunakan jenis kamar Mixed Dorm. Artinya kamarnya gabung dengan beberapa orang lain dan beda gender (walau umumnya jatuh2nya sih cowo). Selain lebih hemat, jenis kamar ini juga membuat saya bisa berkenalan dengan rekan traveller lain (dalam trip ini saya kenalan dengan traveller dari Spanyol, Korea Selatan dan UK). Harga per orang / hari untuk Mixed dorm sekitar Rp 250.000 …. harga yang sangat terjangkau untuk di Jepang.

Untuk menghindari kerepotan saya sewa handuk disana, cuma sekitar 70 Yen, murah lah … daripada repot dengan handuk basah. Sedangkan baju juga saya bawa seadanya, karena saya bisa mencuci dan mengeringkan baju di hostel, cukup dengan biaya 300 Yen. Daripada tas penuh dengan baju?

15165813045 18dc555acc z Travel Photography : Takayama Shirakawa Go, Japan
Shirakawa Go adalah perkampungan yang menjadi UNESCO World Heritage. Bangunan khas nya sudah berumur ratusan tahun, dikenal dengan nama Gosho Style. Tiap musim shirakawa go memukau dengan wajahnya yang berbeda. Hijau bersemi adalah wajahnya saat summer. Ini adalah pemandangan dari Vantage Point / Gardu Pandang. Sekitar 1 km dari dusun tersebut.

Continue reading

Alternatif lensa portrait untuk mirrorless – Canon FD 135mm f2

Buat penggemar lensa tele dengan bokeh (bukaan lebar) maka kamera mirrorless mungkin memiliki sedikit “keterbelakangan”. Selain karena DOF yang relatif sempit sehingga agak lebih susah menciptakan bokeh, juga lensa yang dibutuhkan tidak semuanya tersedia.

Hal ini wajar, mengingat mirrorless baru saja muncul di permukaan. Belumlah selama DSLR dan belum “mature” betul sistemnya – dalam arti belum banyak pilihan juga.

Belakangan Fuji (yang kebetulan saya gunakan) muncul dengan lensa 56/1.2 – ini lensa portrait, setara dengan sekitar 85mm f1.8. Lensa ini enak dipakai, tapi tetap saja kadang kita butuh yang lebih tele lagi untuk isolasi background sesuai dengan konsep yang kita mau. Sayangnya lensa 90mm (yang setara dengan 135mm) masih belum tersedia.

fd135mm2  Alternatif lensa portrait untuk mirrorless   Canon FD 135mm f2

Semenjak awal saya memang sudah berniat untuk investasi di lensa wide aperture Canon FD dan FL. Tentunya di combine dengan Metabone Speedbooster. Kenapa Canon FD/FL ? Simply karena pasokan masih banyak, pilihan juga banyak dan harganya masih “masuk akal”. Kalau saya pilih misalnya Leica R, atau Zeiss maka harganya pasti fiuhhhhhh buat mengumpulkan lensa lensa wide aperture ini.

Lensa Canon FD 135mm f2 ini relatif agak langka. Tetapi saya berhasil memperolehnya dari Jepang (via ebay). Harganya sekitar 4jt – relatif murah dibandingkan dengan saudaranya EF 135mm f2 – hahaha. Sedangkan biaya metabone speed booster saya anggap sharing cost dengan lensa Canon FD / FL lain yang saya miliki. Continue reading

%d bloggers like this: