Oz … here i come !!!

Pergi ke Australia sebenarnya impian sekitar 12 tahun lalu, pada saat baru selesai kuliah dan ingin dapat bea siswa S2 kesana. Maklum, bukan orang kaya :) so sudah menetapkan hati harus via beasiswa. Tapi nampaknya nasib mengaturnya lain …. tidak via beasiswa, melainkan setelah bertahun tahun kemudian, via business trip. Lebih tepatnya assignment selama 3 bulan disana (29 May – 28 Aug 2015).

So kurang lebih 3 bulan ke depan, saya akan post mengenai travel journey di sana. Rekomendasi dan juga tentunya photo spot yang saya datangi. Semoga bisa jadi referensi juga buat MY-ers lainnya. Keseluruhan artikel akan di gabungkan dengan Tag artikel “OzTrip”

Untuk perjalanan ini peralatan yang akan saya bawa adalah sebagai berikut, tentunya tidak semua di bawa setiap trip disana :

  • Fuji XT1
  • Fuji XPro1 (sebagai secondary body)
  • Sony RX1 (sebagai day to day camera)
  • XF 10-24
  • XF 18-55
  • XF 55-200
  • XF 56/1.2 (sisa lensa fuji lain masih dipikir, tergantung bobot nanti)
  • Samyang 8mm FishEye
  • Samyang 100mm Macro (semoga sudah available) — atau Nikon 105mm Micro with adapter
  • GND Filters dengan Adapter dan holder
  • Lee Big Stop ND
  • CPL Filter
  • Benro Carbon Tripod
  • Joby GorillaPod

Lokasi incaran pertama di 6-8 Juni (kebetulan long weekend) adalah Pulau Tasmania. Sekitar 1 jam 45 menit penerbangan ke Launceston, yang merupakan kota kedua terbesar disana dan gerbang menuju area wilderness utara.

Beberapa area yang sudah di incar adalah : Bay of Fire, Dove Lake Cradle Mountain dan juga tentunya sekitar Launceston sendiri. So, wait for the adventure :)

PS : buat yang tanya soal visa AU, kebetulan jenis visa saya berbeda karena visa kerja singkat (3 bulan). Oleh sebab itu prosesnya berbeda dan lebih lama, akan tetapi kalau visa liburan sangat mudah prosesnya. Check : VFS Website untuk detilnya 


Sony RX1 — a user perspective

Sony RX1 adalah kamera pro-sumers berukuran sedikit lebih besar dari kamera pocket dengan lensa fix 35mm f2, tidak bisa ganti lensa. Yang unik adalah kamera ukuran mungil ini memiliki sensor full frame, yang menjanjikan foto bersih noise di iso tinggi dan juga DOF yang mantap.

Penggunaan lensa Carl Zeiss 35mm f2 juga menjanjikan warna yang warm khas zeiss, dan 3d pop. Tentunya ketajaman prima juga.

Tapi bagi saya sebenarnya notes di atas good saja, bagi saya yang penting adalah mungil + mumpuni sehingga bisa di bawa setiap hari. Ya, kamera ini memang saya bawa setiap hari, kerja dan jalan. Karena saya yakin ada saja momen yang saya bisa foto.

checking my schedule

Momen di atas misalnya saya foto saat keluar dari kamar kecil di airport setelah landing di Changi. Momen yang hanya split second rasanya. Kalau kamera masih di tas, atau bahkan di rumah, ya jelas gak dapat momen ini.

Atau momen di bawah yang di dapat pas jalan mau makan malam. Walau bawa mirrorless pun saya malas bawa kamera kalau cuma rencana mau makan malam saja hahaha. Tentunya ini semua tidak berlaku buat MY-ers yang pada rajin bawa kamera setiap hari walau itu DSLR atau mirrorless ya.

Romantic Chat

So, bagaimana kesan saya tentang kamera RX1 ini? Apakah worthed? Sebagai kesimpulan saja …. kalau dapat harga second diskon an lumayan + memang niat di bawa bawa setiap hari sih worthed banget. Tapi kalau beli baru dengan harga yang ajigile itu sih gak worthed … banget !!

Ergonomi : kamera ini mungil, so grip memang terbatas. Bisa kita tambahkan grip tambahan yang jelas akan bikin pegangan jadi enak banget, tapi ya jadi gendut. Saya sendiri pakai apa adanya, gak pakai grip tambahan. Gak senyaman mirrorless apalagi dslr, tapi work alright dengan mungilnya.

Continue reading Sony RX1 — a user perspective

Film Simulation

Sama halnya dengan Picture Style di Canon dan Picture Control di Nikon, adalah Film Simulation di Fuji. Prinsipnya sama, mengatur warna, kontras dll sehingga JPEG yang dihasilkan sudah setengah jadi post pro nya.

Ini merupakan kumpulan dari artikel di FB FujiWorld mengenai Film simulation … saya bukan penterjemah, jadi silahkan gunakan google translate buat yang bingung dengan bahasa inggris nya :)


If you shoot with a digital camera and are serious about photography, chances are that you shoot in RAW format. RAW is flexible and therefore undeniably a very attractive option. But if you own a FUJIFILM camera, put that thought on the side for a second. You may be wasting just about half of the camera’s potential.

First of all, the color reproduction is not just a “tendency” for FUJIFILM cameras, but rather a “world of its own” to put it more correctly. It does not just look “vivid” or “soft”. They are in their own world of color reproduction of “Velvia” and “ASTIA”.

When you shoot a photo, you would first look at the subject. It can be anything from “autumn leaves” to “person”. And you would set it to “Vivid” or “Soft” depending on the subject. You may be happy with the result if the autumn leaves appear vivid or the skin appears soft.  At the same time, you may be unsatisfied with the result, but think that “it can be edited later” if they were shot in RAW.

If you use FUJIFILM camera, your style of photography can be a bit different. How would the autumn leaves or the person appear if they were shot in Velvia? How would they appear if they were shot in ASTIA?

11046604_839072869498851_6621604002451851846_n

This is the fundamental idea of FUJIFILM’s approach to color reproduction and photography. We regard the time you spend shooting very important.

And as the FUJIFILM cameras are mirrorless, you can check the final image before the shot is taken. You can preview the world of Velvia and ASTIA.

Continue reading Film Simulation

in Camera HDR

Fitur baru yang sedang saya uji coba di Sony RX1 (yea, saya mulai menggunakannya untuk day to day carry camera + street) adalah in camera HDR. Fitur ini memungkinkan kamera secara otomatis mengambil beberapa gambar dengan exposure berbeda, menganalisa nya, lalu mengatur supaya dynamic range nya menjadi lebih baik.

So far saya baru mencoba fitur HDR dengan perbedaan exposure Auto. Tetapi RX1 (dan saya rasa semua sony terbaru) memiliki pilihan dari 1 – 6 EV stop. Secara bertahap saya akan tambahkan koleksinya nanti.

Image di bawah di hosting di FLICKR, dan merupakan full resolution image, in case mau membandingkan pixel level — walau saya rasa tidak terlalu berbeda signifikan, kecuali di yang HDR sony membubuhkan sharpening.

Foto di atas adalah tanpa HDR, di bawahnya dengan HDR di aktifkan.

KGP non HDR

KGP HDR
CP non HDR
CP HDR
Pancoran non HDR

Pancoran HDR

Fuji X sharing session (25 April)

UPDATE :

Lokasi pindah ke Kopi OEY di kota wisata cibubur (PETA) — saya akan ada di lokasi semenjak jam 8 pagi, so buat yang mau datang lebih awal / mau update firmware / mau cuci mobil sekalian, silahkan datang awal

11037181_10205059116132184_2744198224877715926_n

———————–

Buat teman teman pengguna Fuji (atau yang berminat tahu soal Fuji X), saya dan beberapa teman akan bikin sharing session soal Fuji X. Di sesi ini kita akan diskusi mengenai fitur yang bisa di optimized, setting yang sering digunakan dan trik lainnya.

X_index

Selain itu buat yang mau update firmware kamera dan lensa Fuji nya juga bisa melakukannya. Beberapa lensa juga akan saya bawa untuk uji coba. Buat yang berminat silahkan merapat di event gratisan ini :

  • Hari / Tanggal : 25 April 2015 – 09.00 – 13.00
  • Lokasi : Kopi OEY Kota wisata cibubur
  • Contact person : Edo / 0812 9393 779 – whatsapp or iMessage

Thanks

JUST PUBLISHED – MotoYuk Core Series : Landscape Edition

“MY Photography Series” adalah kumpulan buku seri fotografi yang dibuat oleh motoyuk.com. Sampai saat ini sudah ada lima buku yang diterbitkan dalam seri ini. Mulai dari Basic Photography (f5.6 – Getting Smart with Photography), dua buah buku Compendium yang merupakan contoh-contoh kasus dan foto, Dancing with Perspective – f8 – Memahami Fotografi Arsitektur dari A ampai Z, dan tentunya buku ini.

Dalam buku “f16 – Memahami Landscape Photography dari A sampai Z” ini akan dibahas mulai dari :

  • Teknik: mulai dari setting yang harus digunakan, teknik hyperfocal, dll.
  • Komposisi: bagaimana memilih komposisi yang tepat dan benar dalam pemotretan lanskap.
  • Peralatan: panduan lengkap pemilihan kamera, lensa, filter, tripod, dan tentunya tip penggunaannya.
  • Post processing: apa saja yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas hasil foto kita.
  • Tip praktis: berbagai tips praktis hasil dari pengalaman memotret lanskap saya selama ini.
  • Dan tentunya banyak contoh mengenai fotografi lanskap.

LanskapSemuanya untuk membantu Anda menghasilkan foto lanskap yang lebih baik lagi. Baik Anda yang baru akan memulai atau sedang mengembangkan lebih lanjut fotografi lanskap, akan mendapatkan sesuatu yang baru di buku ini. Buku ini layak untuk jadi panduan lengkap Anda untuk fotografi lanskap.

Link belanja online : http://www.gramediaonline.com/moreinfo.cfm?Product_ID=898433

Harga : Rp 89.800 (diskon 15% di toko online)


Slow Shutter Anyone?

Kebetulan minggu lalu dapat kesempatan untuk business trip ke Singapore. Saya sudah ke singapore beberapa kali, so agak bingung mau motret apalagi. Tapi kebetulan teman dari Ausie belum pernah, so pikir pikir tidak ada salahnya ke tempat yang “sama”. Alhasil kita menuju area Marina Sands Bay (lagi).

Nature vs Man MadeVery low angle ... hampir nempel ke air dan si bunga teratai | Fuji XT1 dan Samyang Fish Eye 8mm

Yang unik dari Singapore adalah mereka selalu memperbaharui hiasan di lokasi wisata mereka. Seperti di museum di dekat Marina Sands Bay ini, kali ini mereka baru saja menanam banyak sekali bunga teratai dan sedang berbunga. Terpikirlah untuk mengambil angle seperti di atas. Fish Eye membantu karena tanpa fish eye bangunan nya terpotong, atau bunganya kecil (kalau agak jauh).

Kebetulan kita bisa masuk sampai di bawah museum, dan kita mendapatkan view yang sangat menarik. Sudah kita bayangkan pada saat sunset pasti menarik, so sembari jalan jalan kita menunggu sunset yang baru datang sekitar jam 19.00 local time.

Saat akhirnya sunset datang saya gunakan posisi low angle untuk mendapatkan posisi bunga teratai yang pas. Tripod tentunya diperlukan, dan GND Soft Edge 0.9x juga.

Nature vs Man MadeFuji XT1 + XF 10-24mm - f11 iso200 1/50secs - Velvia

Berkarakter dengan awan awannya, tapi saya ingin riak air di permukaan kolam hilang, dan juga awan lebih lembut. So teknik slow shutter saya coba. Karena saya gunakan Big Stopper ND (10 stop) maka saya bisa push sampai 6 menit exposure (cara hitung lihat cara penggunaan ND filter di web ini juga). Tapi ND filter kadang agak under kalau pas dengan hitungan, so saya lebihkan menjadi 340 detik.

Continue reading Slow Shutter Anyone?

Happy Bday MotoYuk ….

Acara ultah motoyuk berlangsung meriah dan sangat menyenangkan. Selain dapat ilmu baru yang variatif (mulai dari studio lighting, makro, flower photography, travel, architecture .. juga sharing pengalaman lomba foto), yang paling penting adalah ketemu dengan keluarga motoyuk.

MY4

MotoYuk bukan komunitas fotografi, motoyuk adalah keluarga. Tidak ada yang senior, tidak ada yang junior. Semua adalah anggota keluarga.

Continue reading Happy Bday MotoYuk ….

MY Photography Series Books

Screen Shot 2015-02-15 at 10.06.10 AM

Sampai saat ini 2 kategori buku MotoYuk Photography Series sudah beredar :

  • Core Series : isinya lebih serius, lebih banyak teks tentang teori dan tips trik menarik suatu genre. Basic-Advance + Architecture sudah terbit
  • Compendium Series : isinya lebih ringan, ini merupakan compendium / pendamping core series. Isinya lebih banyak foto dan contoh beserta tips spesifik. Asyik buat bacaan ringan

Dalam waktu dekat keluarga photography series ini akan bertambah dengan core series mengenai Landscape Photography

Lanskap

So, sudah koleksi buku buku motoyuk?

MY Articles : Balance Composition, By : Tedy

Seimbang atau balance dalam sebuah komposisi tidak sama dengan harus simetris. Simetris pasti balance, tetapi balance tidak selalu simetris. Simetris adalah permainan bidang yang seimbang antara sisi kiri dan kanan.

Dalam dunia seni rupa dikenal dua konsep kesimbangan yaitu konsep simetris dan asimetris. Simetris tentunya lebih formal dengan konsep titik sumbu di tengah membagi dua sama rata dan sama berat, komposisi simetris lebh mudah dipahami oleh pikiran kita karena secara kodrati manusia sendiri terlahir simetris.

82

Simetris ini berlaku utuk objek2 arsitektur jaman tradisional, contohlah istana raja2 cenderung bangunan nya simetris antara sisi kiri dan kanan. Penerapan dalam photography tentunya mudah untuk bangunan seperti ini, Anda tinggal menuju di titik tengah membagi dua bidang kiri dan kanan lalu capture it…. aman dan mudah. Simple sekali. Secara teori ini mengakibatkan bangunan menjadi lebih cenderung monoton, terbatas dan agak kaku. Komposisi keseimbangan akan menjadi dinamis ketika Anda merubah angle terhadap gedung yang foto menjadi angle membentuk perspektif 2TH.

Continue reading MY Articles : Balance Composition, By : Tedy

%d bloggers like this: